Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 07.


__ADS_3

Namun, pada hari yang tak pernah kuduga. Jam-jam yang kuanggap semua akan baik-baik saja. Dia hempaskan segalanya. Dia hancurkan semua yang kubangun dengan sepenuh jiwa. Kamu katakan kepadaku. Kami tak punya waktu, dia ingin menjalani dengan orang yang ternyata diam-diam telah memintanya menjadi bagian hidupnya. Ah, aku sempat berlari menjauh dari tempatku. Menghabiskan hari-hari sedih di tempat lain. Untuk membunuh waktu yang terasa pedih. Aku bahkan tak percaya, bagaimana mungkin orang yang kusebut cinta ternyata menusukan luka. Dia bahkan terlihat tak peduli remuk perasaanku. Dia biarkan aku tenggelam pedih, seolah semua yang kuperjuangkan bukan hal yang dia butuhkan. Hingga waktu berlalu pelan-pelan aku paham satu hal tentang dia. Dia bukan orang yang kayak di perjuangkan sepenuh hati.


"Kakak."


Lamunanku terbuyarkan saat mendengar panggilan Shaka yang terasa memekik telinga. Aku merenggut kesal ketika melihat adikku masuk ke dalam ruanganku.


"Ada apa?" ketusku.


Shaka sekarang seorang pengusaha. Tentunya dengan bantuan Kak Naro. Usianya 25 tahun dan sekarang dia sedang ikut program magister untuk memperdalam ilmu bisnisnya. Dan satu lagi, dia masih jomblo akut yang belum pernah bersentuhan dengan perempuan. Usianya sudah tua tetapi manjanya luar biasa.


"Dih sama adik sendiri ketus, Kak," protes Shaka.


Jangan heran walau aku sudah menikah Shaka tetap manja seolah aku ini kakak yang harus menuruti semua keinginannya.


"Shaka kangen sama Kakak." Dia mengedipkan matanya hasil.


Kami satu ayah beda ibu. Tetapi walau begitu kami sering berdebat hal-hal tidak penting apalagi ada Kak Nara. Kecuali Kak Naro dari dulu sejak dulu dia memang sedingin bongkahan es di kutub Utara.


"Tumben kamu ke sini?" tanyaku.


"Dih, bukannya tanya kabar? Malah pertanyaan yang bikin naik bulu," gerutu Shaka.


Aku terkekeh pelan. Dulu sebelum menikah aku dan Shaka bagai anjing dan kucing. Hampir setiap hari kami bertengkar hal-hal tak penting. Sekarang, saat aku sudah menikah dia juga masih manja seperti dulu.


"Kenapa muka Kakak? Kayak baju tidak di setrika?"


Apa wajahku benar-benar terlihat kusut? Padahal aku sudah berusaha menutupi kesedihan di depan semua orang tetap saja masih terlihat. Aku mengambil ponsel dan menatap diriku di depan layar benda pintar tersebut. Memang benar mataku sedikit merah dan sembab.


"Kakak baik-baik saja?" tanya Shaka.


"Tidak, karena kedatangan kamu buat mood Kakak hancur," ketusku.


Shaka tertawa lebar. Adikku ini sangat tampan. Sebenarnya Daddy ingin Shaka jadi tentara. Tetapi lelaki dekil ini tidak mau dan lebih memilih jadi pengusaha.


"Jahat amat, Kak. Sama adeknya," sindir Shaka.


Aku tak menanggapi dan sibuk dengan kertas di tanganku. Jam makan siang nanti aku akan ke rumah sakit menemui Pak Rey untuk mengikuti baju calon istrinya.


"Kak," panggil Shaka.

__ADS_1


"Iya?" Aku mengangkat pandanganku pada Shaka. "Kenapa?"


"Kakak tidak takut membiarkan Mbak Queen lama-lama tinggal sama Kakak. Apalagi riwayat Mbak Queen itu anak haram, Kak. Mama nya merebut suami Tante Senja. Bisa saja 'kan dia juga merebut Mas Gevan?"


Shaka ini laki-laki tetapi mulutnya seperti perempuan saja dan entah bagaimana tebakannya benar walau aku belum memastikan kejadian yang sebenarnya.


