Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Kakak adik.


__ADS_3

Cintalah barangkali yang masih membuat aku tetap bertahan. Jalnhajh membuat aku tetep bertahan dengan perasaan yang sama. Aku tidak pernah berhenti mencintainya. Meski semua rencana yang kutata sudah tak jelas lagi. Meski langkah-langkah terasa tak pasti. Namun, aku percaya. Aku memilih tetap di sini. Aku menantinya memperjuangkan hidupnya. Aku tahu, kemungkinan dia tak kembali selalu ada. Tetapi aku tidak berpikir untuk jatuh cinta kepada yang lainnya. Sebab, dia pernah dagang sebagai penyembuh, aku percaya, dia tak akan pergi sebagai pembunuh. Aku ingin tetap berjuang. Semoga waktu dan rindu kembali membawanya pulang. Ke dekapku, mendekat dan tak pernah lagi berlalu.


"Pelan-pelan, Bee."


Aku membantu adikku duduk. Saat ini aku sedang menemani adikku melakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk memastikan posisi bayi dalam kandungannya. Usia kandungan Bee sudah memasuki bulan ke-delapan dan tidak lama lagi bayi dalam kandungannya akan hadir di dunia.


"Terima kasih, Mas." Bee tersenyum lalu duduk di bangku depan meja Dokter Susi, spesialis kandungan.


"Bagaimana kondisi kandung adik saya, Dok?" tanyaku hati-hati sambil tangan yang mengusap perut Bee.


"Kondisi kandungan Ibu Bee baik-baik saja, Dok. Dan selamat bayinya berjenis kelamin perempuan," jelas Dokter Susi.


Aku tersenyum hangat melihat wajah bahagia adikku. Aku tahu Bee terluka dengan kondisi dan keadaannya. Sama aku juga, tetapi aku mulai menerima jalan dan takdir yang telah tertuliskan untuk kami.


Bee sebenarnya menelan pil pahit dalam hidupnya. Dalam posisi seperti ini dia sangat butuh sosok seorang suami untuk menemani masa-masa kehamilannya. Namun, apa boleh buat masa depannya telah hancur hanya karena si brengsek Ikmal.


"Saya akan resepkan vitamin untuk Ibu Bee. Kalau bisa sesekali jalan-jalan ya, Bu. Ibu harus banyak bergerak," pesan Dokter Susi.


"Terima kasih, Dok," jawab Bee.


Tak kulihat lagi kesedihan di hati Bee seperti beberapa bulan lalu. Mendengar anaknya yang berjenis kelamin perempuan dia tampak bahagia dan tak sabar. Bahkan dia hampir lupa bahwa dulu pernah berniat membunuh bayi tak berdosa tersebut.


"Ayo, Bee. Pelan-pelan," ajakku membantunya berdiri.


"Iya, Mas."


Kami keluar dari ruangan Dokter Susi setelah selesai memeriksa kandungan Bee. Banyak yang salah paham jika kami pasangan suami istri, apalagi wajah kami yang berbeda karena beda ibu. Namun, kesalahpahaman itu tak berlangsung lama saat mereka tahu bahwa ternyata kami saudara kandung.


"Mas, maaf ya. Bee sudah merepotkan Mas," ucap Bee dengan helaan nafas panjang sembari mengusap perut buncitnya.


"Jangan bicara begitu. Kamu sama sekali tidak merepotkan Mas," jawabku.


Tanggungjawab sebagai seorang kakak adalah menjaga adiknya, itulah yang sedang aku lakukan sekarang. Walau Bee tak seperti dulu yang ceria dan cerewet tetapi sifat itu telah merubah dia menjadi wanita dewasa.

__ADS_1


"Kita langsung pulang ya. Mas antar kamu dulu," ucapku.


"Mas masih banyak pekerjaan?" tanya Bee.


Sebenarnya tidak. Tetapi bekerja adalah caraku menghilangkan stress. Apalagi bertemu dengan para pasien yang mengobrol dengan mereka.


"Lumayan," jawabku asal.


"Kalau begitu Bee menunggu di ruangan Mas saja. Kasihan Mas bolak-balik." Jarak rumah sakit dan tempat tinggal kami cukup jauh.


Aku berpikir sejenak. Suasana rumah sakit yang bau obat tentu tidak baik untuk kesehatan kandungan Bee.


