
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇.
Menjalani kehidupan seperti biasa.
Diandra POV.
Aku berjalan menelusuri koridor perusahaan. Hari ini aku tak ingin naik lift, aku memilih lewat tangga darurat. Aku memiliki kebiasaan yang aneh jika dalam masalah, yaitu melakukan hal-hal yang tak biasa. Seperti menaiki tangga atau duduk diatas pohon. Sayangnya karena sudah memiliki anak, kebiasaan itu jarang lagi aku lakukan.
"Kenapa semua orang jahat," ucap ku
Lagi air mataku lelah. Seketika dunia ku hancur saat mengetahui fakta bahwa yang menabrak Nara dan Naro adalah orang suruhan mantan ibu mertua dan Lusia. Aku tak habis pikir, dendam apa yang mereka sematkan padaku. Padahal aku sudah mengikuti kata-kata ibu untuk berpisah dengan Mas Galvin. Aku juga tak mengambil harta gono-gini dari mantan suamiku. Tetapi kenapa mantan mertua dan mantan madu ku, begitu jahat dan tega melakukan hal sekejam ini hanya demi kepuasan mereka.
Aku takkan membiarkan mereka lepas. Seperti yang Divta katakan, bila perlu mereka harus di jerat hukuman mati atas pembunuhan berencana. Namun, sekalipun mereka dihukum mati hal itu takkan bisa membuat Nara kembali berjalan. Sekarang Nara sudah lumpuh dan duduk dikursi roda.
Aku menaiki satu persatu tangga darurat ini. Jika tidak memikirkan anak-anak, mungkin aku memilih mengakhiri hidupku dengan menjatuhkan diri lalu mati dan masalah ku akan selesai.
Namun, saat melihat senyuman manis diwajah Nara setiap pagi, seperti menarik ku kembali ke dunia nyata. Anak berusia 10 tahun itu, menerima kondisi dirinya. Selama ini Nara tidak pernah mengeluh atau malu meski terkadang di sekolah banyak yang membullynya.
Aku kagum melihat kepribadian anak-anak ku yang sudah dewasa sebelum waktu nya. Apalagi sejak kehilangan figure seorang ayah.
"Apa yang ka_"
"Aaaaaaaa," teriakku memejamkan mata dan sudah pasti tubuh ku akan terpental kebawah.
Aku merasa ada yang menarik tanganku masuk kedalam sebuah pelukan. Untuk sesaat aku terdiam dan perlahan mataku terbuka. Jantungku berdebar kencang ketika membayangkan tubuhku akan hancur berkeping-keping dan ini siapa yang memelukku.
Detak jantung orang yang memelukku ini terdengar dari luar karena telingaku menempel didadanya. Lagi tangannya malah melindungi kepalaku.
Lama kami berdua larut dalam pelukan hangat ini. Aku tidak tahu siapa orang yang memeluk ku. Jika dia tidak menarik ku, mungkin saja sekarang aku sudah menjadi bagian dari penghuni neraka.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.
Segera aku melepaskan diri. Jantungku berdebar-debar, bukan karena pelukkan pria ini. Tapi karena rasa takut yang mengelajar didalam sana.
"Pak Dante," ucapku tak menyangka.
"Kanaoa lewat tangga darurat?" tanya nya menatapku tajam. "Kalau kamu jatuh bagaimana? Apa sih yang sedang kamu pikirkan, kenapa berjalan sambil melamun?" cecarnya. Kenapa wajah orang ini terlihat marah
"Maaf Pak," ucap ku menunduk.
__ADS_1
Rantang nasi yang di berikan Divta tadi, jatuh ke bawah. Sehingga isi didalam nya berceceran. Aku menatap sedih rantang nasi tersebut. Jika Tante Asni tahu, pasti dia akan sedih.
Terdengar helaan nafas dari mulut Pak Dante. Kenapa orang ini ada disini?
"Lain kali jangan lewat sini. Kecuali lift rusak," ucap nya mengingatkan.
"Baik Pak," jawabku
Saat ini aku tak bisa memikirkan yang lain. Kepalaku di dipenuhi dengan masalah tentang kedua anakku.
"Buatkan saya kopi!" perintah nya lalu melenggang meninggalkan ku.
