Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Menerima kenyataan.


__ADS_3

Nikmati saja proses lukanya pelan namun pasti semuanya akan kembali membaik. Ya, tidak ada yang tahu betapa lama waktu untuk menyembuhkan luka. Hanya saja, satu yang pasti, nanti akan ada seseorang yang kembali mengisi ruang kosong di hati untuk jatuh cinta. Walau aku sendiri tidak tahu, apakah setelah ini bisa jatuh cinta untuk yang ke sekian kalinya. Bisa saja orang yang sama, yang kembali datang dengan penyesalan dan memiliki mencintaiku selamanya. Aku berharap orang itu adalah Nara karena dia tidak akan mungkin kembali lagi padaku.


Hari ini kondisi Ayah sudah membaik. Dia sudah bangun dan mau makan sambil disuapi oleh Bunda yang merawatnya dengan telaten. Kadang aku iri melihat Ayah dan Bunda yang begitu bahagia dengan kehidupan mereka. Sementara aku, jangankan bahagia rasa cinta pun seperti sudah tak layak aku dapatkan.


"Son, kapan kamu akan mengurus semua kasus ini?" tanya Ayah.


"Semua sudah di urus Betrand, Yah. Di bantu sama Om Zaenal dan teman-teman Bintang yang lain," jawabku


Aku memiliki beberapa relasi pertemanan anggota kepolisian dan TNI AD dan AL. Jadi mereka bisa membantu menyelesaikan kasus ini dan aku berada jika Ikmal segera di penjara.


"Apa Ayah masih merasakan sakit?" tanyaku sakit.


Sikap Ayah tidak seperti kemarin yang dingin tak tersentuh. Sekarang dia kembali hangat dan juga bisa menerima kondisi Bee yang hamil di luar nikah.


"Bunda kenapa?" tanya Ayah melihat Bunda yang melamun saja.


"Bunda kangen sama Nara, Yah."


Aku seketika terdiam ketika Bunda mengatakan merindukan mantan istriku tersebut. Apa boleh buat jika aku tak bisa mewujudkan impian mereka untuk memiliki menantu terbaik seperti Nara. Aku masih terbayang semalam Rimba menarik tangan Nara dengan kasar ketika ketahuan berbicara denganku. Hal ini membuat aku semakin yakin bahwa Nara tidak bahagia.


"Nanti, Bintang akan mengajak Nara datang ke rumah, Bund," jawabku.


Ayah dan Bunda serentak melihat kearahku. Mereka tidak tahu jika anak lelakinya ini sedang jatuh cinta pada mantan istri sendiri.


"Kamu yakin?" tanya Ayah setelah tak percaya.


"Bintang dan Nara sepakat untuk berteman, Ayah. Kita tidak akan menyimpan dendam satu sama lain. Bintang juga sudah ikhlas melepaskan Nara," jelasku. Sebelum menghilang dan tak kembali aku sudah memperbaiki hubunganku dan Nara. Semoga setelah ini kami bahagia dan menjalani kehidupan kami masing-masing.


Aku membantu Bunda memasukkan barang-barang Ayah ke dalam koper. Aku bernafas lega saat kondisi Ayah mulai membaik. Sekarang fokusku salah menyelesaikan masalah Bee dan Ikmal.

__ADS_1


"Pelan-pelan, Yah!" Aku membuka pintu mobil dan membantu Ayah masuk.


Aku masuk ke dalam mobil dan susul Bunda yang duduk di samping Ayah. Kunyalakan mesin mobil dan meninggalkan rumah sakit yang sempat menjadi tempat tinggal Ayah beberapa hari.


"Son, setelah kasus Ikmal selesai apa kita akan pindah ke Singkawang?" tanya Ayah.


Aku memang mengatakan pada mereka bahwa aku mengajak mereka pergi dari kota ini. Bukan apa, inilah caraku menghindari rasa sakit yang terasa menusuk ke dalam jiwa dan kalbu. Aku tak mau terus terjebak di masa lalu. Mungkin inilah cara agar aku bisa melepaskan Nara dan membiarkan dia hidup bahagia selamanya.


