Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 19.


__ADS_3

Aku tahu kadang merasa sedih saat rindu terasa begitu pedih. Saat ingin saling berbagi melepas lelah, tetapi harus belajar menerima untuk bisa bertemu dengan mudah. Aku ingin membagi keluh kesah lewat ponsel seperti orang-orang lakukan saat merasakan rindu pada orang yang di pisahkan oleh jarak. Rasanya begitu sesak dan menyiksa dada.


Aku tersenyum kecut menatap kekosongan di keheningan malam di atas brangkar rumah sakit. Di samping ranjangku ada Mas Angga yang sengaja di pindahkan agar dekat denganku. Anggi tidur sambil bersandar di bibir ranjang. Sementara Kak Galaksi tidur di sofa sambil berjaga-jaga.


Satu Minggu lamanya aku berada di rumah sakit. Namun, tak ada keluarga atau suami yang datang menjengguk untuk menanyakan kabarku di sini. Miris, benar-benar miris seperti tak berarti. Anggi dan Kak Galaksi yang notabene tak memiliki hubungan darah denganku lebih peduli di banding keluarga kandung yang selama ini ku sayangi.


Masih teringat di kepalaku saat terakhir bertemu dengan orang tua ku di rumah. Kak Al dan Kak El mengatakan bahwa kami putus hubungan darah. Sebesar itu kesalahan yang aku lakukan sehingga membekas di dada mereka. Apa aku benar-benar tak memiliki kesempatan untuk menerima maaf dari mereka.


Sebelum benar-benar pergi dari dunia ini. Aku ingin sekali memeluk papa yang paling ku sayangi. Aku ingin bermanja-manja pada papa seperti dulu. Seperti ketika aku masih kecil.


Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Tetapi kenapa aku justru kehilangan cinta pertamaku? Aku ingin bersandar di bahunya dan mengadukan semua rasa sakit yang begitu menusuk di dalam dada.


"Mas Angga," lirihku. Ingin rasanya ku gapai wajah Mas Angga, kenapa dia tidak bangun juga menemuiku di sini?


"Arin kangen sama kamu, Mas. Bangun, Mas. Tolong Arin," renggekku dengan air mata berlinang.


Seluruh tubuhku sakit, efek kemoterapi tersebut benar-benar luar biasa. Aku tak hanya kehilangan rambut tetapi juga penglihatan yang mulai kabur, paru-paru basah, infeksi mata, alergi dan dehidrasi. Itulah sebabnya kenapa aku harus di rawat di rumah sakit.


"Mas, apa kita berdua akan menyerah pada takdir? Bagaimana dengan anak kita, Mas? Dia akan hidup sendirian di dunia yang gelap ini. Aku takut, dia tidak baik-baik saja setelah kita tidak ada. Bangunlah, Mas. Kamu tidak boleh pergi, kamu harus tetap bertahan supaya bisa merawat anak kita nanti."


Kemarin, masih terlalu singkat rasanya. Mas Angga adalah sosok pria terbaik yang menyayangiku dengan tulus. Dia memperlakukan aku seperti ratu dan tidak pernah menyakiti aku selama kami menjalin hubungan. Walau karena kekhilafan kami berdua, kami terjebak dalam hubungan terlarang. Namun, Mas Angga bertanggungjawab dan karena itu memang janji kami berdua. Tetapi siapa sangka jika takdir mempermainkan cinta yang kami bangun dengan susah payah.


Kemarin, kami masih ada di sini. Bersama menikmati rasa ini. Tak pernah. Terbayangkan jika kami berakhir menjadi dua orang yang menyakitkan seperti ini. Rasanya seluruh dada dan jantung remuk redam serta hancur berkeping-keping.


"Kak Naro, aku kangen sama kamu, Kak. Maaf."

__ADS_1


Entah apa kabar suamiku sekarang? Apakah dia mencariku saat tak ada di rumah? Ataukah ini yang dia inginkan, aku pergi dan tidak akan mengganggunya dengan Sherly.


