Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Permintaan Galvin


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku tertegun mendengar ucapan Mas Galvin. Aku yang tadinya enggan menatap wajahnya kini malah melihatnya dengan menelisik.


“Mas akan lakukan apapun Nara. Jadi Mas mohon izinkan Mas untuk menebus kesalahan Mas pada kalian,” ucapnya lagi


Aku masih terdiam dibangku seperti orang yang kehilangan kesadaran. Apakah aku tidak salah dengar atau telingaku sedang tidak beres karena memikirkan masalah pendonoran jantung Nara?


“Mas…”


“Mas sudah terlalu banyak melakukan kesalahan pada kalian. Biarkan Mas berkorban untuk Nara, anggap saja sebagai permintaan maaf Mas karena sudah membuat kalian menderita," ucap Mas Galvin yakin.


Aku tak dapat berkata apa-apa. Jujur saja aku terkejut dengan permintaan Mas Galvin kali ini. Sebenar-benci nya aku padanya. Dia tetaplah orang pernah ada di masa lalu ku kala itu. Meski hubungan ini berakhir dengan luka, tetapi aku tidak ingin berakhir dengan kematian.


"Ra," panggil Mas Galvin.


"Apa kamu yakin Mas?" tanyaku yang masih tak percaya.


"Mas, sudah memikirkan ini sejak kemarin. Kamu tdiak perlu jika Mas berbohong. Mas sangat menyanyangi Nara dan juga menyanyangi mu," ungkap Mas Galvin.


"Tapi Mas akan kehilangan nyawa," ujarku.

__ADS_1


"Bukankah sudah sepatutnya, seorang ayah berkorban untuk istri dan anaknya?" Mas Galvin mengenggam tangan ku diatas meja.


Entah kenapa untuk kali ini aku tak bisa menolak, apa hatiku terluluhkan oleh ucapannya.


"Maaf untuk segala hal. Mas baru sadar betapa berharganya kamu dan anak-anak. Mas menyesal karena sudah menyakiti kalian. Walau Mas berkorban nya untuk menebus semua kesalahan Mas pada kalian. Semua takkan cukup menyembuhkan luka yang ada di hati kalian. Mas ingin kalian bahagia. Mas ingin kalian hidup baik-baik saja. Selama ini Mas terlalu egois dan mementingkan kebahagiaan Mas sendiri. Mas berdosa sama kalian. Mas sudah membuat Nara lumpuh. Mas sudah membuat kamu menderita. Sekali lagi, Mas minta maaf Ara. Biarlah jantung Mas yang berdetak di dada Nara, sebagai bukti bahwa Mas menyanyangi kalian," ucap Mas Galvin dengan simbahan air mata dipipi nya.


Aku bisa lihat jika Mas Galvin menyesal karena telah meninggalkan kami. Aku bisa lihat jika yang dia katakan adalah sungguh-sungguh, tatapan mata sendu dan hancur itu seperti menarikku ke masa-masa beberapa belas tahun yang lalu, ketika kami sama-sama remaja dan saling jatuh cinta. Ketika kami belum mengerti arti hidup sesungguhnya dan kami terlelap dalam hubungan yang salah. Hingga Nara hadir tanpa ikatan pernikahan.


"Mas mencintai kamu, Ra," ungkap Mas Galvin lagi, tangannya terulur mengusap pipiku yang basah.


Air mata yang berjatuhan seolah menjawab kebingungan ku. Aku masih tak mampu mengeluarkan suara karena aku syok mendengar hal tersebut. Mendengar pengakuan Mas Galvin, mendengar ucapan maaf tulus yang keluar dari bibirnya.


"Mas...."


"Ara, Mas adalah pria paling bodoh yang menyia-nyiakan wanita sebaik kamu. Sekarang Mas sadar, bahwa kamu kekal abadi dihati Mas. Mungkin rasa sakit dihati kamu takkan bisa terobati walau Mas mengorbankan apapun. Tapi sungguh Mas menyesal. Mas menyesal Ara. Seandainya waktu bisa diulang kembali, Mas tidak akan pernah melepaskan kalian. Mas ingin bersama kalian selamanya."


"Selamat ulang tahun ya, bulan depan 'kan kamu ulang tahun. Mas takut tidak bisa bertemu kamu lagi," ucap nya seraya tersenyum.