Aku baru sadar karena terlalu asyik melamun aku sampai tak ingat jika sudah sampai dilantai paling atas. Bayangkan berapa tangga yang sudah ku naiki.
Aku menuju ruangan kerja ku untuk meletakkan tas sebelum membuatkan kopi untuk boss.
"Pagi Ra," sapa Mira.
"Pagi Mir," balas ku.
"Kamu kenapa? Kok pucat?" tanya Mira khawatir
"Tidak apa-apa, Mir," kilah ku. "Mir pantry di mana ya?" tanyaku pada Mira.
"Mau apa?" kening Mira berkerut heran.
"Wait," Mira menahan tangan ku. "Pak Dante minta kamu buatkan dia kopi?" tanya Mira memastikan.
"Iya, kenapa?" kali ini aku yang penasaran.
"Kamu tahu tidak, kalau Pak Dante itu seorang duda. Istrinya meninggal ketika melahirkan anaknya," jelas Mira.
"Aku tidak tahu," jawabku.
Aku tidak punya waktu untuk mengurus kehidupan orang lain karena hidupku juga belum terurus dan bahkan sangat berantakan. Jadi aku tidak tertarik untuk ingin tahu urusan orang-orang di sekitar ku.
"Kasihan Pak Dante, Ra. Tampan, kaya raya tapi sayang tidak punya istri. Andai dia mau menerima perawan tua ini jadi istrinya, rela aku jadi ibu sambung anak nya," ucap Mira sambil membayangkan wajah Pak Dante.
Aku menggeleng sambil tersenyum. Orang-orang disini juga tidak tahu jika status ku janda, selain Pak Hendri dan Pak Dante. Itu juga aku ditanya saat pertama kali masuk bekerja disini.
"Ya sudahlah, aku mau buatkan boss kopi dulu," ucap ku pada Mira. Kalau terus meladeni Mira bicara bisa-bisa tidak ada habisnya.
Aku berjalan menuju pantry lalu membuatkan kopi untuk Pak Dante, aku tidak tahu selera nya. Tapi pasti dia tidak suka yang manis-manis.
__ADS_1
"Ibu Ara yaa," ucap seorang wanita.
"Iya Bu, saya Ara," sahut ku.
"Salam kenal, Bu. Saya Marti cleaning service disini. Jangan panggil Ibu, panggil Mbok Marti saja," ucap Mbok Marti.
"Iya Mbok Marti," sahutku.
"Buat siapa kopi nya, Bu?" tanya Mbok Marti penasaran.
"Pak Boss, Mbok," jawabku.
Aku membawa nampan berisi segelas kopi pahit dengan sedikit gula. Aku sedang mengumpulkan mental jika pada Dante mengatai kopi buatanku tidak sesuai dengan selera nya.
Langkah ku terhenti ketika melihat seorang wanita berjalan kearah ruangan Pak Dante. Wanita cantik dengan baju kurang ukuran sehingga menampilkan belahan dadanya serta kaki jenjang nya yang putih. Tubuhnya tinggi semampai seperti seorang model kelas internasional.
Aku berjalan menuju ruangan Pak Dante sembari mendekati wanita tersebut.
"Kamu siapa ya?" tanya nya menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Saya Ara, Bu. Kasie keuangan yang baru. Saya mau mengantar kopi ke ruangan Bapak," jawabku.
"Oh."
Dia menatapku sinis, tapi aku tidak peduli. Aku tidak mengenal wanita ini.
Tok tok tok
"Masuk."
Aku masuk dan disusul oleh wanita yang ada dibelakang ku.
"Sayang," panggil nya manja.
Sontak Pak Dante melihat kearah kami. Wajah nya langsung berubah ketika melihat wanita di belakang ku.
"Maaf Pak, ini kopi Anda," ucap ku meletakkan kopi tersebut di atas meja Pak Dante.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya nya tampak tak suka
"Aku merindukan mu, Sayang," ucap wanita itu manja. Kenapa rasanya aku ingin muntah mendengar ucapannya?
"Saya permisi Pak," pamit.
__ADS_1
"Ara, kamu tetap disini!" titah Pak Dante.
Bersambung.....