"Setelah ini, kamu tidak akan pernah bertemu kamu lagi, Kak. Aku harap, kamu tetap baik-baik saja walau tanpa aku. Jika, setelah dia lahir aku malah kalah karena penyakit ini, bisakah kamu merawat anakku, Kak? Tolong jangan sakiti dia. Dia tidak salah apa-apa, dia hadir karena kesalahanku. Tapi jaga dia untukku karena mungkin aku akan menyerah."


Air mata bergulir membasahi pipiku. Aku memang cenggeng dan tak mampu menahan rasa sakit. Apalagi setiap kali sakit ini menyarang, badanku sampai bergetar menahan sakit.


"Nak, maafkan Bunda ya. Kamu harus kuat, kamu harus bertahan. Maaf, jika nanti Bunda tidak bisa menyambut kedatanganmu. Maaf, jika Bunda tidak bisa memelukmu. Kamu harus tahu, bahwa Bunda sayang banget sama kamu. Bunda tidak mau pergi, tetapi inilah jalan takdir Bunda."


Andai di berikan satu kesempatan untuk hidup, aku ingin melihat anakku tumbuh dan menyiapkan masa depan untuknya.


"Arin."


Kak Galaksi terbangun mendengar tangisku. Secepat mungkin aku mengusap pipi basahku.


"Kak."


Kak Galaksi merengkuh tubuh lemahku. Aku menangis di pelukannya. Walau bagaimanapun aku bukan wanita kuat, aku hanya wanita biasa yang di paksa mampu menahan beban seberat ini.


"Kak, aku takut. Aku, aku_"


"Stttt. Jangan takut, selama saya ada kamu aman," ucap Kak Galaksi mengusap bahuku dengan lembut.


Saat seluruh dunia mencampakkan aku tetapi ada orang sebaik Kak Galaksi dan Anggi yang mau menerima aku apa adanya.


"Kakak." Anggi ikut terbangun.

__ADS_1


"Kakak kenapa?" tanya Anggi panik.


Aku melepaskan diri dari pelukan Kak Galaksi lalu menggelengkan kepala dan menyeka air mataku.


"Kakak." Anggi mengusap pipi basahku.


"Anggi, maafkan Kakak."


Anggi menggelengkan kepalanya. Dia ikut merasakan kepatahhatianku yang menyerang dadaku.


Aku berbenah diri. Hari-hari baru itu telah tiba. Aku mulai menata rencana-rencana untuk menyepakati banyak hal. Salah satunya mencoba kuat menghadapi segala kemungkinan dan menyiapkan diri jika kematian mulai mendekat. Setidaknya setelah aku pergi nama keluargaku bersih dari pandangan orang-orang. Dan yang pasti rasa sakit serta penderitaan ini akan berakhir.


"Anggi, jika nanti Kakak tidak bisa bertahan sampai akhir. Kakak titip dia sama kamu. Tolong jaga dan rawat dia dengan baik. Anggap saja dia anak kamu sendiri," pintaku.


Anggi menggeleng, "Kakak tidak boleh pergi. Kakak tidak boleh menyerah, Kak. Kakak harus bertahan demi Mas Angga dan bayi kalian. Tolong, Kak. Bertahanlah," ucap Anggi yang berlinang air mata.


Aku pun begitu. Aku ingin menjadi punya banyak hal yang ingin aku perjuangkan. Mungkin beginilah cara cinta bekerja. Seseorang yang sudah tak punya banyak tujuan tiba-tiba berambisi menggapai ini itu di masa depan.


Namun, waktu seolah mempermainkanku. Perasaanku sedang di uji dengan keputusasaan. Aku di hadapkan bahwa tidak semua rencana bisa berjalan semulus yang di duga. Aku di hadapkan pada pilihan-pilihan rumit. Pilihan untuk bertahan di saat menghadap kematian.


Aku tak bisa berangan-angan tentang masa depan. Masih bisa bertahan di usia kandungan yang ke sembilan bulan saja sudah menjadi sebuah anugrah untukku. Semoga aku tetap mampu berjuang hingga anakku lahir dan Mas Angga bangun. Walau ketika saat itu tiba, aku mungkin bukan lagi bagian dari penghuni bumi ini.


"Kakak sudah tidak kuat lagi, Ngi."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2