
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
"Bagaimana keadaan Nara?" tanya Pak Dante melirik ku yang diam dengan tatapan kosong.
"Sudah lumayan, Pak," sahutku.
Aku menghela nafas panjang. Mendengar saran Ibu yang meminta ku menyelidiki dan mencari tahu siapa orang tua kandung ku, membuatku pikiran ku tertuju pada Pak Dante.
"Ada apa?" tanya Pak Dante, seperti tahu bahwa aku sedang berpikir.
"Pak keluarga almarhum istri Bapak, tinggal di mana?" tanya ku penasaran.
Keningnya mengerut heran. Pasti Pak Dante heran kenapa aku tiba-tiba menanyakan hal ini.
"Kenapa?"
"Saya hanya ingin tahu, Pak," jawabku setengah kesal. Aku butuh jawaban bukan pertanyaan.
"Mereka tinggal di Jakarta," jawab Pak Dante.
Seperti nya Pak Dante tak ingin membahas tentang almarhum istrinya. Padahal aku benar-benar ingin mengorek siapa istri Pak Dante? Kata Ibu aku kembar, tetapi belum menanyakan dari mana Ibu dan Ayah tahu jika aku kembar? Bukankah mereka menemukan ku sejak bayi? Apa itu artinya mereka tahu di mana orang tua kandung ku?
"Kamu seperti nya ingin tahu sekali tentang istri saya?" tanya Pak Dante menatapku curiga. .
Jelaslah aku ingin tahu, almarhum istri Pak Dante karena wajah nya sangat mirip dengan ku. Apalagi kata Ibu kalau aku ibu kembar.
"Jangan salah paham Pak. Saya hanya ingin tahu kenapa wajah almarhum istri Bapak bisa mirip sama saya? Apakah kami kembar terpisah? Atau bisa jadi kami sengaja di pisahkan?" ucap ku menerka-nerka dan benar-benar penasaran. Aku ingin sekali tahu seperti apa dulu aku bisa ditemukan didepan rumah.
Pak Dante tampak terdiam, dia kembali fokus menyetir. Aku yakin jika Pak Dante ini mengetahui sesuatu yang tidak boleh aku ketahui, tetapi apa? Aku sungguh penasaran apa yang tak boleh aku tahu?
"Pak, sebaiknya Bapak sedikit menjaga jarak sama saya dan anak-anak. Saya tidak mau nanti semua orang beranggapan saya menggoda Bapak," ucapku. Aku bukan tipe orang yang bisa menahan sesuatu yang ingin aku katakan.
"Kenapa malah memikirkan perasaan orang lain? Kita tidak melakukan hal yang salah," jawab Pak Dante santai.
__ADS_1
"Saya tidak memikirkan perasaan orang lain Pak. Tapi saya memikirkan perasaan saya dan anak-anak, saya tidak mau kejadian seperti_"
"Divta?" potongnya.
Aku melihat Pak Dante dengan penuh selidik, dari mana dia tahu tentang Divta. Aku tak pernah menceritakan tentang masalah Divta dan Chelsea padanya?
"Bapak tahu?" Aku langsung menghadap Pak Dante. "Tahu dari mana Pak? Saya tidak pernah menceritakan hal ini pada Bapak?" tanya ku menyelidik.
"Tentu saja saya tahu," jawab nya santai.
"Iya, Bapak tahu dari mana?" desak ku penasaran.
Pak Dante hanya diam saja dan menampilkan wajah dinginnya. Sementara aku langsung emosi, dia benar-benar tahu atau memang so tahu.
Aku melipat kedua tangan ku di dada karena kesal dan juga geram. Kenapa semua orang selalu membuat ku emosi dan ingin marah?
"Saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu sama Divta saat dirumah sakit kemarin," jelas nya. "Chelsea itu kakak ipar saya," sambungnya.
Aku terkejut dan sontak saja menatap Pak Dante.
"Kakak ipar?" tanya ku tak percaya
"Apakah Chelsea kakak kandung istri Bapak?" tanya ku penasaran. Ada apa ini, kenapa seperti nya banyak teka-teki yang berkeliaran dikepalaku? Apa selama ini Pak Dante dan Divta sudah saling kenal sejak lama tetapi mereka pura-pura tidak kenal, seperti di novel-novel?