"Iya, Ayah. Bintang sudah beli rumah baru di sana. Om Fajar juga sudah mengurus semua surat pindah kita."


Aku tahu pergi bukanlah cara terbaik untuk melupakan semua masalah yang aku hadapi. Tetapi inilah caraku untuk bertahan hidup lebih lama menghadapi kejamnya persoalan hati.


"Son, Bunda yakin. Suatu saat kamu akan bahagia dan menemukan wanita yang tepat. Bunda senang akhirnya kamu melepaskan Nara bahagia dengan pilihannya sendiri," ucap Bunda ikut menimpali.


Aku mengangguk, apa Bunda tahu? Hanya Nara lah wanita yang aku inginkan menjadi istriku lagi di dunia ini. Sekalipun ada wanita yang lebih dari segalanya meminta aku secara cuma-cuma. Aku akan menolak dengan keras. Hatiku sudah terpaut untuk Nara seorang.


Ada Om Fajar dan Tante Elly yang datang kemarin untuk menjengguk Bee dan Ayah. Mereka sekalian datang untuk jemput kami pindah ke Singkawang bersama-sama.


"Pelan-pelan, Lang," ucap Om Fajar pada Ayah.


"Terima kasih, Mas," jawab Ayah.


Kami masuk ke dalam. Bunda mendorong kursi roda Ayah dengan di bantu oleh Tante Elly. Ayah memiliki tiga saudara yang paling tua Om Fajar yang kedua Tante Bulan dan sekarang menetap di Singkawang dan yang bungsu adalah Ayah. Tante Bulan tidak sempat datang ke sini karena sibuk dengan pekerjaannya di dunia politik.


Om Fajar dan Tante Elly sama-sama mantan dokter dan mereka sudah pensiun di dunia medis. Untuk rumah sakit yang di Singkawang di teruskan oleh Galaksi, anak sulung Om Fajar dan Tante Elly.


"Bagaimana keadaan kamu, Lang? Apa sudah lebih baik?" tanya Om Fajar.


"Sudah mendingan, Mas. Hanya perlu istirahat saja," jelas Ayah.

__ADS_1


"Mas, aku siapkan makanan dulu ya," ucap Bunda.


"Iya, Sayang," balas Ayah.


Bunda dan Tante Elly menuju dapur menyiapkan makan siang untuk keluarga. Sementara aku duduk di rumah tamu bersama Ayah dan Om Fajar. Sepertinya ada sesuatu penting yang ingin di bahas oleh Om Fajar, wajahnya tampak serius.


"Bagaimana kasus Ikmal, Son?" tanya Om Fajar padaku.


"Sedang di proses, Om. Teman-teman Bintang sedang mengumpulkan segala bukti pemerkosaan Ikmal terhadap Bee," jelasku.


Teringat pada adikku, membuat dadaku kembali sesak. Aku paham perasaan hancur Bee. Dia pasti berpikir malu karena melahirkan tanpa suami. Tak hanya Bee yang hancur tetapi juga aku dan semua keluarga. Inilah salah satu alasan kenapa aku memilih mengajak keluargaku pindah ke Singkawang agar kami terjebak dalam perasaan seperti ini.


"Baguslah, Om harap kasus ini segera cepat selesai. Agar kita bisa membawa Bee sebelum dia melahirkan," ucap Om Fajar.


Aku mengangguk. Kuhela nafas sepanjang mungkin dan terasa ada sesuatu yang mencekik di dalam sana.


"Bintang, pamit ke kamar dulu, Yah. Om," pamitku.


"Iya, Son."


Aku masuk ke dalam kamar dengan perasaan hampa. Semoga setelah ini masalah selesai agar aku tenang dan tak terganggu lagi dengan semua kejadian ini.


Aku membaringkan tubuhku di ranjang. Tanpa peduli dengan pakaian yang masih menempel di tubuhku.


"Hufh, Nara." Kuhela nafas sepanjang mungkin lalu aku hembuskan pelan.


Pelukan Nara kemarin masih membekas di tubuhku, seandainya ada waktu untuk kembali padanya. Aku ingin berlama-lama memeluk tubuhnya. Untuk melepaskan semua kerinduan yang ada di dalam dadaku.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2