
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
"Daddy, ayo," ajak Tata tak sabar.
"Pelan-pelan Girl," tegur ku menggeleng.
Sesuai janjiku tadi akan membawa Mama dan Tata ke rumah sakit menjengguk Nara. Sedangkan Papa memilih dirumah, sebab kondisi Papa kurang sehat. Jadi aku meminta nya beristirahat saja.
"Cie, Tata sudah tidak sabar bertemu Mommy yaa," goda Mama tetapi malah melirik ku.
"Iya Oma, Tata ingin peyuk Mommy," sahut Tata sumringah dan senang.
Aku merenggut kesal. Mama sudah sering memintaku menikah lagi, bahkan tak jarang memperkenalkan anak dari teman-teman nya yang masih gadis padaku. Tetapi entahlah, hingga kini aku belum bisa membuka hati setelah kepergian Killa dalam hidupku. Semua terasa hampa dan tak berguna. Aku seperti tak memiliki perasaan lagi. Apalagi hatiku sudah lama tak di getarkan oleh rasa.
"Dan, bagaimana kamu sudah dapat informasi tentang Ara?" tanya Mama
"Sudah Ma. Tapi tidak ada apa-apa," jawabku.
Papa dan Mama memang mendesak ku mencari tahu siapa Ara sebenarnya. Wajah Ara yang mirip dengan Killa menjadi kontroversi tersendiri di keluargaku. Pantas saja Tata memanggil Ara dengan panggilan mommy, karena dia melihat wajah Ara yang begitu mirip dengan ibu nya.
Sampai di rumah sakit, kami turun dari mobil. Tata menarik tangan ku dengan tak sabar. Dia benar-benar merindukan sosok Ara. Ahh ini akan membuatku semakin repot menjaga Tata.
"Mommy," panggil Tata dari jauh.
Ara menoleh kearah pintu masuk, dia seperti baru saja menyuapi Nara. Ternyata gadis kecil itu sudah sadar dari tidurnya.
"Tata," balas Ara teras simpul.
"Mama. Pak Dante," sapanya.
Aku terkejut ketika Ara memanggil Mama dengan panggilan tersebut. Pasti ini ulah Mama yang meminta Ara memanggilnya mama.
__ADS_1
"Apa kabar kamu Ara?" tanya Mama memberikan pelukan hangat pada wanita tersebut.
"Ara sehat-sehat Ma, Mama apa kabar juga? Terima kasih sudah berkunjung Ma," ucap Ara.
Mama dan Ara tampak akrab satu sama lain. Padahal aku lihat Ara ini tipe wanita yang sedikit dingin dan cuek. Mungkin cocok dengan sifat Mama yang cerewet dan berisik.
"Mama sehat, Nak. Oh iya ini Mama bawakan buah-buahan buat Nara," ucap Mama memberikan kantong kresek yang dia bawa.
Aku melihat Nara yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Meski wajah nya pucat tetapi dia masih bisa tersenyum. Tata juga seperti nya cocok bersama Nara, terlihat dia sibuk menceritakan mainan nya yang baru saja ku belikan ketika ulang tahun nya beberapa bulan yang lalu.
"Bagaimana kondisi nya?" tanya ku tanpa melihat Ara yang duduk di sampingku.
Sementara Mama sedang mengobrol bersama Tata, Nara dan Naro. Mama memang menyukai anak-anak. Hingga tak heran kalau Tata lebih betah bersama Oma-nya dari pada Daddy-nya.
"Sudah sedikit membaik, Pak. Tapi harus menjalani beberapa pemeriksaan lagi," jelas nya seraya menghela nafas panjang.
"Ara kamu punya waktu, saya ingin berbicara sesuatu sama kamu?" ucap ku.
Wanita itu terdiam, dia seperti mencerna ucapan ku. Pasti dalam hatinya bertanya, aku ingin berbicara apa.
"Kita bicara ditaman belakang saja. Biar Mama yang jaga anak-anak," saran ku sambil berdiri.
Kami berdua berjalan menuju taman rumah sakit. Mitra Medika merupakan rumah sakit besar dan mewah dari yang lain nya, tetapi tetap ada beberapa fasilitas yang tidak ada disini. Sehingga tak jarang pasien yang menderita penyakit dengan penanganan khusus harus di rujuk ke luar pulau, Jakarta dan lain nya.
