Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Perasaan


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Sampai dikantor, aku turun dengan cepat dari mobil. Untung masih pagi jadi tidak banyak orang yang melihat kalau aku satu mobil dengan Pak Dante.


"Terima kasih Pak, saya duluan," pamitku.


Aku berjalan cepat masuk ke dalam sebelum dilihat oleh penggemar fanatik Pak Dante, lebih baik aku mengamankan diri saja.


Aku menghela nafas panjang saat sudah sampai di lift.


"Dasar perempuan gatal."


Aku terkejut ketika mendengar suara disamping ku, segera menoleh. Ini adalah perempuan kemarin yang meminta ku menjauhi Pak Dante. Aku tidak tahu dia siapa, seperti nya dia memiliki jabatan yang tinggi diperusahaan ini.


"Maksudnya apa ya?" tanya ku menatap wanita ini dengan tajam. Ada-ada saja orang yang seperti sengaja memancing emosiku agar aku marah besar.


"Kamu tidak tahu siapa saya?" Eh dia malah bertanya balik dengan melipat kedua tangannya didada, senyum nya terlihat licik dan menyebalkan.


"Tidak," jawab ku cepat.


Wanita itu tampak kesal mendengar jawaban ku, apa yang salah? Aku memang tidak mengenalnya.


"Saya adalah calon istri Pak Dante, jadi kamu jangan berani-berani mendekati calon suami saya," ucap nya seraya mendorong baru ku dengan telunjuk nya seolah aku adalah virus yang harus dia hindari.


"Oh."


Aku hanya ber oh ria saja. Toh aku tidak tertarik dengan hubungan Pak Dante dan wanita itu. Aku bahkan tak itu bukan urusanku.


"Kenapa hanya oh?" tanya nya seperti marah.


Aku mendelik, "Lalu saya harus bilang apa?" tanya ku memutar bola mata mahal. Astaga, aku lupa membagikan nasi kuning yang ku beli tadi. Bahkan sarapan Pak Dante pun ku bawa.


"Kenapa kamu tidak terkejut?!" hardiknya.


"Untuk apa saya harus terkejut? Memang nya urusan saya?" Aku menggeleng kepala salut. Aku tak memiliki urusan dengan mereka.


"Bukannya kamu dekat sama Pak Dante karena kamu mirip almarhum istrinya?" tudingnya menatap ku curiga.


Sudah kuduga akan banyak orang yang salah paham dengan kebaikan Pak Dante padaku. Padahal kami rai dekat seperti yang orang lain katakan. Aku juga tidak genit-genit pada Pak Dante apalagi sampai cari perhatian demi disukai oleh nya.


"Sayang nya tidak begitu," jawabku. "Sudahlah saya pamit dulu, Bu," ucap ku keluar dari lift.

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang. Hilang masalah dengan Divta, sekarang malah Pak Dante. Kapan hidupku akan tenang dari tudingan-tudingan orang-orang itu? Apakah karena aku janda jadi semua orang berpikir jika aku liar? Mendekati mereka lalu menguras uang dan harta mereka?


"Pagi Ra," sapa Mira.


"Pagi Mir," balas ku. "Tolong bagikan sarapan ini sama yang lain," ucapku memberikan kantong yang ku bawa pada Mira.


"Terima kasih, Ra," ucap Mira.


Aku duduk dikursi kerjaku sambil menarik nafas dalam. Pekerjaan menumpuk diatas meja. Aku sudah lama tidak masuk, tentu saja laporan-laporan itu menumpuk.


"Ra, kamu baik-baik saja?" tanya Mira menatapku penuh selidik.


Aku tak pernah baik-baik saja. Bahkan aku ingin mengatakan bahwa selama ini, aku tak pernah baik. Terlalu banyak yang terjadi diluar prediksi dan pemikiran ku.


"Aku baik-baik saja Mir," jawabku.


"Selamat pagi Bu Ara, Ibu di panggil Pak Dante ke ruangan," lapor salah satu staf yang mungkin saja bekerja sebagai bawahan Pak Dante.


"Iya Pak," jawabku.


"Tumben dipanggil, ada apa?" tanya Mira penasaran.


