
Naro POV.
Aku masih memeluk pinggang kekasihku dengan agresif. Jantungku berdebar saat melihat kedatangan Anggi tadi, jangan sampai dia mengatakan tentang Sherly pada Daddy dan Mama. Untung saja adik sepupuku itu sepertinya percaya.
"Sayang, aku tidak sanggup jauh dari kamu," renggekku manja.
"Sayang, aku juga tidak lama. Paling hanya dua atau tiga minggu," jawab Sherly.
Kekasihku ini memiliki yayasan yang baru dia bangun di pulau Jawa dan Kalimantan. Hari ini dia akan meninjau beberapa lokasi untuk pembangunan panti asuhan yang baru. Sifatnya yang lemah lembut membuatku seperti tak ingin melepaskannya.
"Tapi kamu jangan lupa kabarin aku ya," ucapku memeluknya dengan sayang. Sudah lama aku mengincar wanita baik hati ini, tetapi baru sekarang aku bisa meluluhkan hatinya.
"Iya. Kamu juga. Awas jaga mata dan hati, jangan sampai kamu jatuh cinta sama wanita murahan itu," ucap Sherly memperingatkan aku.
Aku tertawa lebar mendengar ucapan dari kekasihku ini. Aku bahkan tidak ada niat membuka hati untuk wanita yang hamil anak dari pria lain tersebut.
"Iya sudah aku berangkat ya." Sherly mengecup bibirku sekilas. Aku sempat terkejut tetapi akhirnya tersenyum.
"Iya, Sayang. Kalau sampai kabarin ya."
Aku melambaikan tangan saat Sherly masuk ke dalam pesawat. Ahh, rasanya tak sanggup jauh dari kekasihku tersebut. Walau hubungan kami masih baru tetapi dia berhasil membuka hati yang selama ini aku titip rapat.
Aku masuk ke dalam mobil. Kenapa aku malah teringat pada tatapan mata Ariana tadi. Wajahnya pucat, dia seperti menahan sakit. Ah sudahlah, lagian bukan urusanku.
Kunyalakan mesin mobil lalu melajukan dan meninggalkan bandara. Siap, kenapa aku malah membayangkan wajah wanita murahan itu? Bagaimana aku tak marah saat Daddy dan Mama memintaku menikahi Ariana. Wanita yang sudah mengandung anak dari pria lain. Anehnya lagi, Kak Nara dan Mas Bintang ikut menerima wanita itu sebagai istriku, padahal mereka tahu bahwa aku adalah seseorang yang tidak suka di paksa.
Aku sampai di rumah sakit. Entah ada kepentingan apa, tiba-tiba Galaksi meminta aku datang ke sini.
"Ada apa kamu suruh aku datang ke sini?" tanyaku dingin. Hubunganku dan Galaksi memang tidak baik, kami tak punya masalah sebelumnya. Tetapi memang kami tidak saling suka satu sama lain.
Galaksi menatapku dingin. Seolah aku adalah seseorang yang tidak dia suka.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyaku.
"Lepaskan Arin. Biarkan hidup bahagia bersamaku."
Pupil mataku seperti ingin menggelinding keluar dari tempatnya ketika mendengar ucapan Galaksi. Apa maksudnya? Kenapa dia meminta aku melepaskan Ariana agar dia bisa hidup bersama wanita murahan tersebut?
"Apa maksud kamu?" tanyaku. Tanganku mengepal dan rahang yang mengeras, kenapa aku tidak suka mendengar ucapan Galaksi.
"Aku rasa kamu paham apa yang aku maksud," sahut Galaksi. "Aku tahu kamu tidak menginginkan Arin menjadi istrimu. Jika, begitu lepaskan dia. Biarkan aku saja yang menikahinya."
"Apa kamu menyukai Arin?" tanyaku dengan tatapan tajam dan juga dingin, aku tidak suka mendengar ucapan Galaksi.
Galaksi menyunggingkan senyum mengejek kearahku. Lalu dia duduk di kursi kebesarannya dan menatapku seperti hendak melahapku.
"Kamu benar, Naro. Aku menyukai Arin sejak dia menjalin hubungan dengan Mas Angga. Harusnya aku menikahi dia bukan kamu. Hem, aku tidak keberatan menjadi ayah sambung untuk bayi dalam kandungannya. Sebagai seorang pria sejati, aku harus menerima anaknya jika mencintai ibunya."
