Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Kerapuhan Nara


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Perasaan akan tetap tumbuh dengan hal-hal yang diperjuangkan. Dengan segala impian dan usaha untuk melakukan pencapaian. Rasa cinta tak sebatas manja-manja. Ada beberapa hal yang memang harus diterima. Pekerjaan namanya. Kutukan manusia yang satu ini kerap kali menyeret tubuh ke tempat-tempat yang membuat kita menjadi jauh.


Ku coba ikhlaskan segala yang pergi dan hilang. Aku ingin menjalani hidup, layaknya perempuan pada umumnya. Mengurus anak dan menata masa depan mereka. Mencoba melupakan segala hal yang menghantam dada. Aku tahu ini bukan hal yang mudah. Tetapi aku ingin terus berjalan seraya menggandeng tangan kedua buah hatiku. Meski setelah ini aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Aku takut, hal yang aku takutkan akan terjadi. Di mana aku merasa semua sudah baik-baik saja, lalu datang sebuah kenyataan pahit yang tak seharusnya aku tahu.


"Hiks hiks hiks hiks."


Tangis Nara masih terdengar pecah di dalam kamar kecil BTN yang ku beli tersebut.


"Maafkan Mama, Nak." Hanya kata maaf yang bisa ku sematkan.


"Mama, Nara ingin bertemu Papa. Nara kangen Papa, Ma," renggek Nara yang masih keukeh ingin bertemu Papa-nya.


Andai saja aku bisa membangunkan orang yang sudah mati, maka aku akan wujudkan permintaan Nara. Tetapi aku hanya manusia biasa yang sekarang hidup berada ditanduk perjalanan takdir.


"Kamu harus ikhlas, Sayang. Papa sudah bahagia disana. Papa tinggal dihati Nara selama nya," ucap ku mengelus punggung rapuhnya.


Nara kecil, putriku yang berusia 10 tahun ini sudah harus merasakan kehancuran dalam hidupnya. Bayangkan di usia yang seharusnya menikmati masa-masa bermain dengan teman-teman nya, tetapi dia malah menjadi orang dewasa sebelum waktunya.


"Hiks hiks, Mama."


Baju ku sampai basah karena air mata Nara. Aku paham perasaan terlukanya. Aku paham bagaimana anak perempuan hancur ketika kehilangan seorang ayah untuk selamanya. Aku paham itu, aku sangat paham. Sekarang aku pun merasakan hal yang sama. Ketika aku tahu bahwa ternyata aku pun hadir dalam keadaan tidak diinginkan.


"Kita harus bisa lewati ini, Sayang. Ada Mama dan Naro yang akan menemani kamu. Kamu tidak sendirian," ucap ku lirih. Aku harus menikah dengan tega hati dan perasaan ku, untuk membunuh semua kerinduan yang menelusup masuk.

__ADS_1


"Tapi Nara pengen ketemu Papa, Ma," renggek Nara.


Aku memejamkan mataku sejenak. Rasanya dadaku bagai ditimpa oleh ribuan ton batu. Hal yang kutakutkan benar-benar terjadi, di mana Nara akan tetap merenggek meminta agar dirinya di pertemukan dengan Mas Galvin. Andai bisa, aku juga ingin bertemu Mas Galvin.


Aku melepaskan pelukan Nara, "Sayang, Nara tidak bisa lagi bertemu Papa. Papa sudah pergi untuk selamanya. Papa tidak akan kembali lagi pada kita," jelasku sambil mengusap pipi basahnya. Sementara Naro, menangis dalam diam. Aku tahu Naro tak sekuat yang dia katakan. Bagaimana pun dia anak laki-laki yang sedang patah hati karena kehilangan ayahnya.


Nara langsung bungkam ketika aku mengatakan hal tersebut. Apakah Nara mengerti tentang kematian? Apakah dia tahu bahwa orang yang sudah pergi untuk selamanya takkan bisa kembali sekalipun dunia terbalik lima ratus juta kali.


"Hiks hiks Mama." Air mata nya kembali luruh dengan deras.


