Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 28.


__ADS_3

Kini semua telah berbeda dari hal yang pernah di sebut sebagai rencana. Aku telah memilih jalanku sendiri, walau tak ada yang menemani melewati semua ini. Kubiarkan semua menjauh, sebab apalah artinya mempertahankan sesuatu yang selalu membuat rapuh. Aku belajar pada kenyataan yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku mencari cara untuk memahami apa yang terjadi. Walau memang tak pernah sepenuh hati.


Kupikir semua ini rencana Tuhan karena dia ingin aku menjadi manusia yang lebih baik. Namun, ternyata ini memang jalan takdir yang harus aku lalui. Berat sekali rasanya berada di antara ketiga titik antara kemarin dan kehidupan yang tak pernah aku inginkan ada.


"Kak Naro, Kakak apa kabar? Arin kangen sama Kakak."


Mungkinkah aku salah mencintai dua lelaki dalam waktu bersamaan. Perasaanku terhadap Mas Angga perlahan memudar setelah waktu berjalan begitu cepat. Kini aku malah mencintai suamiku sendiri, Kak Naro.


"Kak, entah kapan tepatnya aku jatuh cinta pada Kakak? Sekarang, aku kangen banget sama Kakak. Aku ingin bertemu Kakak sebelum aku pergi. Sebelum aku tidak ada lagi di dunia ini. Maaf, Kak. Aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk Kakak. Kakak harus menikahi wanita kotor seperti aku."


Saat ini aku duduk di brangkar rumah sakit. Beberapa selang mengalir di bagian tubuhku yang lain. Rasa sakit karena selang-selang tersebut lebih menyengat dari kanker yang menggerogoti tubuhku. Akhir-akhir ini kondisi tubuhku menurun. Mulai dari imun hingga daya tahan tubuh. Sepertinya kematian memang sebentar lagi akan menghampiri aku dan menjadikan aku debu di antara tanah.


Kuusap perutku yang sudah membesar. Aku terpaksa melahirkan sebelum waktunya karena kondisi tubuh yang semakin melemah. Kata Dokter Novi jika tidak segera di operasi, ketiga bayiku bisa dalam bahaya walau kemungkinan operasi ini berhasil hanya 30%.


"Mama, Arin kangen, Ma. Maafkan Arin yang belum bisa jadi anak terbaik buat Mama. Maafkan Arin yang sudah membuat Mama malu."


"Papa, bolehkah Arin jadi anak kecil saja agar bisa terus bermanja-manja dengan Papa? Dulu Arin selalu di gendong Papa."


"Kak Al, Kak El. Arin suka kalian yang posesif sama Arin. Walau sekarang semua tak lagi sama."


Aku merindukan kehidupanku yang dulu. Di mana aku menjadi ratu yang selalu di manja oleh kedua orang tua dan kakak kembarku. Tetapi sekarang, hukum karma seperti berlaku untuk wanita murahan seperti aku. Wanita yang bodoh dan mau memberikan tubuhnya pada pria yang notabene bukan suami sendiri.

__ADS_1


"Argh!"


Aku merasakan perutku nyeri sekali. Kuletakan foto pernikahan bersama Kak Naro dan mengusap perut buncitnya yang benar-benar sakit. Tuhan, apakah sudah waktunya aku pergi meninggalkan dunia ini? Apakah waktunya aku menghilang dari permukaan bumi semua akan kembali membaik?


Aku meraih gelas berisi air di atas nakas. Kerongkonganku kering dan haus. Anggi keluar sebentar membeli makanan. Sementara Kak Galaksi kembali ke Indonesia untuk mengambil berkas-berkasku sebelum operasi tiba.


"Ayo, Nak. Kita kuat. Kita bisa," ucapku menyemangati diri sendiri.


Aku menunggak air dalam gelas itu hingga tandas. Akhir-akhir ini aku memang dehidrasi. Kata Dokter Novi tekanan darahku menurun. Beberapa partikel dalam tubuhku rusak selama aku tidak melakukan kemoterapi.


"Papa, Mama, Kak Al, Kak El."