Tidak, kenapa aku tidak suka mendengar pengakuan Galaksi. Aku memang membenci Ariana karena kehamilannya yang melibatkan aku. Tetapi sebenarnya aku tidak tega setiap kali menyiksanya. Aku hanya sedang meluapkan semua perasaan benci, marah dan kecewa yang ada di dalam dadaku.
"Aku tidak akan melepaskan Arin," jawabku tegas.
"Untuk apa kamu mempertahankan hubungan rumah tangga kalian. Jika kamu tidak mencintai istrimu?"
"Itu urusanku, bukan urusanmu."
Setelah berkata aku keluar dari ruangan Galaksi. Ku pikir ada apa dia memanggilku ke sini ternyata hanya ingin membahas hal yang tidak penting ini. Aku tidak akan pernah melepaskan Ariana walau aku tidak menyukai istriku tersebut.
"Ariana, kamu tidak akan bisa lepas dari aku. Kamu harus menderita sama seperti aku. Aku akan menciptakan neraka untuk kamu."
\* \* \* \* \*
"Kamu ke mana saja?" Aku menatap Ariana tajam dengan tangan yang terlipat di dada.
__ADS_1
"Maaf, Kak. Tadi aku mengantar Anggi ke rumahnya," jawab Ariana menunduk.
Aku tidak tahu apa pekerjaan istriku ini. Entahkah dia bekerja atau pengangguran. Anak manja sepertinya mana bisa bekerja, sejak dulu hidup dalam kemewahan dan tentunya hanya hobby menghabiskan uang.
"Kenapa sampai malam?"
"Tadi ada urusan sebentar, Kak," jawabnya.
Aku paling tidak suka saat berbicara tetapi lawan bicara malah menunduk dan tak mau melihatku. Seolah aku adalah seseorang yang tidak enak dia pandang lewat mata.
"Arin, kalau aku ngomong tatap aku!" Aku mengangkat dagunya dengan tanganku.
Seketika tatapan kami bertemu. Tatapan matanya sendu dan basah. Apa dia selesai menangis? Tetapi bagaimanapun wanita ini mencoba menarik perhatianku, aku akan tetap membencinya.
"Kak, sakit," rintihnyq sembari memegang tanganku yang mencengkram dagunya.
"Apa yang sudah kamu ceritakan sama Galaksi masalah rumah tangga kita?" tanyaku menatap wanita ini dengan kebencian.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud, Kak. Aku tidak mengatakan apapun pada Kak Galaksi," jawabnya.
Aku berdecih, ketika Ariana memangil Galaksi dengan panggilan kakak. Apa mereka seakrab itu? Apa aku yang tak menyadari jika selama ini Galaksi memang mengincar istriku? Oh, hal tersebut takkan aku biarkan sampai kapanpun, kupastikan Galaksi tidak akan bisa mendapatkan hati Ariana.
"Bohong! Kalau kamu tidak mengatakan apapun, Galaksi pasti tidak akan meminta aku meninggalkan kamu," sentakku.
Ariana masih menyangkal dengan gelengan kepala. Buliran bening yang membahasi pipinya tak membuat aku puas. Aku ingin dia merasakan lebih dari ini. Lelaki mana yang akan terima ketika di paksa menikahi wanita yang tidak pernah dia tiduri sama sekali, apalagi di minta menjadi ayah dari bayi yang bahkan tak memiliki hubungan darah dengannya.
"Aku benar-benar tidak tahu, Kak. Aku tidak tahu apa-apa," jawab Ariana. Tatapannya seperti memohon agar aku melepaskan dagunya yang kucengkram.
Entahlah, kenapa aku tak bisa puas menyiksa wanita ini? Rasanya darahku selalu mendesir setiap kali mengingat kalau ternyata dia adalah istriku. Istri yang sama sekali tak pernah aku inginkan.
"Mengaku saja, Arin. Jangan menyangkal. Aku tahu kamu sudah membicarakan tentang rumah tangga kita pada Galaksi." Aku tetao keukeh mengatakan hal tersebut agar dia mau mengakuinya.
__ADS_1
"Aku berani bersumpah, Kak. Aku memang tidak mengatakan masalah rumah tangga kita."
Bersambung...