Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 4. Chapter 38. (Ending)


__ADS_3

Demi Tuhan, sungguh berat aku lalui. Tanpa kamu bersama denganmu. Sungguh sulit ku menolak untuk tak mengingat lagi, semua kenangan yang kita lalui. Bersama.


Dan aku di sini patah hati tak bisa terima. Kepergianmu dan semua kenyataan ini. Aku tak bisa hidup begini terus, kan ku jalani hidup tanpa kamu.


Perpisahan abadi adalah kematian, tak peduli seberapa hebat jabatan yang kau duduki, seberapa banyak uang yang kau miliki dan takkan ada satu orang pun yang bisa menghindari nya.


#seventeenvsarmada.


Jenazah istriku di kebumikan di Pontianak berdekatan dengan kuburan papa.


Jenazah Ariana di bawa ke Tempat Pemakaman Umum, di tengah kota. Pemakaman istriku di samping pemakaman Papa. Aku berjalan dengan hampa, sedangkan bahuku di rangkul oleh Kak Shaka dan Tata.


Di pemakaman peti mati Ariana, dibuka kembali sebelum dimasukkan ke dalam tanah yang sudah digali oleh petugas pemakaman.


Aku berjongkok untuk mencapai wajah istriku, mengelus wajah lembut itu untuk terakhir kalinya dan setelah ini wajah tersebut benar-benar akan hilang dari pandangan mataku.


"Selamat jalan, Sayang. Sampai bertemu di kehidupan kedua," lirihku mencoba tersenyum di akhir luka.


Peti mati istriku dimasukkan ke dalam tanah, dan saat itu aku menangis histeris, padahal aku sudah berjanji untuk kuat dan ikhlas namun pada kenyataannya aku sendiri yang ingkar janji.


"Arin!" teriakku.


"Arin!" panggil Mama Tari.


"Arin!" teriak Al, El dan Om Divta.


Dan teriak-teriak itu mengiring peti mati istriku masuk ke dalam tanah. Tanah-tanah yang dingin itu membungkus istri yang aku cintai. Memeluknya dengan erat dan bahkan menghalang pandangan mataku.

__ADS_1


Sumpah demi langit dan bumi, aku benar-benar belum siap kehilangan. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa istriku, entah bagaimana cerita hidupku setelah ini. Apakah aku mampu bertahan atau justru menyerah pada keadaan?


Semua kenangan bersama Ariana masih melekat di sini tetapi dia sudah pergi dan takkan kembali. Aku terus saja menangis, hingga mataku membengkak dan tak peduli lagi dengan kondisi tubuhku.


Jika menangis bisa membuat yang mati hidup lagi, yang hilang muncul lagi dan yang pergi datang kembali. Maka aku ingin menangis sejadi-jadinya, tak peduli dengan air mata yang akan mengering aku ingin dia kembali.


Rindu paling menyakitkan adalah merindukkan seseorang yang telah tiada. Tak peduli seberapa lama kau menangis memanggil namanya agar dia kembali, tak peduli seberapa hebat tangis mu yang menggema dia takkan mendengar. Karena dia takkan pernah kambali sekalipun dia terbaik lima ratus juta kali dan sekali pun menunggu beratus-ratus tahun lamanya.


Aku merasakan usapan hangat di pundakku, usapan dari seseorang yang memiliki tangan kekar dari pria yang mendukungku dalam segala hal.


"Mencoba lah untuk ikhlas, Son. Ada tiga orang yang harus perjuangkan hidupnya. Tugas kamu belum selesai. Biarkan Arin kembali lebih dulu, akan ada giliran kita nanti."


"Tapi Naro tidak bisa kehilangan Arin, Dad. Naro cinta sama Arin. Naro ingin ikut Arin pergi!"


Daddy merengkuh tubuh lemahku. Ketiga bayi kembar tersebut juga di bawa ke pemakaman untuk mengantar kepergian ibu mereka ke tempat peristirahatan terakhir.


Mama mertuaku itu menangis histeris, bagaimanapun seorang ibu takkan pernah rela kehilangan putrinya. Apalagi Ariana adalah putri satu-satunya yang begitu mereka sayangi sepenuh hati. Tetapi putri itu sekarang menjadi putri tidur yang tidak akan bisa bangun sampai kapanpun.


"Arin, jangan tinggalin Mama. Mama tidak bisa tanpa kamu!" teriakan Mama Tari masih menggema.


