Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Heboh


__ADS_3

Sampai di kampus, mobil Gevan berhenti di parkiran kampus. Kampus elit tersebut memiliki tempat parkir khusus untuk mobil dan motor yang tertata rapi karena ada tukang parkir yang bekerja mengatur kendaraan roda empat dan roda dua tersebut.


Keduanya turun dari mobil. Langsung saja menjadi pusat perhatian. Sebab tak ada yang tahu hubungan Mentari dan Gevan. Apalagi Gevan adalah lelaki yang terkenal dingin dan sulit di sentuh. Dia menjadi salah satu mahasiswa yang banyak di gilai oleh kaum hawa. Apalagi dirinya mengambil ilmu kedokteran.


"Perlu aku antar?" tawar Gevan.


"Tidak perlu, Van. Tante bisa sendiri," tolak Mentari lembut.


Gevan mengangguk saja, "Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku." Bukan dia tidak tahu jika selama ini tante-nya itu selalu di bully oleh para mahasiswi yang lainnya hanya karena berasal dari kampung.


"Tante baik-baik saja, Van," kilah Mentari. Jika dia boleh jujur bahwa dirinya tak pernah baik-baik saja dan bahkan saat ini dia adalah seseorang yang rapuh karena keadaan yang memaksanya dewasa di tengah kepatahhatiannya.


"Mana ponsel, Tante?" Gevan menengadahkan tangannya.


"Untuk apa?" kening Mentari menggerut sambil mengeluarkan ponselnya.


Gevan tak menjawab lelaki itu mengambil ponsel tante-nya lalu memasukkan beberapa digit nomor di sana.


"Telepon aku jika ada yang menganggu, Tante."


Setelah berkata demikian lelaki itu melenggang pergi meninggalkan Mentari yang masih mematung di tempatnya. Gadis itu tampak terkejut dengan sikap kepedulian Gevan padahal. Pasalnya sudah hampir 2 tahun dia kuliah di kampus ini, Gevan tak pernah sekalipun menegurnya apalagi tiba-tiba peduli seperti ini tentu saja membuatnya sangat heran.


Mentari menatap punggung Gevan yang menjauh lalu melihat kearah ponselnya. Dia tersenyum simpul, setidaknya masih banyak yang peduli padanya di saat dirinya butuh dukungan dari orang-orang yang dia sayangi.


Mentari berjalan menuju kelasnya. Tatapan gadis itu tampak sendu tak seperti biasanya. Sebenarnya dia tidak ingin masuk kuliah hari ini tetapi dia tidak mungkin larut dalam kesedihan karena hidup akan terus berlanjut.


"Tari," panggil Shierra berlari kearah sahabatnya itu.


"Ehh, Ra," balas Mentari dengan senyum sambil menyambut Shierra yang berlari kearahnya.


Shierra berjalan setengah berlari menghampiri Mentari.


"Ri." Gadis tersebut ngos-ngosan.


"Kenapa, Ra?" tanya Mentari.


"Sebentar." Shierra menarik nafasnya dalam sangat dalam. Lalu dia hembuskan perlahan.


"Kamu hubungan apa sama Gevan?" tanya Shierra penasaran.

__ADS_1


Ketika Shierra masuk gerbang kampus, semua mahasiswa dan mahasiswi heboh membicarakan Mentari. Entah kenapa setiap hari gadis ini selalu menjadi topik pembicaraan? Ada-ada saja gosip yang beredar tentang Mentari.


"Gevan?" ulang Mentari memastikan.


"Iya Gevan. Anak kedokteran yang tampan tiada tara itu!" seru Shierra sambil tersenyum kesem membayangkan wajah Gevan. Dia adalah penggemar para lelaki tampan di kampus ini. Selalu saja ada yang dia bicarakan dan menarik perhatiannya.


Mentari terkekeh pelan. Entah kenapa semua orang tampak tak menyukainya dekat dengan siapapun? Dekat dengan Rein salah, berangkat dengan Gevan langsung membuat heboh seisi kampus.


"Jawab Tari, jangan senyam-senyum tidak jelas," cetus Shierra memutar bola matanya malas.


Mentari tersenyum simpul, "Gevan itu keponakan aku," jawab Mentari.


"What's, keponakan?" tanya Shierra setengah tak percaya.