"Lebih tepatnya kakak tiri," jawab Pak Dante.
Aku menyandarkan punggung ku seraya memejamkan mata. Kuhela nafas sepanjang mungkin untuk menghilangkan rasa aneh di dalam dadaku.
"Apakah selama ini Bapak dan Divta saling kenal, sebelum bertemu saya?" tanya ku penasaran.
"Iya," jawab nya.
Aku tak mengerti kenapa mereka menyembunyikan kenyataan ini dan berpura-pura seperti orang yang baru bertemu? Mereka sama-sama ipar tetapi kenapa tampak tak cocok?
"Kenapa kamu seperti terkejut sekali?" tanya nya santai.
"Jelas terkejut lah Pak, karena ketika pertama saya memperkenalkan Bapak sama Divta, kalian seperti orang asing. Divta juga tidak mengatakan jika dia mengenal Bapak," jawab ku kesal.
__ADS_1
"Oh."
Lelaki ini benar-benar seperti kulkas. Sangat dingin, tetapi bisa juga hangat. Apa Pak Dante berpikir kalau aku memiliki niat untuk mendekati nya? Sungguh pemikiran tersebut sama sekali tidak ada dikepalaku, tidak ada untung nya aku mendekat Pak Dante. Aku tak butuh harta atau ketampanan. Aku bahkan tak tahu, apakah aku bisa membuka hati untuk orang baru?
"Pak saya turun disimpang saja," ucap ku.
"Lho, kenapa? Masih jauh." Kening nya berkerut heran.
"Saya mau beli sarapan, Pak," jawab ku beralasan.
"Ya sudah beli, saya tunggu." Dia menepikan mobilnya.
"Bapak duluan saja. Lagian sudah tidak jauh, Pak," sahutku seraya melepaskan sealbeat ditubuhku. Semoga saja dia mengiyakan.
"Masih jauh, tidak apa saya tunggu. Sekalian belikan saya juga. Saya belum sarapan," sergah nya. Dia mengambil dua lembar uang berwarna merah didalam dompet nya. Orang kaya mau beli sarapan saja yang keluar uang merah-merah.
"Pakai uang saya saja, Pak," tolak ku.
"Pakai uang saya saja. Besok-besok gantian." Padanya menyedorkan uang tersebut padaku.
Aku merenggut kesal. Andai saja dia bukan boss ku, sudah pasti akan ku ajak baku hantam.
Aku mengambil uang dari tangan nya dan keluar dari mobil. Padahal tadi aku hanya beralasan saja supaya tidak satu mobil dengannya, aku tidak mau terlihat oleh para karyawan. Mereka akan berpikiran bahwa aku memanfaatkan keadaan.
Aku mendekati penjual nasi kuning yang tidak jauh dari mobil Pak Dante, padahal tadi aku sudah sarapan. Tetapi demi menghindari satu mobil dengan nya aku malah terjebak. Apakah ini namanya sengaja makan tuan?
Aku membawa kantong kresek masuk kedalam mobil, ku habiskan saja yang dua ratus ribu yang diberikan Pak Dante, anggap saja dalam edisi balas dendam.
"Mampu makan sebanyak itu?" kening nya mengerut heran.
"Tidak. Ini nanti mau saya bagikan ke yang lain. Siapa tahu mereka belum sempat sarapan," jawab ku memaksakan senyum manis. Aku berharap dia marah karena uang nya habis, setelah itu dia pasti beranggapan kalau aku matre jadi aku bisa menjauh dari nya.
"Oh bagus lah," sahut nya.
Aku menghela nafas panjang. Kenapa respon orang ini sangat santai? Apa dia tidak sayang, uang dua ratus ribu habis hanya untuk membeli sarapan?
Aku kembali ke mode diam. Sekarang pikiranku kembali berkelana. Kepergian Mas Galvin masih meninggalkan luka dalam dihatiku. Walau bagaimanapun dia lelaki yang pernah hidup bersama ku dalam waktu lama. Jujur saja setelah dia tidak ada, seperti ada sesuatu yang hilang di rongga dadaku.
__ADS_1
Bersambung....