Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Apa kau punya pacar?


__ADS_3

Mentari menatap pantulan dirinya di depan cermin. Sebenarnya dia masih bertanya-tanya, kenapa Divta mengajak dia ke pesta?


"Ya ampun anak Ibu cantik sekali," puji Susanti berdecak kagum menatap putri semata wayangnya.


"Bu, apa sebaiknya Tari menolak saja ya? Tari benar-benar tidak enak Bu, pergi ke pesantren dengan Pak Divta," ucap Mentari menghela nafas panjang.


"Sesekali tidak apa, Nak. Ingat hidup kita bergantung pada keluarga ini. Anggap saja balas budi," ucap Susanti memperbaiki baju belakang Mentari yang setengah bergeser.


"Tapi Tari takut bertemu Nona Chelsea. Tari takut malah salah paham nanti. Apalagi Ibu tahu Nona Chelsea itu seperti apa?" ucap Mentari sedikit mendesah.


Rasanya juga sangat aneh, sebelumnya. Divta tak pernah sedekat ini dengan dirinya. Jangankan dekat, berbicara saja hampir jarang. Apalagi majikannya tersebut sering keluar pulau untuk perjalanan dinas.


"Tidak perlu takut, Pak Divta pasti akan menjagamu dengan baik," sahut Susanti.


Mentari mengangguk saja. Walau dalam hati ada rasa berat dan janggal. Mentari tidak mau malah terjadi fitnah antara dirinya dan Divta. Bagaimanapun mereka lawan jenis yang memiliki status dengan pengasuh dan majikan.


"Ya sudah, ayo. Pak Divta pasti sudah menunggu," ajak Susanti.


Mentari mengangguk. Lalu mereka keluar dari kamar dan menemui Divta yang mungkin saja sudah menunggu sejak tadi.


Benar saja, Divta duduk dengan nyaman di sofa sambil sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya. Lelaki itu memakai jas lengkap dengan dasi yang melingkar sempurna. Jarang memakai pakaian tersebut, membuatnya tampak tampan dan menawan.

__ADS_1


"Pak," panggil Mentari dengan jari yang saling meremas satu sama lain.


Mendengar namanya dipanggil oleh Mentari, lelaki itu mengangkat pandangannya. Divta terdiam sejenak, melihat Mentari yang jauh berbeda dari biasanya. Ini pertama kalinya dia melihat pengasuh Al dan El itu berdandan, biasanya Mentari hanya memakai celana jeans dan baju yang besar dan kedodoran.


"Sudah siap?" Dia berdiri dari duduknya dan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


"Sudah, Pak," jawab Mentari.


"Ayo, " ajak Divta.


Kedua orang itu berpamitan pada Susanti. Sementara kedua orang tua Divta tengah liburan berdua saja menghabiskan masa-masa tua mereka. Si kembar Al dan El sudah tidur karena seharian bermain bersama Mentari.


"Kau cantik malam ini," puji Divta melirik Mentari yang diam saja.


"Terima kasih, Pak," sahut Mentari.


Divta kembali fokus menyetir. Beberapa kali lelaki itu mendesah pelan, memang beberapa bulan terakhir dirinya tak memiliki semangat untuk hidup. Hari-hari nya terasa hampa dan kacau.


"Tari, apa kau pernah pacaran?" tanya Divta, entah sadar atau Dibya Dibya mengatakan hal tersebut tanpa berpikir siapa yang duduk disampingnya.


Mentari menggeleng dengan polosnya, "Belum pernah Pak," sahut Mentari. Dirinya memang belum pernah berpacaran, oleh sebab itu dia menjawab apa adanya.

__ADS_1


Mentari baru menginjak usia 18 tahun dia memasuki semester 3. Sebenarnya ini bukan usia remaja lagi sudah memasuki dewasa. Hanya saja dirinya yang terlalu fokus pada pendidikan sehingga tak berminat untuk memiliki hubungan dengan seorang pria.


"Jangan pacaran dulu, kuliah dan benar dan bahagiakan, Ibu," nasehat Divta.


Mentari manggut-manggut. Memang itu tujuannya yaitu membahagiakan sang ibu. Sebab itulah dia rela mengambil kuliah malam agar siangnya bisa bekerja dan mengasuh anak Divta.


.


.


Di sisi lain..


Mira merenggut kesal ketika Rick mengajaknya ke pesta pernikahan temannya. Sialnya lagi lelaki itu malah menjemputnya. Dia tidak bisa menolak karena ibu negara sudah berkhotbah.


"Huh, dasar Brondong gila. Padahal kau sudah katakan kalau aku tidak mau dekat-dekat dia," gerutu Mira sibuk memasang makeup di wajahnya.


Mira dengan jelas menolak Rick karena dia tidak suka pria muda. Tetapi lelaki itu malah meminta waktu untuk membuat Mira jatuh cinta padanya.


"Awas saja nanti," omelnya lagi.


Walau mengomel dan menggerutu sepanjang rel kereta api, wanita itu tetap mengikuti perintah kedua orang tuanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2