
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Aku memesan taksi. Benar apa yang Kak Dea katakan aku harus bekerja, sebab biaya hidup terus berjalan setiap hari. Aku juga merindukan Naro, sudah beberapa hari ini aku tak bertemu anak lelaki ku yang paling tampan tersebut. Naro sedang sibuk mempersiapkan diri ikut lomba matematika, antar kesenian kota tingkat sekolah dasar.
Aku bangga pada anakku tersebut, dia tahu bahwa Mama-nya sedang rapuh dan tak berdaya tetapi dia menjadi salah satu alasan untuk tetap menjalani hidup.
Aku langsung ke kantor, karena memang beberapa Minggu terakhir aku tinggal dirumah sakit menjaga Nara, serta membawa pakaian ku disana.
Ku Hela nafas panjang, kenapa rasanya tercekat diantara dadaku. Bagaimana jika Nara harus menjalani operasi jantung dan membutuhkan pendonor? Aku siap mendonorkan jantungku, tetapi apakah akan cocok dengan Nara. Lalu apa yang harus aku lakukan? Tidak ada orang yang mau mendonorkan jantungnya tanpa ada ikatan darah. Apa ada orang yang mau mengorbankan nyawanya demi orang lain? Jelas tidak ada.
Sampai di kantor, aku langsung turun dari taksi dan membayar ongkos. Rasanya sudah lama sekali aku tak menginjakkan kaki disini, padahal baru beberapa Minggu.
"Ara," panggil Mira melambaikan tangannya dan berhambur kearah ku.
"Hei, Mir," balas ku.
"Ara, maaf ya aku belum sempat menjengguk Nara. Mamaku juga sedang sakit, Ra," ucap Mira sendu dan tak enak hati.
Aku tersenyum, "Tidak apa-apa Mir. Bagaimana keadaan Mama-mu?" tanya ku.
"Mama masih dirawat, gula darah nya naik dan kolesterol nya juga tinggi," jelas Mira menghela nafas panjang.
Mira adalah anak bungsu dari dua bersaudara, tentu saja ibu nya sudah berusia. Jadi tidak heran, lansia memang sering menderita penyakit tersebut.
"Ayo masuk," ajak Mira.
Seperti biasa karyawan kantor akan menatap ku sinis. Aku tidak tahu kenapa? Apa karena wajahku yang begitu mirip dengan istri Pak Dante? Tetapi bukan kah aku tak peduli, dengan kemiripan tersebut? Yang jelas aku bukan istrinya Pak Dante, atau almarhum istrinya yang hidup kembali.
"Kamu tahu tidak, Ra? Sejak kamu tidak masuk, Pak Dante itu suka marah-marah tidak jelas. Semua selalu salah di mata dia," ujar Mira menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Aku tidak tahu," jawabku cepat.
Mana aku tahu kenapa dia bisa marah-marah, itu urusan nya bukan urusan ku juga. Masalahku sudah terlalu banyak dan aku tak memiliki kesempatan untuk memikirkan masalah yang lain nya.
Aku dan Mira langsung terdiam ketika Pak Dante masuk kedalam lift menyusul kami.
"Pagi, Pak," sapa kami berdua bersamaan.
"Pagi," jawabnya dingin.
Kemana Pak Dante hangat yang kutemui kemarin. Kenapa dia sekarang benar-benar dingin tak tersentuh? Apa dia sedang ada masalah pribadi?
"Bagaimana keadaan Nara?" tanya Pak Dante.
"Masih dirawat, Pak," jawabku.
Sejak pembahasan kami kemarin masalah almarhum istrinya yang begitu mirip aku, Pak Dante jarang datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Nara. Entah dia yang sibuk atau memang sengaja tak mau menyempatkan diri. Apa Pak Dante takut, jika aku memanfaatkan keadaan ini untuk mendekati pria kaya seperti ku, apalagi Tata menyukai ku dan menganggapmu sebagai ibu nya. Mungkin hal tersebut yang membuat Pak Dante menjaga jarak dengan ku.