Mas Galvin mengeluarkan kalung permata dari dalam kotak beludru berwarna merah tersebut. Dulu ketika kami pacaran aku pernah meminta agar hadiah ulang tahun ku kalung tersebut. Harga ini kalung cukup mahal dan harus dipesan jauh-jauh hari jika ingin menghadiahkan nya untuk seseorang yang begitu di cintai.


"Mas beli kalung ini waktu perjalanan dinas ke Balikpapan. Mas berencana memberikan nya saat kamu ulang tahun. Tapi akhirnya Mas sendiri yang membuat semua nya hancur," ujar Mas Galvin.


Mas Galvin membuka pengait kalung tersebut. Lalu memasangkan nya di leherku. Sementara aku tetap diam tanpa berkata apapun, jujur saja aku terharu. Entah kenapa dulu waktu pacaran aku begitu ingin memakai kalung ini. Selain bentuknya yang unik, juga sangat cantik jika di pakai.


"Kamu cantik sekali," puji Mas Galvin tersenyum tetapi air matanya menetes.

__ADS_1


"Mas...." renggekku.


Entah dimana sifat marahku tadi, rasanya semua dendam dan rasa sakit itu hilang ketika Mas Galvin mengakui semua kesalahan nya padaku.


"Selamat bertambah umur, Ara. Semoga kamu menjadi wanita kuat. Mas yakin suatu saat nanti kamu akan menemukan kebahagiaan bersama pria lain. Mas titip anak-anak. Semoga kita bertemu di kehidupan kedua nanti," ucap Mas Galvin.


Tangis ku pecah. Mas Galvin merengkuh tubuhku. Ini mungkin pelukan pertama kami setelah perpisahan dan akan menjadi pelukan terakhir kami nantinya. Aku tak tahu jika penyesalan membawa Mas Galvin mengorbankan nyawanya untuk Nara. Jika bisa memilih sebenarnya aku tak ingin Mas Galvin mendonorkan jantungnya untuk Nara. Tetapi tidak ada pilihan lain, Nara harus tetap hidup. Walau aku pun tak sanggup kehilangan Mas Galvin. Dia adalah mantan suamiku. Seseorang yang pernah begitu menghabiskan waktu sangat lama bersama ku.


"Mas." Kupeluk erat Mas Galvin.


"Tidak apa-apa, Ra. Jangan menangis lagi. Kamu harus jadi wanita kuat demi Nara dan Naro, sampaikan salam rindu dan maaf untuk mereka berdua." Kurasakan Mas Galvin mengecup ujung kepala ku.


Andai aku bisa melawan takdir, biar aku saja yang pergi duluan dari bumi ini. Aku tahu Nara sangat menyayangi Papa-nya, apa yang akan aku katakan nanti padanya setelah dewasa. Nara hanya tahu bahwa Papa-nya dipenjara selama 20, tetapi dia tidak tahu bahwa Papa yang dia cintai bersemayam di hatinya untuk selamanya. Aku tidak tahu bagaimana nanti menjelaskan pada anak-anak ku. Apakah bisa aku memilih jalan lain saja?


"Hiks hiks hiks hiks hiks."


Kami saling memeluk erat sambil bertangsian. Mungkin ini akan menjadi secara cerita dalam hidupku. Mantan suami yang aku benci kini akan menyerahkan hidupnya pada kematian.


Mas Galvin melepaskan pelukan nya padaku. Diseka nya air mata yang menetes sejak tadi.


"Bolehkan Mas cium kamu sekali saja?" pinta nya.


Aku mengangguk. Lalu Mas Galvin mengecup keningku dengan lembut. Jujur aku rindu sentuhan hangat ini. Sentuhan yang selalu membuat ku terbuai dalam asmara, lalu dipeluk erat oleh cinta. Ku pejamkan mataku ketika bibir lembut ini menyentuh suka ku, air mata membanjir dengan deras dan tak bisa dihentikan.


"Terima kasih untuk kesempatan nya. Mas tidak kemana-mana. Mas akan abadi di tubuh Nara selama nya," ucap nya lagi.

__ADS_1


Takdir telah membawaku pada jalan yang sebenarnya tak pernah ku inginkan sama sekali. Entah bagaimana hidupku setelah ini.


Bersambung....


__ADS_2