Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Menerima


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku sedang memasukkan beberapa baju-baju Nara dan Naro serta Mas Dante ke dalam koper. Hari ini kami akan kembali pulang ke Indonesia, setelah cukup lama berada di negeri Jiran ini.


"Sayang."


Aku menoleh kearah pintu masuk. Senyum ku terbit ketika melihat lelaki itu masuk kedalam kamarku dengan menyetor wajah tampannya. Ku akui wajah Mas Dante sangat tampan, walau usianya sudah memasuki 40 tahun. Namun, sama sekali tak mengurangi aura ketampanan diwajah nya.


"Iya Mas," sahutku tersenyum.


"Mas bantu ya," ucapnya menawarkan diri untuk membantu pekerjaan ku.


Aku menjawab dengan anggukan kepala. Mas Dante memang ringan tangan terhadap pekerjaan rumah. Bahkan selama aku berada disini selama sebulan lebih, Mas Dante selalu membantu semua yang aku kerjakan walau aku sudah melarang. Mungkin karena sudah lama kehilangan Kak Killa, sehingga membuat dia terbiasa melakukan segala sesuatu nya sendiri. Apalagi Mas Dante adalah orang tua tunggal yang tentunya harus bisa mengambil dua peran sekaligus menjadi ayah dan ibu.


"Mas," panggil ku.


"Iya Sayang, kenapa?" tanya nya dengan tatapan mata teduh.


Aku tak yakin jika hatiku baik-baik saja jika terus berada di dekat Mas Dante, melihat senyum nya saja. Jantung ku bisa berdebar kuat. Dia tak hanya tampan dan memesona, tetapi juga memiliki tutur kata yang lemah lembut.


"Mas." Ku satukan tangan ku dan tangannya. "Aku mau jujur satu hal," ucap ku menghela nafas panjang.


"Jujur apa, Sayang?" tanya nya tampak was-was. Mungkin dia takut jika aku menolak perasaan yang sudah dia sematkan untuk ku.


"Aku sayang sama kamu Mas. Aku tidak tahu kapan aku bisa merasakan perasaan ini. Terima kasih Mas sudah sabar menunggu ku. Terima kasih sudah membuktikan sama aku bahwa kamu tulus mencintaiku," ucap ku.

__ADS_1


Akhirnya tembok pemisah yang ku plester dengan tebal roboh, karena ketulusan cinta Mas Dante padaku. Dia berhasil meruntuhkan tembok tersebut, sehingga menebus relung hatiku yang paling dalam. Entah kapan tepatnya, perasaan yang ku ingkari dengan susah payah akhirnya menyerah dan memintaku mengakui nya. Semoga saja, aku tak salah langkah apalagi salah pilih.


Kegagalan dalam rumah tangga setelah poligami pernikahan, aku menganggap cinta itu menyakitkan dan meremukkan seluruh dada. Apalagi ketika mengingat semua rasa sakit yang Mas Galvin turihkan didalam dadaku, seolah membuat rasa sakit itu kian menusuk sangat dalam dihatiku.


"Ka-kamu se-serius?" tanya nya dengan suara terbata-bata, mungkin saja dia tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.


"Iya Mas, aku juga mencintaimu. Maaf awal nya aku pernah meragukan mu. Tetapi sekarang aku yakin bahwa kamu benar-benar di kirim Tuhan untuk menemani ku hingga akhir usia," jawabku. Mungkin ini jawaban yang sedikit puitis. Namun, ini lah perasaan yang sesungguhnya. Ini bukan gombalan atau kata-kata mutiara untuk memikat hati, tetapi ini lahir dari hati paling dalam.


"Terima kasih Sayang," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Aku tidak tahu sebesar apa perasaan lelaki ini padaku. Namun, aku bisa melihat ketulusan dari tatapan bola matanya. Dari mulai dia rela mengantar Nara ke rumah sakit malam-malam saat Naro menelpon. Menemani ku berhari-hari, membayar semua biaya rumah sakit Nara. Hingga menemani kami ke negeri Jiran ini. Masih banyak lagi yang Mas Dante lakukan untuk aku dan anak-anak.


"Mas juga mencintai, Sayang. Sangat," ucap nya memeluk tubuh ku.


