Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Kehilangan


__ADS_3

Aku masih terdiam seraya menatap punggung Nara yang menjauh. Aneh, kenapa rasanya benar-benar aneh? Harusnya aku senang melihat sikapnya yang berubah dan tak seperti biasa yang agresif padaku. Harusnya aku tak perlu repot-repot membuat dia menjauh, bukankah keinginanku adalah mengakhiri pernikahan ini? Namun, kenapa serasa ada sesuatu yang hilang dari rongga dadaku? Kenapa ada sesuatu yang tak beres saat melihat raut wajah Nara seperti tadi?


"Kamu kenapa berubah, Ra?"


Aku ingin Nara seperti biasa yang ramah dan hangat. Sikapnya yang lembut dan selalu menyambutku setiap pagi. Harusnya aku merenung karena pengkhianatan Mona dan Ikmal tetapi kenapa malah patah hati karena sikap dingin istriku?


Aku berjalan menuju mobil. Kunyalakan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi. Bayangan wajah Nara masih terngiang di kepalaku. Sial, kenapa jantungku berdegup kencang saat mengingat senyumnya tadi malam? Pertama kalinya aku memeluk istriku setelah kami menikah dengan posisi intim. Kami tak pernah benar-benar dekat sebagai pasangan suami istri. Bahkan untuk saling sapa saja hampir tak pernah karena sikapku yang terlalu dingin pada Nara.


Sampai di rumah sakit aku langsung turun dan seperti biasa sudah di sambut hangat oleh para dokter yang bekerja di rumah sakitku.


Aku masuk ke dalam ruangan. Wajahku tak seperti biasa yang berkarisma dan di kagumi banyak orang. Wajahku menunjukkan kerapuhan dan kepatahhatian.


"Pagi, Mas Bintang." Pagi-pagi Bee sudah datang ke rumah sakit, mau apa dia?


"Ada apa?" ketusku duduk di kursi kebesaran.


"Yaellah, Mas. Cuek amat," protes Bee seraya duduk di kursi depan ruanganku.


Aku memutar bola mata malas dan tak peduli pada godaan adikku ini. Bee adalah saudara satu ayah beda ibu. Walau kami tak serahin tetapi aku begitu menyayangi adikku yang bawel yang berisik ini. Bee membuka beberapa cabang butik di beberapa kota dan cabang serta berkembang cukup pesat dan di minati oleh para pencinta gaun-gaun di sini.


"Ada apa ke sini?" tanyaku cuek.


"Mas, maaf ya. Bukan Bee mau ikut campur masalah Mas dan Mbak Nara, tetapi beberapa hari yang lalu. Bee lihat Mbak Nara bersama Kak Rimba, Mas," jelas Bee.


Aku mendelik mendengar penjelasan Nara dan bingung apa yang di ucapkan Bee.


"Rimba?" ulangku


"Iya, Mas. Itu lho yang satu kelas sama Mas dulu," sahut Bee menjelaskan.

__ADS_1


Aku terdiam sejenak dan tampak mengingat nama tersebut. Semalam Nara juga menyebut nama yang sama yaitu Rimba.


"Ada hubungan apa mereka?" tanyaku seperti tak suka. Tiba-tiba hatiku panas saat mendengar Nara dekat dengan Rimba.


Iya, aku baru ingat jika Rimba adalah teman SMA-ku dulu. Kami sama-sama anak basket dan siswa berprestasi di sekolah. Namun, sudah lama aku tak bertemu dengan dia. Dulu dia dan Nara memang akrab dan dekat, entahlah aku tidak tahu hubungan mereka sedekat apa?


"Ketemu mereka di mana?" Perasaanku ketar-ketir.


"Kemarin di caffe-nya Mbak Nara, Mas," jawab Bee.


Keningku kembali mengerut, "Cafe Nara?" ulangku sekali lagi.


"Lho, memangnya Mas tidak tahu kalau Mbak Nara itu memiliki banyak cafe?" tanya Bee yang tampak heran.


Aku menggeleng tidak tahu. Selama ini aku selalu tak peduli apa yang di kerjakan oleh Nara. Bagiku apapun yang dia lakukan bukan urusanku lagi.


