Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Sahabat


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Setelah menyelesaikan pekerjaan aku segera keluar dari ruangan untuk menemui Divta. Sebenarnya aku menolak makan siang bersama nya karena takut menganggu pekerjaan Divta. Namun, seperti nya ada sesuatu yang ingin di bicarakan Divta.


"Siang Pak," sapa ku yang tidak sengaja berpapasan dengan Pak Dante.


Aku masih malu karena pagi tadi membentak Pak Dante. Salah dia juga yang ingin tahu urusan pribadi ku.


"Ara."


Aku menoleh, wajahku berubah masam ketika melihat Mas Galvin. Lihat saja nanti, akan ku buat dia membusuk dipenjara.


"Ayo, Ara," ajak Pak Dante.


"Iya Pak," sahutku mengikuti langkah Pak Dante.


Mas Galvin melihat ku dengan sendu. Entah kenapa aku bisa satu perusahaan dengan Mas Galvin, aku tak punya pilihan lain selain menerima tawaran Mas Bayu bekerja di perusahaan ini.


Aku dan Pak Dante masuk kedalam lift. Seperti nya Pak Dante ingin menyelamatkan ku dari Mas Galvin.


"Pak saya minta maaf," ucap ku sambil menunduk.


"Untuk apa?" tanya Pak Dante melirikku.


"Tadi saya sudah membentak Bapak," sahutku. Aku tak bermaksud membentak Pak Dante, aku hanya tidak suka ada orang yang ikut campur urusan ku.


"Tidak apa-apa. Saya juga yang salah," sahut nya dingin dengan tangan yang masuk kedalam saku celananya.


"Terima kasih, Pak," kataku. Syukurnya Pak Dante tidak dendam atas sikapku tadi, meski aku tidak tahu apa yang ada didalam hati nya.


Pintu lift terbuka, kami keluar berdua.


"Pak, saya duluan," pamitku.


"Mau makan siang?" tanyanya.


"Iya Pak," jawabku.


"Sekalian saja," tawarnya. Pak Dante ini sebenarnya baik, tetapi wajah nya tetap saja dingin.


"Maaf Pak, saya makan siang bersama teman saya," tolak ku pelan takut menyinggung perasaan Pak Dante. "Kalau begitu saya duluan Pak," pamitku tak lupa sambil membungkuk hormat.


Aku berjalan menuju lobby, kulihat Divta sudah menunggu sambil berdiri disamping mobil.


"Ta," panggil ku berjalan dengan cepat.

__ADS_1


"Ra," balas Divta tersenyum hangat padaku.


"Kamu sudah lama?" tanyaku.


"Baru sampai," jawab Divta. "Kenapa mata kamu sembab, habis menangis lagi?" tanya Divta, tangannya terulur mengusap pipiku.


"Tidak Ta, tadi hanya latihan menangis saja," sahutku asal.


"Kamu ini ada-ada saja. Mana ada orang latihan menangis," ucap Divta terkekeh sembari mengacak rambutku.


"Ta," ketus ku sambil memperbaiki rambutku yang berantakan karena ulah Divta.


"Maaf, habisnya kamu ini," ujar Divta memperbaiki rambut ku. "Sudah ayo, pasti kamu sudah lapar," ajak Divta membuka pintu mobil dan mempersilahkan aku masuk.


"Terima kasih Pak Kapten," goda ku.


Divta memutar bola matanya malas. Dia paling tidak suka dipanggil kapten. Padahal dia memang Kapten Divta, kapten paling muda dan masih segar dilihat oleh mata.


"Kita mau makan di mana?" tanya Divta melirik ku.


"Bakso saja. Aku sudah lama tidak makan bakso," sahut ku.


"Baiklah, Ibu Ara," goda Divta.


Aku hanya memaksakan senyum. Bagaimanapun, aku mencoba menutupi luka di hatiku. Tetap saja bayangan rasa sakit itu masih melekat didalam sana.


"Iya Ta, terima kasih," jawabku.


Aku menatap kosong keluar jendela mobil. Hampa. Kosong. Pikiranku seolah mati, kenapa nasib hidupku benar-benar mengerikan? Menikah tanpa mendapat restu. Bahkan cinta yang kupikir akan menjadi tempat pelabuhan terakhir ku, malah menghempaskan tubuh ku menjadi beberapa bagian.