Kami duduk sambil menikmati suasana sore malam ini. Jujur saja suasana rumah sakit mengingatkan ku pada kejadian lima tahun yang lalu. Saat itu, Killa pergi meninggalkan ku untuk selamanya.
"Apa yang ingin Bapak bicarakan?" tanyanya tanpa melihat kearah ku.
"Ara," panggil ku menghela nafas panjang dan melihat kearah nya.
Ara tampak siap mendengarkan apa yang akan aku bicarakan dengannya. Wanita ini memang sulit ditebak. Dia begitu hati-hati dengan orang baru. Mungkin karena terlalu banyak nya hal yang dia alami sehingga membuat nya dingin seperti tak tersentuh. Tetapi aku tahu, sesungguhnya Ara memiliki sifat yang ramah dan lemah lembut.
"Kamu mengingatkan saya pada seseorang," ucap ku menatap nya.
Wanita ini tampak biasa saja. Tidak terkejut seperti yang aku harapkan.
__ADS_1
"Istri Bapak?" tebak nya.
Aku terkejut lalu kembali menatap Ara dengan dalam. Dari mana wanita ini tahu tentang istriku?
"Ka-kamu tahu dari mana?" tanya ku menatap Ara curiga.
Dia malah terlihat santai seraya menatap kedepan. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita ini, Ara selalu susah di tebak.
"Saya tidak sengaja melihat foto nya di kamar Bapak yang ada dikantor," jelas nya.
"Lalu, kamu terkejut?" tanya ku penasaran sebab wajah wanita ini seperti biasa saja.
"Awal iya bahkan saya bertanya-tanya. Kenapa bisa ada orang mirip? Saya juga sempat berpikir kalau saya ini kembar. Tetapi saya sadar mana mungkin saya kembar, Pak? Orang tua saya saja tidak pernah membahas ini," jelas Ara panjang lebar sambil menarik nafas dalam.
Aku terdiam, ternyata selama ini Ara sudah tahu jika dirinya mirip dengan almarhum istriku tetapi dia diam saja seperti tak terjadi apa-apa. Bahkan Ara tak memanfaatkan situasi ini untuk mendekati ku.
Kami sama-sama terdiam seolah sibuk dengan perasaan masing-masing. Aku masih tak menyangka ternyata Ara menyadari bahwa selama ini dirinya mirip dengan almarhum istriku.
"Kalian sangat mirip," ucap ku. Kenapa kali ini aku gugup berada disamping Ara?
"Tetapi kami orang yang berbeda, Pak," jawab Ara sambil tersenyum. "Saya akan cari tahu tentang ini. Bisa saja seperti di novel-novel terpisah saat lahir di rumah sakit, atau seperti film layar lebar, kembar yang terpisah," ucap Ara asal seraya terkekeh pelan. Tetapi aku tahu jika senyuman itu adalah kepalsuan sebab dia sedang merasakan patah hebat dan luar biasa.
Aku ikut terkekeh, apa ada kisah yang seperti itu? Kalau pun ada berarti yang sering ditulis oleh para penulis pernah terjadi di kehidupan nyata.
"Tumben, Divta tidak ada?" tanya ku penasaran. Biasanya abdi negara itu yang selalu menempel pada Ara.
"Biasalah," jawab nya dengan helaan nafas panjang. "Ehh Pak, tapi serius wajah istri Bapak beneran mirip saya?" tanya Ara sekali lagi memastikan.
Aku mengangguk. Mereka memang mirip dan sangat mirip. Bahkan aku saja ketika pertama kali bertemu Ara, sempat berpikir bahwa dia adalah Killa yang kembali hidup. Tetapi aku langsung disadarkan oleh kenyataan bahwa yang pergi takkan kembali.
"Iya benar. Saya sempat berpikir bahwa kamu adalah istri saya yang sudah meninggal," ucap ku.
Ara tertawa lebar, "Pak yang benar saja. Mana ada orang yang meninggal hidup kembali." Ara geleng-geleng kepala.
Bersambung....
__ADS_1