Ku balas pelukkan nyaman pria ini. Tuhan bolehkah, kali ini aku bahagia? Jangan ada lagi luka yang tertanam di hatiku. Sudah cukup rasanya semua penderitaan dan rasa sakit ini. Untuk kali ini dan seterusnya, biarkan aku menjalani kehidupan ku seperti wanita lainnya. Aku juga ingin bahagia dan menikah dengan pria yang tepat.


.


.


"Tata."


Kami baru saja tiba di Indonesia dan Mas Dante langsung mengajak kami ke rumah nya.


Ayah kandung dan ibu tiriku sudah kembali ke Jakarta. Jujur saja aku masih belum bisa menerima kenyataan tentang diriku yang dibuang secara sengaja. Namun, menyimpan dendam terlalu lama, bukanlah sesuatu yang baik. Aku akan terus hidup entah beberapa tahun lagi, aku tak ingin hidup dalam kepahitan dan kebencian. Tetapi memberi maaf pada orang yang sudah menyakiti ku, kenapa rasanya sangat sakit sekali? Bahkan aku tak bisa berdamai dengan perasaan tersebut.


"Mommy, Tata kangen sama Mommy," ucap Tata memeluk ku.


"Mommy juga kangen sama Tata," balasku mengangkat tubuh anak kecil ini.

__ADS_1


"Mommy, kenapa lama sekali?" tanya Tata dengan wajah cemberutnya, membuat aku terkekeh melihat bibirnya yang monyong.


"Maafkan Mommy ya, Sayang. 'Kan Momny sedang membawa Kak Nara berobat," jelas ku.


Tata mengangguk paham. Wajah Tata perpaduan antara aku dan Mas Dante. Apa dulu Kak Killa begitu mirip aku? Kenapa wajah Tata pun tak lepas dari bagian wajahku? Jika dilihat dari beberapa figura yang terpampang, wajah kami memang sangat mirip sekali.


"Kak Nara," sapa Tata. Aku menurunkan Tata dari gendongan ku.


"Tata."


Nara dan Tata saling berpelukan, kedua gadis kecil yang sama-sama manja dan berisik itu saling berpelukan satu sama lain. Memang sudah lama Nara dan Tata tak bertemu, apalagi sejak kematian Mas Galvin.


"Kakak sudah bisa jalan!" seru Tata.


"Wah tentu, Kakak 'kan sudah sembuh," jawab Nara dengan senyuman manisnya.


Ternyata benar kata orang di mana ada kepercayaan dan keyakinan pasti ada kesembuhan. Begitu juga yang di alami oleh Nara. Aku selalu percaya bahwa anak ku akan berjalan seperti sedia kala. Walau sempat down sekali ketika mendengar kabar bahwa dia lumpuh.


"Apa kabar kamu, Ara?" tanya Mama memberikan pelukan hangat padaku.


"Ara baik, Ma," jawab ku membalas pelukan Mama.


Kata pepatah, carilah orang yang bisa menerima mu apa adanya. Mencintai anaknya dan cintai juga orang tua serta keluarga nya. Maka kamu akan diterima layaknya sebagai seorang anak. Walau hubungan kami belum menuju ke jenjang yang lebih serius, karena aku ingin menjalani nya dan mengenal sejauh mana lelah yang akan menjadi suami serta ayah dari anak-anak ku.


"Mama, apa kabar juga?" tanya ku melepaskan pelukan Mama.


"Mama sehat, Sayang. Satu bulan di Malaysia kamu semakin cantik. Pasti disana dokter nya tampan 'kan? Lumayan buat cuci mata!" goda Mama sambil tertawa lebar. Wajah Mas Dante ditekuk kesal. Sementara aku terkekeh pelan.


"Ya sudah ayo masuk," ajak Papa.

__ADS_1


Awalnya aku canggung memanggil kedua orang tua Mas Dante dengan panggilan papa dan mama. Tetapi setelah terbiasa dan sering, aku tak lagi merasa canggung atau malu. Namun, apakah mereka akan menjadi mertua serta orang tua ku? Entahlah, aku tidak tahu bagaimana nantinya. Aku jalani saja sewajarnya, jika memang Tuhan menakdirkan Mas Dante menjadi pasangan hidupku, maka akan ada restu.


Bersambung....


__ADS_2