Aku bukan wanita penyuka pria kaya. Bahkan dulu ketika menikah dengan Mas Galvin dia tidak memiliki apa-apa karena kedua orang tua nya menarik semua fasilitas yang diberikan. Tetapi aku menemani nya dari nol dan ketika dia mencapai titik terbaik dalam hidupnya. Dia malah meninggalkan ku dan memilih kebahagiaan yang lain. Jadi jika Pak Dante berpikir bahwa aku akan mendekati nya karena merasa spesial bisa mirip dengan almarhum istrinya, itu adalah pemikiran yang salah. Aku lebih baik sadar diri daripada berimajinasi tinggi.
"Baik Pak," jawab ku.
Aku dan Mira menuju ruangan. Sebenarnya kesal, padahal Pak Dante tahu jika aku tidak masuk beberapa Minggu otomatis aku tidak kerjakan laporan yang ada. Seperti nya hari ini aku harus lembur.
"Ra, seperti nya semua karyawan akan bersyukur karena kamu masuk hari ini," ucap Mira menutup mulutnya menahan tawa.
"Memangnya kenapa kalau aku masuk?" tanya ku tak habis pikir dan heran juga.
"Ya soalnya Pak Dante itu kalau lihat kang seperti hidup kembali," celetuk Mira setengah menggoda ku. "Cie yang kecantol cinta Presdir sendiri," ledek Mira.
"Dih." Aku memutar bola mata malas.
"Kamu mirip istrinya," bisik Mira.
__ADS_1
"Aku tahu," sahutku sambil duduk dikursi ku dan menatap layar komputer yang belum ku nyalakan.
Mira tampak terkejut, lalu menarik kursi dan duduk disamping ku.
"Serius, Ra? Kamu tahu dari mana?" tanya Mira, jiwa ingin tahu nya meronta.
"Pak Dante sendiri yang bilang," jawabku sambil menyalakan komputer.
Mira tampak diam dan berpikir. Sementara aku tak peduli, walau ragaku berada di kantor tetapi jiwaku tertinggal di rumah sakit. Tidak ada yang bisa kupikirkan selain Nara, sebab sekarang dia sedang tak baik-baik saja.
"Mir, aku kerja dulu. Balik sana ke meja kamu," usirku.
"Tap_"
"Mir, pekerjaan ku banyak," cetus ku pada Mira.
Aku tahu Mira pasti ingin bertanya lebih dalam lagi mengenai aku yang begitu mirip dengan almarhum istri Pak Dante. Sudah ku katakan aku tak peduli.
Aku mulai mengerjakan laporan ku, sial kenapa air mataku menetes. Bukan, aku bukan sedih karena harus membuat laporan. Tetapi memikirkan kondisi Nara yang belum ada perubahan membuat nafas ku rasanya tercekat di kerongkongan. Bagaimana kalau akhirnya Nara tidak sembuh? Aku tidak mau kehilangan Nara. Aku tidak bisa jauh dari nya, aku sungguh menyanyangi anak perempuan ku tersebut.
"Kuat Ra, kamu harus jadi wanita tangguh. Nara pasti sembuh. Dia anak yang kuat," gumam ku
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan akan hal-hal yang tak mungkin. Tetapi bagaimana jika akhirnya yang aku perjuangkan gagal dan aku kehilangan semua yang membuatku bahagia. Anakku adalah sumber kebahagian ku, aku takkan bisa bahagia jika salah satu dari mereka hilang.
Semalam dokter menjelaskan, bahwa Nara tidak perlu di rujuk karena rumah sakit sudah menyediakan fasilitas-fasilitas lengkap. Tetapi mungkin untuk pencangkokan jantung tidak akan bisa dihindari, sebab jantung Nara memang sudah parah.
Kuseka air mataku dengan kasar, sebagai seorang ibu. Ini adalah fase terendahku dalam hidup, berada di posisi yang tak pernah ku bayangkan sama sekali.
"Ra, kamu baik-baik saja?" tanya Mira panik.
"Aku bakal Mir," jawabku memaksakan senyum.
"Kenapa mata kamu merah? Kamu menangis?" tanya Mira. Walau kami baru saling kenal, tetapi Mira peduli padaku.
__ADS_1
Bersambung....