
"Rick."
Mira turun dari mobil dan menghampiri lelaki tersebut. Dia berhambur memeluk Rick sambil menangis.
"Ra, kenapa?" tanya Rick panik.
"Biarkan aku memelukmu, sebentar saja," sergah Mira yang enggan menjawab pertanyaan lelaki itu.
Rick membalas pelukan Mira dan membiarkan wanita itu menangis di dalam dekapannya. Bajunya sampai basah karena air mata Mira.
"Hiks hiks hiks hiks hiks."
Tangis Mira pecah. Dadanya naik turun menahan rasa sakit dan perasaan yang ingin terasa meledak.
"Menangislah."
Rick mengusap kepala Mira yang bersandar di dadanya. Tubuh Rick menjulang tinggi dengan postur seperti tentara luar negeri pada umumnya. Tidak hanya tinggi tetapi juga kekar dan berotot. Tentu saja tubuh ideal itu tidak di dapatkan dengan cuma-cuma. Ada latihan yang dia tekuni setiap hari serta mengkonsumsi makanan yang bergizi. Rick memiliki kulit yang hitam manis, apalagi sering latihan di bawah matahari.
Mira memeluk Rick dengan eratnya. Rasanya dia tidak mau hidup seperti ini. Sakit sekali. Wanita itu tak bisa jelaskan dengan kata-kata, betapa dia hancur saat ini.
"Kenapa dia tega, Rick? Kenapa?" tanya Mira dengan suara isakkan.
Rick hanya menjadi pendengar. Bukan hanya Mira yang patah hati dirinya pun patah hati. Dia bukan patah hati karena mantan kekasihnya tetapi patah hati ketika melihat Mira menangis padahal dia sudah berjanji tidak akan membuat wanita tersebut menangis.
Mira melepaskan pelukan Rick. Lelaki itu mengusap pipi basah wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta itu.
"Menangisi adalah cara kita meluapkan perasaan marah, kecewa dan hancur. Tidak apa-apa. Menangis itu wajar. Tetapi jangan larut, sebab hidup akan selalu berjalan seperti biasa dengan atau tidak adanya dia," ucap Rick menehati seraya mengusap wajah lembut Mira. Tinggi wanita itu hanya sampai bahunya saja.
Mira menatap wajah Rick yang berada di depannya. Dia sudah tak malu lagi menangis di depan lelaki ini.
"Katakan! Kenapa?" tanya Rick lembut.
Bibir Mira kembali mengerucut, air mata leleh lagi di pipinya. Mengingat kejadian sepuluh tahun yang selalu seperti membuatnya tak mampu menahan air mata untuk tidak keluar.
"Ayo, duduk dulu," ajak Rick memapah wanita itu duduk di bangku.
Angin sepoi-sepoi melayangkan rambut Mira. Udara terasa dingin di dekat bambu runcing sore ini. Dia menelepon Rick dan meminta lelaki itu datang ke sini. Entah, kenapa perasaan Mira langsung tertuju pada Rick karena dia tidak tahu harus bercerita dan berkeluh kesah pada siapa lagi?
"Minum." Rick memberikan sebotol air mineral.
__ADS_1
"Terima kasih, Rick," sambut Mira dengan memalsukan senyumnya.
Baru kali ini Rick melihat sosok lemah seorang Mira. Biasanya wanita ini jutek dan judes kadang bicara juga asal keluar dan kebawelan Mira seketika hilang ketika dirinya menangis.
"Kenapa? Katakanlah, siapa tahu aku bisa membantu walau lewat saran!" ucap Rick lagi sambil mengusap ujung kepala Mira.
Hati Mira seketika luluh. Tidakkah Rick tahu bahwa tingkah lelaki ini berhasil membuat hati Mira luluh. Dia paling suka seseorang mengusap kepalanya karena merasa di sayang.
"Kalau ada apa-apa, jangan di pendam ya cantik?" Rick menoel hidung merah Mira yang menangis.
"Rick." Mira mendesah.
"Walau kita belum jadian tetapi aku adalah lelaki yang akan menjadi pendampingmu di masa depan," goda Rick mengedipkan matanya jahil.
"Dih, gombal," cetus Mira memalingkan wajahnya ke sembarangan arah.