"Iya. Anak Kakakku yang paling tua. Sekarang aku sudah pindah dan berhenti bekerja," jelas Mentari yang tidak mau jika Shierra salah paham.


Gevan memang pria yang banyak di gilai oleh kaum hawa, derajat tingkatnya dan Rein hampir sama. Hanya saja dia bukan anggota BEM, Gevan hanya anak basket yang namanya sering muncul jika ada pertandingan basket antar kampus.


"Lho, kenapa? Kok bisa?" tanya Shierra heran. "Wait, tadi kamu bilang kalau Gavan adalah keponakan kamu. Berarti Dokter Meysa adalah kakak kamu?" tebak Shierra yang masih belum percaya.


Mentari nengangguk, "Iya Ra. Kak Meysa, kakakku yang paling tua," jawab Mentari menjelaskan.


"Tunggu, kamu sudah berhenti bekerja? Kenapa? Bagaimana hubungan kamu dan Kapten Divta?" cecar Shierra.


Shierra memang tahu hubungan Divta dan Mentari karena sahabatnya itu sering curhat dan meminta pendapat Shierra.


Mentari menggeleng dengan wajah lemesnya.


"Aku dan Mas Divta sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, Ra. Orang tua nya tidak setuju. Kamu tahu 'kan sejak awal Bu Melly tidak merestui hubungan kami," jelas Mentari tersenyum kecut.


"Mereka tidak tahu saja kalau kamu itu sebenarnya punya saudara yang lebih kaya dari mereka," cetus Shierra yang geram mendengar cerita Mentari.


"Sudahlah, tidak usah di bahas. Ayo masuk," ajak Mentari.


"Ayo."


Keduanya gadis itu menuju kelas mereka. Saat masuk ke dalam kelas banyak menatap Mentari sinis. Entah apa yang membuat orang tak menyukai dirinya? Padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun pada orang-orang itu.


.

__ADS_1


.


"Eh_"


Gevan terkejut ketika ada yang menarik tangan dan membenturnya ke tembok.


"Ada hubungan apa kamu dan Mentari?" tanya Rein menarik kerah baju Gevan. Dia baru saja mendengar gosip yang sedang heboh jika gadis yang dia sukai dekat dengan lelaki ini.


Gevan tersenyum sinis. Dia tampak menantang Rein. Sebenarnya dia tidak suka saat Rein mendekati tante-nya.


"Jawab!" sentak Rein semakin kuat mencengkram kerah baju Gevan.


"Apa urusannya sama kamu?" tanya Gevan menyunggingkan senyumnya. Terlihat sekali bahwa lelaki ini tidak baik untuk tante-nya, sangat posesif padahal belum juga jadian.


"Jangan pernah berani mendekatinya karena dia milikku." Rein menekan tubuh Gevan hingga menempel di dinding.


"Jangan terlalu percaya diri, Bung. Dia bukan milikmu." Gevan menepis tangan Rein yang mencengkram kerah bajunya.


"Brengsek."


Bugh!


Kedua lelaki itu baku hantam sehingga menimbulkan keributan. Bukannya melerai keduanya yang lain malah memberi semangat dan bertaruh siapa yang akan menang di antara keduanya.


Bugh!


Rein memukul wajah Gevan dan Gevan membalas. Dia tidak diam saja, dia membalas pukulan di wajah Rein dengan kasar. Sampai kapanpun dia tidak akan membiarkan Rein mendekati Mentari, lelaki ini tidak baik dari sifat dan tingkah lakunya. Harusnya Rein tanya baik-baik hubungan dirinya dan Mentari, bukan malah bertindak dengan kekerasan seperti itu ini.


"Astaga."


Tampak Mentari dan Shierra berjalan kearah dua pria yang tengah baku hantam tersebut.


"Stop!" teriak Mentari.


Namun, keduanya sama sekali tak mengindahkan dan masih asyik melanjutkan perkelahian tersebut dan bertarung siapa yang akan menang atau kalah. Wajah keduanya sudah babak belur dan bahkan darah mengalir di ujung pelipis dan sudut bibir.


"Hentikan!" sentak Mentari sekali lagi.


Sontak saja perkelahian tersebut terhenti dan keduanya melihat kearah Mentari.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2