
Kau tahu? Bagian mana yang paling menyakitkan dari perpisahan?
Berpisah karena KEMATIAN.
Tak peduli sebesar apa kau merindukannya. Dia tidak akan kembali ke dunia yang fana ini.
#unknown.
Kuusap kepala plontos istriku. Dia sama sekali tidak terganggu dengan tangisanku dan anak-anak. Tuhan, bolehkah aku juga pergi bersamanya.
"Sayang, buka matamu. Jangan begini, bukankah kamu ingin bahagia bersama aku? Aku sudah bilang, jangan menyerah. Aku tak bisa mengurus mereka sendirian. Aku butuh kamu, aku butuh kamu, Arin."
Kupeluk kepalanya sembari meluapkan semua perasaan yang tak bisa aku jelaskan dengan semua kata-kata.
"Kehilanganmu adalah mimpi buruk. Jika, benar ini mimpi. Aku ingin memberontak agar segera bangun."
"Owe, owe, owe, owe."
Kutatap wajah ketiga bayi kembar itu. Hatiku kembali berdenyut sakit. Bagaimana kehidupan mereka nanti tanpa kasih sayang orang tua lengkap? Sehebat apapun ayah seorang anak tetaplah membutuhkan kasih sayang dari ibunya.
"Nak." Kuusap kepala mereka bertiga secara bergantian. "Maafkan Papa ya. Papa gagal mempertahankan Mama kalian. Papa tidak bisa membuat Mama bertahan bersama kita. Maafkan Papa, Nak."
"Papa janji akan menjaga kalian. Papa sayang sama kalian."
"Arin."
Keluarga besar istriku masuk ke dalam ruangan. Mama Tari langsung terjatuh pingsan dan di bawa oleh para perawat menuju ruang UGD.
__ADS_1
Om Divta tersungkur di lantai. Pasti sakit sekali seperti dia. Sejak awal dia yang menolak Ariana dan mengusir istriku. Bahkan mengatakan anak kesayangannya adalah perempuan murahan.
Al dan El memeluk tubuh istriku dengan tangis hebat. Berusaha membangunkan wanita yang aku cintai ini. Barangkali ada keajaiban terjadi seperti di novel atau dunia film. Tetapi tak peduli sekeras apapun menangis, kondisi takkan kembali seperti sediakala. Semua akan tetap sama seperti tak memiliki harapan untuk kembali pada dunia yang fana ini.
"Jangan pergi, Arin. Jangan tinggalkan Kakak. Maafkan Kakak. Maafkan Kakak, Arin."
Suasana tangis biru terdengar menggema dan saling bersahutan satu sama lain. Aku memeluk tubuh istriku yang terasa dingin seperti para perawat memandikan tubuh kaku ini.
Rasanya semua masih seperti mimpi yang tidak ingin kenyataan. Penderitaan yang selama ini dia derita telah berakhir dengan kematian. Takkan ada lagi seseorang yang meminta untuk aku peluk setiap malam.
Rasa penyesalan kini menyeruak masuk memenuhi rongga dadaku. Seandainya sejak awal aku menerima Ariana sebagai istriku dan berjuang menyembuhkan penyakitnya. Ariana pasti tidak akan pergi meninggalkan aku. Kenapa waktu sangat singkat? Kenapa kematian begitu dekat?
"Naro!" Galaksi menepuk pundakku. "Biarkan suster memandikan Arin. Ayo, anak-anak menunggumu."
Entah kapan ketiga bayi itu di pindahkan ke dalam box bayi dan di bawa keluar dari ruangan. Aku sampai tidak memperhatikan mereka.
Aku mengecup keningnya sebelum dia dimandikan. Sebenarnya aku keukeh tetap memeluk istriku tetapi apa boleh buat jika takdir memintaku untuk melepaskan wanita yang aku sayangi ini.
*
*
Rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada, meremukkan seluruh raga karena takkan menemukan titik temu meskipun dunia terbalik lima ratus juta kali dan takkan bertemu sekalipun menunggu beratus-ratus tahun lamanya.
Aku menatap nanar wajah itu, wajah tertidur dengan mata terpejam erat. Wajah pucat nan cantik yang selalu membuat aku tak bisa berpaling dari perasaan cinta ini.
