
"Apakah sudah lebih enak, Kak?" tanya Anggi.
Ariana mengangguk seraya memaksakan senyum. Siapapun tahu bahwa senyum itu adalah palsu.
"Iya sudah selesai ini kamu pulang sama Naro ya," ucap Kak Nara.
"Kak_"
"Kenapa, Kak?" Anggi memincingkan matanya curiga padaku. "Kakak tidak mau mengantar istri Kakak sendiri?" tuding Anggi.
Entah bagaimana tudingan Anggi ini bisa benar. Tak bisa ku bayangkan satu mobil dengan wanita yang sangat ku benci tersebut.
"Kak, Arin di antar sama Anggi saja," sarkas Ariana yang seolah tahu jika aku keberatan satu mobil dengan wanita murahan ini.
"Anggi mau antar Uny, Kak. Kakak balik sama Kak Naro. Lagian Anggi sekalian mau antar Kak Nara," ucap Anggi beralasan.
"Iya, Kak. Pulang saja sama Kak Naro. Lagian kalian pasangan suami istri, lho. Kenapa malah kayak canggung begitu?" sambung Auny.
Kuhempaskan napas kasar. Kalau aku menolak pasti Kak Nara akan berceramah lagi dan memarahiku.
"Iya sudah, aku antar dia pulang," sahutku malas.
"Kalau mau mengantar itu yang ikhlas, Kak. Sama istri sendiri saja pelit, giliran sama wanita lain malah di emm," sindir Anggi.
Aku langsung kikuk. Rasanya aku ingin sekali menyumpal mulut ember Anggi itu. Untung saja Kak Nara tidak curiga.
"Sudahlah, ayo!" ajakku mengulurkan tangan pada Ariana.
"Cie, romantis. Penggantin baru," goda Auny tersenyum kesem-kesem.
"Kak, di gendong dong Kak Arin-nya!" suruh Anggi.
Aku mengangguk saja daripada berdebat lama dengan para perempuan ini.
"Ayo!"
Kuangkat tubuh wanita ini menuju mobil. Saat kulitku dan Ariana saling bersentuhan, kenapa aura kulitnya sangat panas? Apa wanita ini baik-baik saja?
"Maaf, Kak. Merepotkan," ucapnya menunduk.
Tangan Ariana melingkar di leherku. Sial, kenapa jantungku terasa berdebat. Ini memang pertama kalinya kami bersentuhan setelah sang menjadi pasangan suami istri. Aku tak aku tergoda, ku tepis semua perasaan yang tak mungkin ini.
Kududukan dia di samping bangku kemudi. Aku tak mengucapkan kata apapun, rasanya aku muak setiap kali melihat wajah menjijikkannya.
Aku masuk ke dalam dan melajukan mobil tersebut meninggalkan BabyShop. Ariana tak berbicara apapun, dia menatap kosong ke depan dengan tangan yang terletak di perut, sesekali dia usap perut ratanya tersebut. Tak biasanya wanita ini diam, biasanya dia akan mengajakku berbicara walau aku bosan mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu sering mimisan?"
Entah keberanian dari mana sehingga pertanyaan tersebut keluar dari bibirku. Aku melirik wanita yang ada di sampingku.
"Hanya sesekali, Kak," jawabnya tersenyum namun dengan kepala menunduk.
Aku merenggut kesal. Kenapa wanita ini seperti enggan melihatku? Harusnya aku yang jijik melihatnya bukan dia?
Aku tak menanggapi dan masih fokus menyetir. Sesekali ku lirik Ariana yang tampak menjaga jarak denganku. Ada apa sebenarnya dengan wanita ini? Dia tampak memegang perutnya, apa dia kesakitan?
"Perut kamu sakit?"
Walau aku tak mencintai dan menginginkannya. Tetapi dia tetap istriku walau hanya di atas kertas saja tanpa adanya cinta.
"Tidak, Kak." Dia menggeleng.
"Jangan bohong, wajah kamu pucat," sergahku.
"Aku hanya kelelahan, Kak," sahutnya lagi.
"Sampai mimisan?" tukasku.
Aku menjawab dengan anggukan. Aku berusaha tak ingin tahu tentang dirinya. Namun, kenapa rasanya aku penasaran ada apa yang di rasakan oleh wanita ini? Aku yakin dia tidak baik-baik saja. Dia pasti sedang merasakan sesuatu yang berbeda.