Mulutku langsung bungkam. Pantas saja Nara menolak setiap kali ku beri uang ternyata dia seorang pengusaha. Aku tak pernah tahu jika istriku sehebat itu. Aku pikir Nara pengangguran dan tak memiliki pekerjaan. Sekarang aku paham kenapa wajahnya selalu terlihat lelah saat datang ke rumah.


"Mas, hubungan Mas sama Mbak Nara bagaimana sih, Mas? Apa benar Mas masih berhubungan dengan Mbak Mona?" cecar Bee. "Bee tidak sengaja melihat Mas dan Mbak Mona waktu itu di restaurant. Mas harus hati-hati nanti kalau Ayah sama Bunda tahu mereka bisa marah besar," ungkap Bee.


Aku semakin terkejut, apa selama ini banyak yang melihat kedekatanku dan Mona?


"Mas, kenapa diam?" tanya Bee.


"Tidak apa-apa," kilahku memalingkan wajahku kesembarangan arah. Mendengar nama Mona kembali menyesakkan dada.


"Mas, Bee hanya mau bilang sama Mas. Tolong jaga Mbak Nara, jangan sampai Mas kehilangan dia karena Mbak Mona. Mas akan menyesal nantinya karena kehilangan wanita yang mencintai Mas dengan tulus. Mbak Nara itu wanita baik, dia tidak akan selamanya menaruh rasa pada Mas. Bisa saja dia lelah laku menyerah. Apa Mas siap kehilangan Mbak Nara?"


Deg

__ADS_1


Satu pertanyaan sederhana tersebut tetapi mampu membuat hatiku berdesir hebat. Kehilangan Nara? Apakah aku siap? Jika dulu aku tidak peduli pada apapun tentang Nara, tetapi kenapa sekarang rasanya aku tidak sanggup kehilangan dia? Aku tidak tahu kenapa perasaanku seperti ini. Apakah karena pengkhianatan Mona atau memang aku sudah memiliki rasa pada istriku tersebut.


"Iya sudah, Mas. Bee pulang dulu ya," pamit Bee.


"Ehh tunggu, di mana alamat cafe Nara?" tanyaku.


"Caffeine Stories," jawab Bee.


Aku terkejut, bukankah cafe ini sering aku datangi bersama Mona? Cafe besar dan terkenal di kota Pontianak yang memiliki beberapa cabang di tempat lain.


"Caffeine Stories?" ulangku.


"Iya, Mas," sahut Bee. "Ya sudah Bee pamit dulu. Masih banyak pekerjaan di butik. Noh tadi sarapan pagi dari Bunda. Mas pasti belum sarapan?" tebak Bee.


"Kok tahu?" keningku mengerut curiga.


"Tahulah, wajah Mas itu kelihatan lapar sekali," sindir Bee terkekeh lalu melenggang keluar dari ruanganku.


Aku menghembuskan nafas kasar serta mengusap wajahku. Ada banyak hal yang tidak aku ketahui tentang istriku sendiri. Suami macam apa aku ini yang bahkan tidak tahu siapa istriku?


"Maafkan aku, Nara. Aku tidak mau kehilangan kamu."


Mengingat kata-kata Bee tadi membuatku sedikit panik dan khawatir jika akhirnya Nara dan Rimba menjalin hubungan. Aku tidak bisa kehilangan Nara. Jika di tanya apakah aku mencintainya? Aku tidak tahu yang jelas aku tidak mau kehilangan dia. Saat melihat sikapnya yang tak ramah seperti biasa saja membuat jantungku berdenyut sakit. Lalu bagaimana jika dia benar-benar menjadi milik orang lain?


"Caffeine Stories." Aku masih mengingat nama cafe ini.


Nara, istriku. Aku tak pernah tahu siapa dirinya. Kebencianku karena perjodohan ini membuat aku gelap mata dan tega memasukkan orang ketiga dalam hubungan rumah tangga kami. Lalu sekarang aku di tampar oleh kenyataan bahwa kekasih hati yang aku banggakan itu ternyata menduakan cinta yang ku bangun dengan susah payah. Apakah ini hukum karma?


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2