"Aku juga tidak tahu," jawabku.


Aku beranjak dari duduk ku dengan membawa kantong kresek, sarapan untuk Pak Dante.


"Pagi Pak."


"Silakan masuk, Ra," ucap nya mempersilahkan aku masuk.


Aku masuk lalu membungkuk sopan didepan nya. Jika diluar kantor mungkin kami bercerita layaknya teman biasa. Tetapi di kantor kami adalah orang asing yang mengerjakan tugas masing-masing.


"Pak, ini sarapan Bapak," ucapku.


"Terima kasih Ara," sahutnya meletakkan berkas yang dia baca diatas meja.


"Ada apa Bapak memanggil saya kesini? Laporan kemarin sedang dalam proses Pak karena saya baru masuk hari ini," sambung ku.


"Saya bukan mau bahas pekerjaan," sahutnya melipat kedua tangannya didada.


"Lalu?" kening ku berkerut dan menatapnya dengan tanda tanya.


"Saya harap apapun yang kamu dengar tentang saya, kamu tidak menilai saya dengan buruk," jelas nya.


.

__ADS_1


.


"Mama!" seru Naro.


"Son." Aku tersenyum menyambut anakku tersebut.


Aku dan Mira menjemput Naro untuk makan siang, setelah ini aku akan mengantar Naro pulang kerumah. Ancaman Chelsea kemarin berhasil membuatku was-was terhadap keselamatan anak-anak. Aku takut jika Chelsea tak puas.


"Siang Naro," sapa Mira.


"Siang Tante Mira," jawab Naro sambil menyalami tangan Mira.


"Lapar?" Naro mengangguk.


Kami bertiga masuk kedalam mobil Mira. Demi menghindari Pak Dante, aku meminta Mira saja yang mengantar jemput ku. Syukurnya Mira tidak keberatan.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan," ucap Mira menenangkan.


"Aku masih belum bisa melupakan Mas Galvin, Mir," sahutku menghela nafas panjang.


"Aku paham. Aku juga pernah berada di posisi kamu," jawab Mira.


Aku mengangguk, walau aku mencoba menghibur diri dengan banyak hal. Tetap saja aku tak bisa bangkit dari patah hati yang seakan membuat hatiku mati rasa.


"Tadi Pak Dante memanggil mu ke ruangan nya membicarakan apa?" tanya Mira penasaran.


"Masalah Bu Tensa," jawabku.


Mira terkejut, "Kenapa? Kamu ada masalah sama dia?" tanya Mira lagi.


Aku menggeleng, "Tidak ada. Tapi kemarin katanya dia calon istri Pak Dante," jelasku.


"Dih." Mira mendelik. "Dia memang terobsesi sama Pak Dante sejak lama. Bahkan saat Pak Dante masih memiliki istri," jelas Mira.


"Kamu seperti nya tahu semua hal tentang Pak Dante, Mir?" ucap ku. Mira ini ratu gosip.


"Ye lah, aku kan sudah sepuluh tahun bekerja di perusahaan Pak Dante, pastilah aku tahu," jawab Mira memutar bola matanya malas.


"Tapi kenapa Pak Dante harus jelaskan hal itu sama aku? Aku tidak peduli kalau Bu Tensa itu calon istrinya. Lagian itu bukan urusanku," ujarku heran.


Tadi Pak Dante menjelaskan secara detail bahwa dia dan Bu Tensa tidak memiliki hubungan apapun, walau dulu pernah bersahabat. Aku hanya mengangguk dan mengiyakan saja, mau punya hubungan atau tidak itu juga bukan urusan ku.


"Astaga, Ara jadi selama ini kamu tidak tahu?" ucap Mira tampak kesal.


Aku menggeleng. Mana aku tahu, memang nya apa yang harus aku tahu?

__ADS_1


"Pak Dante itu suka sama kamu. Kalau dia tidak memiliki perasaan, tidak mungkin dia mau setiap hari datang ke rumah sakit demi menjengguk Nara. Dan tadi, dia dengan susah payah menjelaskan hubungan nya dan Bu Tensa sama kamu supaya kamu tidak salah paham."


Bersambung...


__ADS_2