"Mana mungkinlah," kilahku menepis perkataan Shaka.


"Iya siapa tahu saja, Kak," ujar Shaka.


"Terus kamu ke sini mau apa?" tanyaku.


"Malam ini Daddy sama Mama mengundang Kakak makan malam di rumah," ucap Shaka.


"Lho tumben Daddy tidak telepon Kakak saja?" timpalku.


"Mama itu maunya bicara langsung, Kak," jelas Shaka.


"Iya. Nanti malam Kakak ke sana," jawabku.


"Jangan lupa ajak Mas Gevan dan Lala," sambung Shaka lagi.


"Iya, Shaka," tekanku.


"Kak, Shaka pamit dulu masih ada meeting," pamit Shaka.


"Iya, kamu hati-hati."


Setelah Shaka keluar dari ruanganku. Aku menghembuskan napas kasar. Ini sudah ketiga kalinya aku mendengar pembahasan tentang Mbak Queen.


"Apa yang kalian takutkan itu memang sudah terjadi. Tetapi aku bisa apa? Mas Gevan telah memilih menghancurkan keluarganya sendiri."


*


*


Aku turun dari mobil dan berjalan masuk menyusuri koridor rumah sakit. Langkah kakiku kian lebar sambil menuju ruangan tempat istri Pak Rey di rawat.


"Bu Tata," sapa Pak Rey.

__ADS_1


"Selamat siang, Pak. Maaf saya terlambat," ucapku.


"Sama sekali tidak, Bu. Ayo masuk!" ajak Pak Rey.


"Baik, Pak."


Tunggu, kenapa ini ruangan ICU? Apa calon istri Pak Rey sakit parah?


Aku seketika terdiam menatap wanita yang terbaring di atas ranjang tersebut. Tatapan matanya teduh dan sendu.


"Kak Sherly?" gumamku.


Kak Sherly adalah mantan pacar Kak Naro. Dia menghilang tiba-tiba karena Kak Naro tidak pernah lagi membahas tentang mantan kekasihnya ini.


"Hai, Tata," sapanya.


Tentu aku mengenal dia. Aku yang sudah membuat Kak Naro dan Kak Sherly menjalin hubungan ketika kakakku masih memiliki istri yaitu, Ariana.


"Kak, apa yang terjadi? Kenapa Kakak bisa sampai seperti ini?" cecarku.


Pak Rey tampak terkejut ketika melihat aku dan calo istrinya saling mengenal satu sama lain.


"Kakak baik-baik saja, Ta," jawab Kak Sherly lirih dengan suara serak dan parau yang tidak terdengar jelas.


"Tidak apa-apa bagaimana, Kak? Kakak sakit," ujarku dengan mata berkaca-kaca.


Dulu aku merasa bersalah karena sudah memasukkan Kak Sherly di dalam rumah tangga Kak Naro dan Ariana hingga hampir terancam rusak.


"Ibu, kenal calon istri saya?" tanya Pak Rey.


Aku mengangguk. Bagaimana aku tak kenal? Kak Sherly ini model ternama yang sering terlihat di majalah dewasa terkini. Namun, beberapa waktu terakhir namanya memang tak lagi menjadi pembincangan warganet.


"Kak, Ke mana saja selama ini?" cecarku.


"Ta." Air mata Kak Sherly menetes.


Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kak Sherly tampak kesakitan dengan banyak selang yang mengalir di tubuhnya. Dulu dia cantik dan terawat apalagi model tentu harus pandai merawat diri. Namun, Kak Sherly yang aku lihat sekarang jauh berbeda dari yang sebelumnya. Aku sampai menutup mulut tak percaya melihat kondisi Kak Sherly.


Entah bagaimana reaksi Kak Naro ketika bertemu dengan wanita ini? Setelah Ariana meninggal dunianya hanya sekilas pekerjaan dan ketiga anak kembarnya. Dia sama sekali tidak tertarik dengan wanita lain dan masih betah dalam kesendirian.

__ADS_1


"Calon istri saya menderita kanker payudara stadium lanjut. Tapi saya akan tetap menikahi dia," ucap Pak Rey.


Bersambung ....


__ADS_2