Kupeluk batu nisan yang bertuliskan nama istriku di sana. Kupeluk erat mungkin dan mencoba merasakan kehadirannya di sini.


Ingin, rasanya aku marah dan berteriak di depan wajahnya tetapi semua percuma toh Ariana takkan kembali lagi padaku. Dia sudah pergi untuk selamanya, bukankah sudah cukup aku menangis dan untuk apa lagi aku marah?


Rasanya seperti mimpi yang benar-benar terasa nyata, baru saja kemarin malam aku memeluk hangat tubuh rapuhnya. Saat kembali mengingat betapa menderitanya istriku ketika hidup, hal tersebut berhasil menghantam dan menembus dadaku.


Dan kini, dia juga justru memilih pergi dan membiarkanku hidup sendiri. Terakhir kali matanya terpejam sebelum masuk ke dalam ruang operasi dia mengatakan mencintai aku. Tetapi kalau cinta seharusnya tidak pergi. Kalau cinta seharusnya bertahan di sini dan membantu aku melewati semua ini.

__ADS_1


Seluruh aliran dalam tubuhku seakan berhenti dan membuat ku hanya diam mematung tanpa bergerak dalam pelukkan Daddy dan Mama.


"Arin!"


Aku menatap kedua makam itu dengan hati bagai teriris kedua orang ini pergi meninggalkan aku. Belum juga aku bangkit dari patah hati karena kehilangan Papa beberapa belas tahun yang lalu dan kini istri yang aku sayangi menyusul dan meninggalkan luka di hati.


Kenapa Tuhan, sangat suka menyiksa jati diri ini? Setelah dipatahkan oleh pengkhianatan Sherly yang meninggalkan aku. Kini aku harus dihadapkan dengan perpisahan abadi perpisahan yang takkan pernah menemukan titik temunya dan bahkan perpisahan yang takkan ada ujungnya, sekalipun dunia terbalik lima ratus juta kali dan sekalipun menunggu beratus-ratus tahun lamanya.


Kepalaku benar-benar terasa sakit, selama dua Minggu ini aku rutin menangis. Setiap hari bermandikan air mata dalam seni merayu Tuhan. Berharap akan ada keajaiban yang terjadi. Namun, siapa sangka aku justru kalah dengan fakta yang menyiksa.


Aku memejamkan mataku, menikmati setiap rasa sakit yang ada di hati dan hidup. Aku tidak bisa menghindar dari semua ini, aku hanya terus harus mengikuti arus cerita hidup ini.


"Kak."


Shaka, Tata dan Mas Angga menggendong ketika bayi kembar tersebut. Aku berdiri menyambut kedatangan ketiga anakku. Walau bukan darah dagingku. Tetapi mereka lah yang akan menemani aku hingga tua nanti. Aku memutuskan untuk hidup sendiri, sebab aku tidak akan pernah jatuh cinta pada siapapun karena cintaku sudah mati bersama istriku.


"Hai anak-anak Papa!"


Kukecup kening mereka semua secara bergantian. Saat ini mereka bertiga adalah anugerah terindah dalam hidupku. Hanya mereka yang sepenuh hati ingin aku miliki.


"Iya sudah ayo kita pulang!" ajak Daddy.


Aku membalas dengan anggukan. Sekali lagi aku menatap tanah basah yang membungkus tubuh istriku. Sungguh kejam sekali kehidupan ini. Wanita yang aku cintai sepenuh hati. Kini malah meninggalkan luka yang mendalam. Entah kapan aku bisa bangkit dari patah hati ini? Kepergian Ariana membuatku kehilangan tujuan dan arah hidup, sebab impianku yang hanya hidup bersama dia dalam waktu lama. Namun, Tuhan tak mengizinkan kami bersama dalam waktu lama. Padahal belum juga ditebus semua dosa dan kesalahanku padanya. Istriku justru pergi meninggalkan luka dalam dada.


"Selamat berpisah, Sayang. Semoga kamu tenang di sana. Ketahuilah, aku mencintaimu hingga akhir usia. Kamu akan tetap abadi dalam hati kami semua. Terima kasih pernah ada. Jika di berikan kesempatan untuk hidup dua kali, aku tetap ingin memilihmu sebagai istriku. Aku mencintaimu, Ariana Tarumanegara."


T-A-M-A-T...

__ADS_1


__ADS_2