Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 20.


__ADS_3

Sebab jatuh cinta adalah hal-hal yang tak selalu mampu disebut dengan kata; terkadang hanya menjelma tatap mata dan degup di dada. Maka, kuserahkan saja segala kebekuan bibir ini pada tatap matanya, pada rentang lengannha, pada obrolan-obrolan ringan yang kutahan agar tak cepat berlalu. Aku, telah berusaha patah mengutuk waktu menahanmu dengan segala gemuruh di dadaku. Sesuatu yang akhirnya kusimpulkan sebagai rindu.


Beberapa hal di dunia ini terkadang terlihat lucu dan terasa lucu. Bisa jadi hari ini seseorang jatuh cinta pada kekasihnya. Mulai merasakan nyaman dan membuat berbagai rencana. Semua berjalan dengan seharusnya. Bekerja lebih giat. Sebab kadang harus tahu ada tanggungjawab yang lebih berat. Namun, siapa menduga, hal yang dengan sungguh-sungguh di perjuangkan. Ternyata sama sekali tidak melakukan hal yang sama. Malah, dilepas, dikuras, dimanfaatkan begitu saja. Kemudian, seseorang yang di sebut cinta. Malah menunjukan sifat aslinya seakan meminta pergi perlahan.


"Sudah lebih baik, Bu?" Pak Rey mengulurkan sapu tangannya.


Aku segera menyambar sapu tangan tersebut dan menyeka air mataku dengan kasar. Sial, kenapa air mata murahan ini malah jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku seperti durian di lihat dari luar sangat kuat dan penuh duri tetapi sekali di belah malah isinya lembut dan manis kadang rapuh tanpa rasa.


"Maaf, Pak. Bapak jadi melihat kesedihan saya," ucapku.


"Tidak apa-apa. Gevan saudara saya," jawabnya.


"Iya sudah, Pak. Tadi katanya mau mengajak saya bertemu Kak Sherly?"


"Ayo, Bu."


Kami berdua keluar dari ruanganku. Entah apa yang ingin Kak Sherly katakan sehingga memanggilku datang ke rumah sakit?


"Pak, saya hubungi Kak Naro dulu supaya menyusul," ucapku meronggoh benda pipih tersebut lalu mengirim pesan pada kakakku.


Aku tak yakin jika Kak Naro mau bertemu Kak Sherly. Sebab dari cerita yang aku dengar, sepertinya dia benar-benar membenci wanita yang pernah menjadi mantan kekasihnya tersebut. Aku paham apa yang di rasakan oleh Kak Naro karena aku juga sekarang sedang merasakan betapa sakitnya di khianati oleh orang yang di sayang sepenuh hati.


"Pakai mobil saya saja, Bu."


Aku mengganguk setuju lalu masuk ke dalam mobil Pak Rey.


"Jangan lupa pasang sabuk pengaman, Bu," ucapnya memperingatkan.

__ADS_1


"Iya, Pak."


Pak Rey ini seorang pengusaha muda. Perusahaannya ada di berbagai kota. Sementara kedua orang tua nya adalah penjabat yang sangat di hormati. Namun, aku heran di usia transisi yang bisa di katakan sudah sangat dewasa dia belum menikah. Aku tidak tahu seperti apa hubungannya dan Kak Sherly, tetapi mereka tampak saling mencintai satu sama lain. Aku berharap Kak Sherly sembuh dan bisa hidup bahagia dengan Pak Rey.


Aku kembali melamun dan menatap kosong ke arah kaca mobil. Sepuluh tahun lalu masih terngiang di kepalaku saat Mas Gevan melamarku di hari ulang tahun yang ke-23 tahun. Setelah aku menyelesaikan pendidikan di salah satu universitas ternama.


Partikel-partikel menyakitkan dari jatuh cinta adalah ketika di paksa untuk melepaskan seseorang yang begitu di cintai. Padahal sudah di sakiti berulang kali tetapi masih saja mencintai orang yang salah. Terkadang benar kata orang-orang, kalau mau kurus cintailah orang yang salah, maka tubuhmu akan mengalami kemerosotan. Entah itu karena nafsu makan berkurang atau penyakit yang menumpuk di tubuh.


Sudah kuperjuangkan Mas Gevan. Namun, hanya sedih yang dia tinggalkan padaku. Kupikir kami memang saling mempertahankan satu sama lain, sebelum akhirnya ternyata semua ini hanya aku yang ingin. Kemudian dia katakan tetap kuat tanpa dirinya. Tetaplah menjadi orang yang teguh pada impian. Lalu, apa artinya kebersamaan ini? Jika saja akhirnya hanya aku yang merasa memiliki. Apa dia bahagia dengan cara tak membuatku bahagia? Apa dia tahu bagaimana cara yang baik untuk melupakannya? Bagian-bagian dari perjalanan dia dan aku, adalah kepingan-kepingan yang merasuki pilu.


"Jangan melamun, Bu," ucap Pak Rey.