"Jangan melamun," tegur Divta.


"Aku hanya tidak habis pikir, kenapa Mas Galvin tega, Ta?" Aku menghela nafas panjang. "Padahal Nara dan Naro adalah darah daging nya sendiri," sambungku.


Sampai di warung bakso, "Solo Putra" bakso langganan aku dan anak-anak. Bakso disini rasanya sangat enak dengan harga terjangkau.


Aku dan Divta memilih bangku paling pojok. Jam makan siang warung bakso ini memang ramai pengunjung.


"Ra, aku tahu kamu stress memikirkan masalah anak-anak. Tapi kamu jangan selalu sedih. Pasti ada jalan keluar untuk menyelesaikan. Galvin, Lusia dan mantan ibu mertua mu akan mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka," ucap Divta.


Aku mengangguk, "Iya Ta, janji benar," jawabku.


Aku tidak sedih, aku hanya marah dan kecewa. Kenapa ada manusia yang tak memiliki perasaan seperti mereka.


.


.


"Ra," panggil Mira.

__ADS_1


"Iya Mir, kenapa?" tanya ku.


"Yang tadi itu suami kamu?" tanya Mira penasaran, pasti yang dia maksud adalah Divta.


Sejak aku berpisah dari Mas Galvin memang banyak yang mengira jika Divta adalah suamiku. Padahal Divta hanya sebatas sahabat saja.


"Bukan Mir," jawabku.


"Kalau bukan suami kamu terus siapa?" tanya Mira penasaran.


"Dia hanya sahabat aku," jawabku.


"Lho, sahabat kenapa sedekat itu? Suami kamu tidak cemburu, Ra?" tanya Mira lagi.


Mira ini memang memiliki jiwa ingin tahu, dia sama seperti Henny yang cerewet dan juga bawel. Mira bahkan belum menikah di usia yang sudah lumayan matang, Mira tua dua tahun dari aku.


"Aku janda, Mir," sahutku sambil tersenyum. Memang tidak ada yang tahu kalau aku janda.


"What's?" pekik Mira tampak terkejut


Aku santai saja sambil merapikan meja kerjaku. Kebetulan pekerjaan ku sudah selesai.


"Ra, serius kamu janda?" tanya Mira pelan.


"Yup," jawabku sambil tersenyum.


Kata orang-orang tujuan menikah adalah untuk bahagia. Tetapi banyak orang menikah tidak bahagia dan akhirnya memilih berpisah, aku contohnya. Saat ini memilih berpisah dari pada bertahan dengan hati yang salah.


"Kenapa?" tanya Mira penasaran.


"Orang ketiga," jawabku singkat padat dan jelas.


"Oh." Mira terduduk dengan lemas dengan wajah sendu nya.


Selama hampir sebulan aku bekerja disini, hanya Mira saja yang mau berteman dengan ku. Sedangkan yang lain nya, tidak mau. Mereka menganggap aku penggoda Pak Dante karena sering masuk kedalam ruangan direktur. Padahal orang-orang disini tahu bahwa aku ibu dua anak yang takkan mungkin menggoda lelaki lain walau status ku janda.


"Kenapa Mir?" tanya ku ikut duduk. Meja ku dan Mira berdekatan.


"Dulu, aku juga hampir menikah Ra bahkan satu hari lagi hari H. Tapi calon suamiku ketahuan selingkuh dan yang lebih parah nya wanita itu sudah menggandung anaknya," jelas Mira sendu.


Aku menghela nafas panjang, aku tahu berada diposisi ini sangat sakit. Sebab aku juga mengalami hal yang sama. Mas Galvin selingkuh dan bahkan sudah menikah dan memiliki anak.


"Sampai sekarang aku trauma dalam hubungan, Ra. Aku takut tidak menemukan pria yang tepat. Aku takut mengalami patah hati yang sama," ucap Mira.


"Sudah jangan dipikirkan. Kita sama. Kamu hanya calon suami bukan suami. Sementara aku, suamiku menikah secara diam-diam dan sudah memiliki anak," sahutku.


"Iya Ra, sabar untuk kita," ucap Mira menyeka air matanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2