Aku baru sadar rata-rata orang saat di kejar kematian akan merasakan ketakutan luar biasa. Dada serasa sesak dan pikiran melayang entah ke mana? Tetapi aku tak memikirkan apapun selain melahirkan ketiga anak kembarku dengan selamat.


"Argh, sakit sekali!" Aku meringgis beberapa kali menahan perih yang menjalar ke seluruh tubuhku. "Rasa sakit ini seperti membuat tubuhku berhenti bekerja.


Aku tidak bisa berbaring, tidak bisa duduk, tidak bisa berdiri dan hanya bisa bersandar di headbord ranjang rumah sakit dengan tatapan kosong. Aku bersandar pun harus menyamping sebab jika aku telentang rasa sakit di bagian perutku akan menjelajar masuk dengan hebat menusuk masuk memenuhi rongga dada.


"Nak, tolong kuatkan Bunda. Kita tidak boleh menyerah sebelum kalian melihat dunia ini. Tetapi bolehkah Bunda jujur jika rasa sakit ini seperti menghentikan aliran darah dalam tubuh Bunda," aduku pada ketiga bayi yang masih berdiam nyaman di dalam perutku. Berharap mereka mendengar suara lirih dan kesakitan yang menjalar ke seluruh tubuh.


Aku memejamkan mataku sejenak. Membayangkan wajah orang-orang yang aku sayangi. Papa, Mama, Kak Al, Kak El, Mas Angga, Kak Naro, Kak Nara dan semua orang-orang yang ada di hidupku. Aku takut, aku benar-benar takut jika tiba waktunya aku pergi tetapi aku belum bisa mengucapkan kata maaf sebelum waktunya aku pergi dari dunia ini.

__ADS_1


Jatuh cinta adalah hal-hal yang tak selalu mampu disebut dengan kata terkadang hanya menjelma tatap mata dan degup di dada. Maka, kuserahkan saja segala kebekuan bibir ini pada tatap mata, pada rentang lengan, pada obrolan-obrolan ringan yang kutahan agar tak cepat berlalu. Aku, telah bersusah payah mengutuk waktu menahan dengan segala gemuruh di dadaku. Sesuatu yang akhirnya kusimpulkan sebagai rindu.


Bayangan kejadian saat Kak Naro memasukkan sup panas ke dalam mulutku, rasanya perih. Perlakuan kasar dan kata-kata kotor yang keluar dari bibirnya tak mampu membuatku membenci suamiku. Aku mencintainya. Aku sungguh-sungguh mencintainya. Bahkan perasaanku lebih besar dari rasa cintaku pada Mas Angga. Entah kenapa aku bisa jatuh cinta pada suamiku sendiri? Padahal aku tahu, jika suamiku sama sekali tidak menginginkan aku ada dalam hidupnya.


"Kak Naro," lirihku sambil terpejam. "Kak, sakit," renggekku seolah mengadu bahwa lelaki itu sekarang ada di sampingku. "Perutku sakit, Kak. Kepalaku pusing dan dadaku sesak," ucapku.


Oksigen yang menempel di hidung bukannya membantu bernapas malah membuat dadaku serasa perih. Rasanya seperti luka di dalam sana. Aku ingin melepaskan oksigen ini tetapi aku takut tidak bisa bernapas. Lalu meninggal sementara anak-anakku belum lahir.


"Argh."


Aku tak mampu menahan rasa sakit ini. Mata yang tadi terpejam sontak terbangun ketika merasakan sakit yang menjalar. Sepertinya memang waktunya sudah tiba. Tiba ketika aku akan pergi meninggalkan dunia ini.


"Ayo, Arin bertahan demi anak-anakmu. Demi mereka. Mereka harus tetap hidup agar bisa merasakan kebahagiaan di dunia ini. Tolong Arin."


Aku berteriak dalam hati menyemangati diri untuk mampu bertahan memperjuangkan ketiga bayi kembarku. Semoga saja Tuhan mendengar tangsian ketiga anakku yang tidak mau aku pergi dari dunia ini. Biarkan kami berempat bertahan beberapa waktu lagi.


"Arin."


Aku terdiam ketika mendengar suara yang begitu familiar di telingaku itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2