"Pak, kayaknya tidak usah panggil Ibu deh. Saya berasa tua," ucapku.


"Lalu saya harus panggil apa?" tanyanya dengan kening mengerut.


"Kalau begitu jangan panggil saya bapak, panggil nama saja," ucapnya juga.


"Tidak sopan, saya panggil Mas saja," sahutku.


"Iya sudah terserah kamu," ujar Pak Rey.


"Oh ya, Mas. Aku masih penasaran kok Kak Sherly pengen ketemu aku ya?"


"Sekarang ngomongnya sudah pakai aku kamu," goda Mas Rey.


"Mas, kan aku menyesuaikan. Rasanya agak canggung dan janggal kalau pakai saya. Terlalu formal, 'kan?" ujarku.

__ADS_1


Mas Rey terkekeh pelan. Aku tahu ini cara dia menutup luka. Apalagi memikirkan calon istrinya yang masih sakit dan berjuang melawan kematian.


"Kamu ini ada-ada saja." Mas Rey geleng-geleng kepala.


"Eh, Mas. Mas sama Mas Gevan kan sepupuan, kok aku tidak pernah lihat kalian akrab ya. Padahal aku nikah sama Mas Gevan sudah sepuluh tahun tapi aku baru tahu kalau kalian saudara," ucapku.


"Sejak dulu, aku sama Gevan tdiak pernah akrab. Sejak kecil aku memang tidak pernah ke sini dan fokus sekolah di Jakarta sama Oma dari Mama. Jadi, ke sini pas sudah dewasa," jelas Mas Rey.


Aku manggut-manggut mendengar penjelasannya. Mas Rey tidak sedingin yang akh lihat, walau wajahnya memang sedikit datar dan tidak jauh beda dengan Mas Gevan.


"Oh ya setelah ini rencana kamu apa?" tanyanya melirikku.


"Tidak ada, Mas. Aku hanya ingin membahagiakan Lala dan menjadi segalanya."


Dia dan hal-hal yang pernah kami lalui adalah alasan bagiku untuk menatap di dunia ini. Meski beberapa rencana seakan terancam sebagai kenangan belaka. Namun, hatiku tak pernah bisa kupungkiri. Aku tak pernah benar-benar beranjak dari segala sesuatu perihal dia. Segala yang pernah dengan sungguh kuimpikan. Sesuatu yang sampai saat ini masih kupertahankan. Masih ku perjuangkan.


Bagaimana mungkin aku bisa pergi, jika saja dia masih menjadi seseorang yang tinggal di hati. Orang yang dengan segala kecemasan kubiarkan menetap di sana. Harapkan pun masih sama. Bisa menatap matanya berlama-lama. Bisa menjaga hatinya sepenuh jiwa. Dan tak ingin kemana-mana saat dia telah berkelana. Aku akan menemaninya bahkan dalam keadaaan terburuk yang dia punya. Namun, sayang semua angan itu telah hilang bersama dengan semua pengkhianatannya.


"Itu memang lebih baik daripada kamu terus memikirkan laki-laki yang sama sekali tidak memikirkan kamu. Akan lebih baik kamu mempersiapkan segala hal untuk anakmu nanti. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan bahagia entah itu dengan seseorang atau tetap menjadi orang tua tunggal."


Seseorang yang pernah ada tidak akan bisa dihilangkan begitu saja kecuali hilang ingatan. Tanpa di sadari tidak ada manusia yang benar-benar tumbuh tanpa seseorang di masa lalu. Mau tidak mau, kehilangan adalah salah satu hal yang membuat manusia belajar menerima kenyataan. Aku memahami hal itu. Sesuatu yang membuatku tidak bdgniag membenci. Sesekali aku ingin mengutarakan kepadanya. Bahwa rindu yang menggembang di dalam dada adalah sebuah pembuktian bahwa aku masih sangat dan sungguh mencintai dia. Walau untuk kembali bersama adalah sebuah ketidakmungkinan. Begitu juga dengan perasaanku pada Mas Gevan tetapi aku percaya perlahan semuanya akan kembali baik-baik saja. Kata Daddy, aku hanya terbiasa hidup dengan Mas Gevan bukan tak bisa hidup tanpanya.


Perihal aku yang masih sesekali membahasnya di kepalaku. Kupikir jalnitu yang wajar saja. Aku tidak bisa memungkiri, hal-hal yang pernah ada, sesekali datang sebagai tamu belaka. Sungguh tak mengapa, ini hanya perihal ingatan yang melintas di kepala. Sesaat lagi juga aku akan kembali lupa.


Semoga saja dia benar-benar berhasil melupakan aku, walau aku tak berharap itu benar adanya. Seperti aku yang ternyata kini baik-baik saja tanpanya, walau aku tak tahu akan seperti apa setelah ini. Aku sudah berada di fase; ternyata kehilangannya tak semenakutkan yang aku pikirkan dulu. Semua yang pernah terasa begitu sakit, kini sudah kembali sembuh dan membuatku bersiap bangkit.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2