Saat kehilangan orang yang di cintai, air mata tak boleh benar-benar kering. Menangis boleh, malah harus. Tetapi ingatlah jangan sampai meratap. Tetapi kalimat tersebut seperti nya tak berlaku untuk aku dan Nara.


Lama Nara menangis didalam pelukkan ku, hingga tak ku dengar lagu suara isak dari mulutnya. Kelelahan menangis, Nara sampai terlelap nyaman. Air mata masih menetes walau matanya terpejam.


Ku baringkan tubuh kecil ini dengan pelan. Matanya membengkak dan rambut nya berantakkan karena kebanyakan menangis. Kasihan sekali putri kecil ku, tubuhnya harus di hantam oleh penyakit tak biasa. Kini jiwa nya pun diguncang dengan hebat setelah kepergian orang dia cintai.


"Suatu saat kamu akan mengerti, Nak. Kenapa Papa melakukan ini untuk kamu? Mama harap kamu tidak menyalahkan diri. Tetap kuat Sayang."


"Son, kita tidur disini saja ya untuk menjaga Kakak," ucap ku pada Naro.


Ku usap pipi basah lelaki kecil ini. Sumber kekuatan ku adalah mereka berdua. Aku berjanji akan menyediakan kebahagiaan yang layak untuk keduanya nanti. Masa depan yang cerah dan kehidupan yang baik. Walau mungkin semua takkan lagi sama seperti dulu. Akan ada sesuatu yang hilang di rongga dada kami.


Naro naik keatas ranjang sebelah kiri dan memeluk kakak nya. Aku disebelah kanan dan juga memeluk tubuh Nara.


Kami bertiga saling berpelukan satu sama lain. Saling merangkul dan menguatkan dalam ketidakberdayaan, banyak hal yang tak bisa kami jelaskan setelah kehilangan seseorang yang benar-benar kami cintai.


"Mama, selamat tidur," ucap Naro.


"Selamat tidur juga anak Mama," balas ku.

__ADS_1


Aku tak bisa tidur. Sudah ku coba pejamkan mata ini tetapi tetap saja rasanya masih enggan terpejam, apalagi dalam keadaan tidak berdaya seperti ini. Pikiran ku kian berlarian kemana-mana. Memikirkan segala beban yang menimpa pundakku.


Aku terbangun dan duduk diatas ranjang. Nara dan Naro sudah terlelap. Kelelahan menangis hingga membuat Nara tak sadar bahwa dia tidur dalam keadaan menangis.


Aku keluar dari kamar. BTN ini hanya mempunyai dua kamar saja. Sedangkan kamar yang biasa aku tempati, sekarang menjadi tempat istirahat ayah dan ibu.


"Belum tidur, Ra?" tanya Ibu.


"Belum Bu," jawab ku.


Aku duduk di kursi kayu yang ada diruang tamu.


"Nara baik-baik saja?" tebak Ibu.


"Dia seperti nya syok, Bu," jawab ku menghela nafas panjang.


"Tidak apa. Nanti dia akan paham dan mulai terbiasa," jelas Ibu.


Ya mungkin Nara akan paham, tetapi itu bukanlah hal yang mudah untuk nya. Apalagi pikiran anak kecil yang masih sangat polos dan terus berharap Papa-nya bisa kembali. Padahal kenyataannya itu tidak mungkin.


"Ra," panggil Ibu.


"Iya Bu, kenapa?" tanyaku tersenyum hangat pada wanita yang begitu kusayangi ini. Sementara Ayah sudah beristirahat.


"Apa kamu tidak ingin mencari orang tua kandung mu? Siapa tahu Pak Dante bisa bantu, atau mertua nya Pak Dante adalah keluarga kandung mu," jelas Ibu.


Aku terdiam, saat ini jujur saja aku tak bisa memikirkan hal tersebut. Aku belum siap menemukan kenyataan yang lebih parah lagi. Apalagi ketika nanti nya aku tahu alasan mereka membuang ku, hal itu pasti akan sangat menyakiti perasaan aku dan mungkin lebih baik aku tak usah tahu saja.


"Ibu tidak bermaksud menambah masalahmu tetapi kamu perlu tahu keberadaan orang tua kandung kamu," sambung Ibu lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2