Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Pengkhianatan


__ADS_3

Bintang POV.


Aku memarkirkan mobilku di depan rumah Mona. Jujur saja aku panik ketika dia menelepon karena terjadi sesuatu padanya, aku sampai meninggalkan Nara di pinggir jalan. Sebenarnya aku tidak tega karena bagaimanapun, Nara adalah istriku. Namun, jika di banding Mona dan Nara, jelas Mona kekasihku lebih penting.


"Mona."


Aku melangkah masuk dengan setengah berlari. Pikiranku kalut jika terjadi sesuatu pada Mona.


"Mona, apa yang terjadi?" cecarku.


Mona terduduk di lantai sambil menangis meringguk dan bersandar di ranjang. Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Wajahnya berantakan dengan rambut acak-acakan. Tak pernah kulihat Mona serapuh ini selama menjalin hubungan denganku.


"Mon, ayo duduk di ranjang," ajakku.


Kuangkat tubuh kekasihku ini lalu mendudukkannya di atas ranjang. Ku rapikan rambutnya yang berantakan. Aku tak bisa jelaskan bagaimana besar cintaku pada perempuan ini. Dia adalah cinta pertamaku, tempat ternyaman untuk aku pulang. Tetapi aku tak pernah tahu apa alasan Ayah dan Bunda tidak merestui hubungan kami yang jelas Ayah menentang dengan keras jika aku menjalin hubungan dengan Mona.


"Tang." Matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ada apa, Mon? Ayo katakan kamu kenapa?" tanyaku lembut seraya mengusap pipi basahnya. Aku tak suka melihat Mona menangis, air matanya terlalu berharga untukku.


"Bintang." Air matanya luruh seketika buliran-buliran bening itu mengalir berjatuhan membasahi sukma.


"Jangan menangis! Ayo katakan padaku, kamu kenapa?" tanyaku menangkup wajah Mona. "Jangan menangis, aku tidak suka melihat air mata kamu," ucapku. Aku tak bisa melihat air mata Mona yang berjatuhan di pipinya.


"Aku hamil....."


Ucapan itu membuatku tidak percaya. Bagaimana mungkin kekasih yang dijaga sepenuh hati ini bisa hamil. Aku mencintai Mona dengan baik. Tidak mungkin aku merusak kesucian perempuan ini.


Melebur sudah hatiku mendengar nama seseorang yang disebut Mona kemudian. Berkeping remuk dan tak berbentuk. Ikmal adalah sahabat kuliahku kami sangat akrab dan Mona adalah kekasihku. Dua orang yang aku anggap manusia terbaik, kini menghancurkan hidupnya. Aku terhempas di samping Mona mendengar pengakuan itu. Aku tidak pernah menduga berapa kejam cinta. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan betapa pedih kehidupan. Dikhianati dan ditusuk kekasih, mungkin bisa aku pahami karena memang hubungan tak ada yang sempurna tetapi aku tak habis pikir sahabatku sendiri adalah hal yang tak pernah aku bayangkan. Bahkan pada pikiran terjahat sekalipun aku tidak pernah membayangkan kehidupan yang sesakit ini. Namun, kenyataannya begitulah yang aku dapatkan.


Aku tidak pernah menyadari. Sepasang pengkhianat telah bersembunyi di balik cerita-cerita baik yang aku miliki. Pengamat ulung yang menjelma memberi kasih sayang. Lalu perlahan menusukkan belati. Semakin metobek dalam jantung hati. Mati saja yang tidak, sekarat sudah juned waktu itu. Aku benar-benar menolak ingin percaya. Tdiak mungkin rasanya semua itu terjadi. Sebelum aku akhirnya terpaksa menerima diriku yang penuh luka tusuk di dada. Luka-luka bekas di kulit, namun begitu sakit.


"Maaf, Tang."


Satu kalimat itu berhasil membuyarkan lamunanku setelah mengenang masa-masa yang aku dan Mona lewati.

__ADS_1


"Aku butuh pelampiasan."


Selama ini aku menjaga Mona sepenuh hati. Walau kami sering berada di kamar yang sama. Namun, aku tak pernah menyentuhnya melewati batas. Kenapa seperti itu? Karena dia perempuan yang aku cintai, aku berjanji untuk tidak merusaknya sampai kami sah di depan Tuhan dan jemaat.


"Aku dan Ikmal sudah lama menjalin hubungan sejak aku kuliah," ujarnya.


Remuk hancur berkeping-keping. Sakit tetapi tak berdarah. Aku bisa bayangkan bagian-bagian partikel hatiku tergores luka dalam hingg mengeluarkan darah segar.


"Maaf, Bintang. Hubungan kita juga tidak akan bisa di lanjutkan. Kedua orang tua mu sampai kapanpun tidak akan pernah menyukaiku," sambungnya.


Aku tahu hal tersebut. Tetapi masalah restu, bukankah kami masih bisa berjuang bersama agar Ayah dan Bunda merestui hubungan kami walau aku sudah menikah dengan Nara.


"Setelah ini aku akan menikah dengan Ikmal. Kami berdua sudah sepakat untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah kami perbuat. Maaf, Bintang. Jika aku mengingkari janji yang telah kita sepakati."


Jika kata maaf bisa mengobati luka yang dia turihkan. Mungkin aku akan memaafkannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2