"Hem, tidak. Kita pulang saja," tolakku. Aku tak mau adikku kenapa-kenapa. Aku memang sedikit posesif pada Bee apalagi sejak kejadian itu.


"Lalu pekerjaan Mas bagaimana?" tanya Bee.


"Kakak selesaikan besok. Lagian tidak ada jadwal kontrol pasien hari ini," jelasku.


Bee mengangguk setuju jika kami pulang ke rumah.


"Mas," panggil Bee.


"Iya, Bee. Kenapa?"


"Mas sampai kapan akan seperti ini?" tanya Bee.


Pertanyaan tersebut berhasil membuatku berdiam. Itulah yang sedang aku tanyakan pada diriku sendiri, sampai kapan aku akan seperti ini? Mungkin semua orang mengira hidupku sempurna dengan segala kemewahan yang ada. Tetapi tak ada yang tahu jika aku hanyalah lelaki yang patah hati setiap saat.


Jari-jari tanganku telah membawa aku mencengkram kuat stir mobil. Kugantungkan rasa sakit pada benda mati tersebut.


"Bes tahu Mas masih mencintai Kak Nara. Tapi Mas tidak bisa hidup seperti ini terus. Mas harus memikirkan masa depan Mas sendiri." Bee mengenggam tangan kiriku.


Masa depanku adalah Nara, jika sekarang dia sudah tidak ada. Artinya aku tidak memiliki masa depan.

__ADS_1


"Kak Bee sudah bahagia dengan pilihannya sendiri."


Aku sontak melihat kearah Bee yang mengatakan jika Nara bahagia. Jika dia bahagia aku tidak akan mungkin terus terngiang padanya. Entah kenapa hatiku mengatakan bahwa Nara sekarang tak baik-baik saja?


"Ikutilah keinginan Ayah dan Bunda untuk menikah dengan Tiara," sambung Bee. Tiara adalah anak teman Ayah yang kemarin sempat di kenalkan padaku, seorang wanita yang terjun dalam dunia politik.


Aku menggeleng dengan cepat, "Maaf, Bee. Mas tidak bisa. Mas tidak mau menjadikan orang lain sebagai pelampiasan. Mas akan menikah jika sudah menemukan perempuan yang tepat," tolakku.


Aku akan menikah jiwa waktunya tiba. Tetapi untuk sekarang aku masih ingin menikmati kesendirianku. Aku ingin menikmati masa-masa kepatahhatianku. Kata orang-orang cinta lama takkan bisa pergi jika tak menemukan orang baru. Namun, bagiku itu salah. Cinta lama akan hilang jika mengikhlaskan kepergiannya. Lalu apakah aku sudah ikhlas atas perpisahanku dan Nara.


"Bee harap Mas bahagia," ucap Bee lagi.


"Mas akan bahagia. Kamu tidak perlu khawatir." Kuusap kepala Bee. Adik kecil yang dulu sering ku ganti popoknya ini sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.


"Iya, Mas. Jangan sedih terus ya. Ini sudah lebih dari setahun." Bee bersandar di lengan kekarku.


Kami berdua adalah orang-orang yang patah hati karena sebuah rasa sakit yang menghantam dada. Saling menguatkan dan merangkul adalah pilihan yang tepat ketika semua perasaan sakit itu membuncah di dalam dada.


"Oh ya, Mas. Kalau anak Bee lahir nanti, apa boleh dia panggil Mas, ayah?" pinta Bee.


Aku tersenyum hangat dan tanganku terulur mengusap perut buncitnya.


"Tentu saja boleh. Dia juga akan jadi anak Mas nantinya," jawabku.


Bee membalas dengan senyuman. Semburat kebahagiaan terlihat jelas di raut wajahnya.


Aku tak bisa bayangkan usia semuda ini sudah harus menanggung rasa sakit dan beban berat. Apalagi setelah ini dia akan melahirkan tanpa seorang suami. Harapanku semoga, Bee sanggup dan mampu melewati semuanya.


Keasyikan mengobrol tidak terasa mobilku sudah sampai di rumah kami. Akus segera turun dan membantu Bee keluar dari sana.


"Mas, perut Bee berat sekali," keluhnya.


"Hem, namanya juga hamil." Aku menggelengkan kepala. Ya walau aku tidak pernah merasakan seperti apa rasanya hamil.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2