Rick terkekeh pelan. Dia suka melihat wajah Mira yang malu-malu kucing seperti itu. Dia yakin perlahan bisa membuat wanita ini mencintainya.
"Ayo silakan ceritakan Ayang bagaimana perasaanmu. Ay Beb siap mendengarkan," ucap Rick mengenggam tangan Mira dan menyatukan tangan mereka berdua.
"Rasanya aku ingin muntah mendengar nama panggilanmu itu. Ingat kita belum jadian," cetus Mira memincingkan matanya curiga.
"Iya sudah, ayo ceritakan," ucap Rick memasang wajah siapnya. Padahal dia tidak sanggup mendengar penjelasan Mira karena dia tahu pasti ini akan melukai hatinya.
Mira menghela nafas panjang dan menatap wajah Rick. Kenapa dia bisa salah tingkah melihat brondong ini?
"Kau ingat lelaki yang kita temui di pesta?"
"Dokter Lintang?" tebak Rick dengan cepat.
Mira mengangguk, "Dia adalah mantan tunanganku yang mengaku menghamili sahabatku sendiri," jelas Mira dengan nada beratnya.
Hati Rick sedikit tergores, entah kenapa dia tidak suka saat Mira menceritakan tentang mantannya?
"Lalu?"
"Dia menjelaskan jika meninggalkanku karena terpaksa," timpal Mira.
"Dia memintaku kembali, Rick." Mata kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
Tangan Rick terulur mengusap pipi wanita tersebut. Setelah ini tidak akan dia biarkan siapapun menyakiti hati Mira apalagi berani membuat wanita ini menangis.
"Apakah kau masih mencintainya?" tanya Rick dengan nada beratnya. Sebenarnya dia belum siap mendengar pengakuan tentang perasaannya.
Mira terdiam. Wanita itu sejenak berpikir.
"Aku masih mencintainya. Sangat."
Deg
Apakah kau tahu bagaimana hancurnya hatimu ketika mendengar orang yang kau cintai masih mencintai seseorang di masa lalunya? Apakah kau tahu bahwa ada sesuatu aneh yang menjalar masuk dan menelusup ke relung hatinya?
Mulut Rick seketika bungkam. Apakah dia masih punya harapan untuk mendapatkan dan membuat wanita ini jatuh cinta padanya? Sementara masih ada lelaki lain yang berdiam nyaman di dalam hatinya.
"Tetapi aku tidak mau kembali padanya. Aku tidak mau merasakan luka yang sama, Rick. Aku akan berusaha menghilangkan perasaan ini. Aku ingin hidup baik-baik saja tanpa mencintai orang yang salah," ungkap Mira.
Rick tak menjawab. Apakah Mira tahu bahwa sekarang Rick pun terluka? Tetapi apa yang bisa dia lakukan? Dia tidak mungkin marah apalagi melarang perasa Mira, sebab wanita ini memang belum mencintainya.
"Rick."
"Iya?"
"Bolehkah aku memintamu untuk menjadi penyembuh luka di dalam dadaku?" pinta Mira.
Rick menatap Mira tak percaya ketika mendengar ucapannya. Apa dia tidak salah dengar?
"M-mak-sudmu?" tanya Mira gagap.
"Aku ingin belajar mencintaimu dan memulai hubungan serius. Aku ingin kau menjadi orang yang bisa membuat aku percaya pada kata cinta. Tolong buktikan itu, Rick. Buktikan jika kau mencintaiku!" harap Mira
Rick terharu. Tanpa Mira meminta pun dia pasti akan menjadikan wanita ini sebagai pelabuhan cinta terakhirnya.
"Mira, aku mencintaimu sangat. Tanpa kau minta aku akan melakukannya. Aku akan pastikan tidak ada air mata kesedihan lagi yang menetes di pipimu," ucap Rick tulus dan serius.
Mira mengusap wajah Rick dengan kedua tangannya. Lelaki hitam manis dengan senyuman yang memesona. Brondong muda yang dia minta untuk menjadi penyembuh luka di dalam dadanya.
"Terima kasih, Rick."
Rick mengusap bibir ranum nan merah muda itu, lalu dia memiringkan wajahnya dan mengecup serta ******* lembut bibir Mira.
__ADS_1
Bersambung....