Tuhan, rasanya aku sudah tak sanggup lagi menangis, air mata ini benar-benar kering. Mengapa dan mengapa? Ariana meninggalkanku di sini sendiri? Aku mencintainya sepenuh raga jiwa dan perasaan. Aku tak bisa melanjutkan hidupku tanpa istri yang paling aku cintai ini.
__ADS_1
"Arin, hikssss." Aku terus saja menangis, memeluk tubuh kaku itu. Tangannya terlipat rapih di atas perut dan wajahnya tampak cantik setelah didandani.
Aku kembali menatap wajah Ariana. Tuhan rasanya sangat sakit, aku bahkan sudah tak bisa menangis lagi. Tubuhku benar-benar terasa lelah, kebanyakan menangis membuat energi dalam tubuhku menipis.
"Kakak yang kuat." Anggi mengenggam tanganku. Adik sepupuku yang satu ini sempat benci dan marah padaku. Tetapi seiring waktu berlalu semua mulai mengerti.
Tak hanya tangisanku tetapi juga Mas Angga sampai menggila seperti orang gila memanggil nama wanita yang sama-sama kami cintai.
Aku tak menjawab, tatapanku juga tak beralih pada Ariana Jantungku terasa perih, aku berusaha kuat menyakinkan diriku bahwa semua ini hanya mimpi tapi semuanya nyata bukan mimpi.
"Hiks, Nak." Mama memelukku. Wanita paruh baya yang sudah melahirkan ku ini terlihat begitu rapuh dan lelah. Bahkan mata mama sudah membengkak. Dia sangat dekat dengan Ariana.
Aku kembali memeluk jenazah istriku tanpa peduli dengan orang-orang yang tengah mengangkat pujian sebelum penguburan, aku mencium kening dan wajahnya untuk terakhir kalinya.
"*Selamat jalan, Sayang. Maaf karena belum bisa membuatmu bahagia. Kamu adalah istri terbaik untukku. Maaf juga selalu membuatmu bersedih selama hidup, aku mencintaimu, Ariana. Aku berjanji akan menjaga anak-anak kita dengan sebaik mungkin sebagaimana kamu menjaga mereka. Sejujurnya, Sayang. Aku tidak sanggup melepas mu pergi, aku rindu kamu, Arin. Aku ingin memakan masakan mu lagi."
"Aku merindukan semua tentangmu, kecerewetan mu, nasehatmu dan semua hal yang ada di dalam dirimu. Kini tak ada lagi yang harus kupeluk setiap malam. Kini aku benar sendirian, Arin. Tolong katakan padaku, bagaimana caranya aku bisa hidup? Bagaimana caranya agar melepaskanmu pergi? Aku juga ingin pergi, Arin. Aku tidak mau menjalani kehidupan ini seorang diri. Aku tidak bisa, Arin. Tolong mengertilah. Separuh jiwaku, setelah kamu tidak ada aku merasa tidak memilih jiwa yang mendiami raga."
"Andai saja aku tahu, jika kemarin adalah terakhir aku makan masakanmu. Aku pasti akan menyuapi mu meski aku tahu kamu akan menolak. Andai saja tahu, semalam terakhir kali kamu meminta sesuatu padaku. Maka aku akan memberikan semua milikku sepenuh hati jiwa dan raga. Andai aku tahu, semalam adalah terakhir kali aku memelukmu. Aku pasti tidak akan melepaskanmu dan akan memelukmu sepanjang malam."
"Naro." Kak Nara mengelus pundakku, lalu dia bersandar seraya menangis.
"Kamu harus ikhlas. Arin sudah tidak sakit lagi, dia sudah bahagia bersama Bapa di sorga." Kata itu keluar dari bibir kakakku. Aku tak bergeming sama sekali, saat ini dunia ku hancur hitam dan gelap tak ada lagi cahaya yang kudapatkan dari jalan gelap yang ku lewati.
"Kakak tahu ini berat buat kamu. Tapi tidak ada yang bisa melawan takdir kematian. Kita juga akan kembali ke sana nantinya."
Bersambung....
__ADS_1