Aku tak menjawab hingga mobil itu berhenti di depan rumah mewah kami.
"Kamu turun! Aku mau balik ke kantor," ucapku.
"Baik, Kak."
Dia turun dari mobil. Wanita itu seperti meringgis kesakitan saat keluar. Dia sedikit membungkuk dan memegang perutnya. Aku berusaha memalingkan wajahku, jangan sampai aku peduli. Aku tidak mau dia merasa jika aku peduli padanya.
Lama aku berdiam di dalam mobil sambil melihat Ariana masuk ke dalam rumah. Aku kembali melajukan mobilku meninggalkan kediamanku.
"Apa yang terjadi pada Arin? Apa dia baik-baik saja?" gumamku.
Tak bisa ku pungkiri walau cuek dan terkesan tak peduli tetapi saat melihat wajah pucatnya, aku merasa panik dan sedikit khawatir.
"Argh, tidak. Dia wanita murahan dan bekas banyak pria. Aku tidak boleh memikirkan pelacur tersebut."
*
*
*
__ADS_1
Mobilku terparkir di depan rumah mewah Daddy. Entah ada apa Daddy memanggil saat ini?
"Dad," panggilku.
"Silakan duduk, Son!" ucap Daddy mempersilakan.
"Terima kasih, Dad." Aku duduk di sofa. "Mama ke mana?" tanyaku tak melihat Mama.
"Lagi ketemu sama Tante Senja. Maklum ibu-ibu," sahut Daddy.
Aku manggut-manggut saja laku menyesap teh manis hanv tersedia di atas meja. Aku memiliki riwayat penyakit maag, jadi tidak boleh minum kopi. Teh pun hanya sesekali.
"Ada Daddy panggil Naro ke sini?" tanyaku.
Daddy memang bukan ayah kandungku. Tetapi dia menyayangiku seperti kasih sayang seorang ayah pada anaknya. Walau tak ada darahnya yang mengalir di tubuhku. Namun, cara Daddy mendidikku membuatku merasa memiliki ayah kandung setelah sekian lama kehilangan sosok tersebut.
"Bagaimana hubunganmu dan Arin?"
Kenapa semua orang bertanya hal yang sama? Aku sangat bosan dengan pertanyaan ini. Jika boleh jujur, hubungan kami tak pernah baik sejak menikah.
"Baik, Dad," sahutku asal sambil tersenyum. Aku tak mau semua orang tahu bahwa pernikahan kami tak baik-baik saja.
"Syukurlah. Daddy senang mendengarnya. Semoga kamu bisa menjadi ayah yang baik untuk bayi dalam kandungan Ariana," ucap Daddy.
Rasanya aku ingin muntah ketika mendengar ucapan Daddy. Selama hidup aku tak pernah ingin menjadi ayah dari bayi yang darahku tak mengalir sama sekali. Aku tak mau dan tak rela mengakui bayi tersebut.
"Son," panggil Daddy sekali lagi.
"Iya, Dad." Kami memang sering mengobrol di tengah kesibukan. Entah itu membahas pekerjaan atau hanya sekedar bermain catur setelah pulang dari kantor.
"Daddy dapat laporan dari Anggi, katanya kamu sama wanita di bandara. Siapa wanita itu, Son?"
Deg
Jantungku terasa ingin meledak ketika mendengar pertanyaan Daddy. Anggi benar-benar bermulut baskom, padahal aku sudah memperingatkan agar dia tidak mengatakan pada siapapun.
"Itu Sherly, Dad. Teman aku," jawabku.
Daddy manggut-manggut. Semoga saja dia tidak bertanya lebih dalam tentang hubunganku dan Sherly. Aku belum siap di ketahui semua orang bahwa selama ini aku tak bahagia dengan pernikahanku dan menyiksa Ariana yang notabene perempuan bekas banyak pria.
Sherly adalah wanita incaranku sejak SMA. Dia adik kelas yang paling cantik kala itu. Namun, untuk bisa menaklukan hatinya aku harus benar-benar menjadi orang sukses seperti sekarang ini dan terbukti jika dia jatuh ke dalam pelukanku.
"Daddy, harap kamu setia sama Arin. Kamu jaga dia dengan baik. Jangan sampai kamu menyesal setelah kehilangan dia nantinya."
Bersambung...
__ADS_1