Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 15.


__ADS_3

Aku menghela napas panjang. Hari ini adalah hari persidangan perceraianku dan Mas Gevan. Takdir cintaku benar-benar akan berakhir di meja hijau. Pernikahan yang berjalan selama sepuluh tahun ini akhirnya terpecah juga. Tak pernah aku bayangkan jika hari yang aku takutkan telah tiba. Aku akan menjadi seorang janda di usia 33 tahun. Usia muda yang harusnya sibuk menata masa depan bersama suami dan anak. Namun, apalah daya semua waktu yang berjalan telah menyiksa dan meninggalkan luka dalam.


Namun, tak ada manusia yang bisa menolak takdir dan kehendak Tuhan. Aku mencoba berlapang dada menerima setiap takdir yang tercipta untuk menjadi bagian dari proses hidupku.


Mas Gevan adalah seseorang yang membawa diriku pergi, mengarungi debaran-debaran asmara. Semoga dia bahagia dengan segala hal yang sudah di buat luka. Semoga langkah baik selalu menyertainya. Maaf, untuk beberapa hal yang dia rusak dari hidupku tak pernah ku relakan untuknya. Aku tidak bisa melupakan begitu saja. Jika nanti, semesta bercanda dan mempertemukan kami lagi. Aku akan segera menghindar, sebab bagiku dia tidak lagi sesuatu yang menarik meski rindu tak sepenuhnya memudar.


Sejenak aku mengenang kembali kehidupan rumahtangga kami. Kami adalah dua orang yang saling jatuh cinta dan berniat untuk saling memperjuangkan satu sama lain. Hidup kami bahagia ketika tangisan bayi kecil lahir di tengah-tengah kehidupan kami berdua. Namun, siapa sangka semua itu berubah menjadi tinggal kenangan yang tidak akan bisa menemukan titik di mana kebahagiaan tercampur bersama luka.


Aku mengangguk dengan memaksakan senyum. Kuhela napas lalu ku hembuskan sepanjang mungkin berusaha menetralisir emosi yang terasa menyeruak dan menyerang masuk ke dalam dada.


"Sudah siap, Nak?" tanya Daddy.


Semua anggota keluarga sejak tadi menungguku. Mereka semua akan menemaniku hari ini ke pengadilan agama.


"Iya, Dad," jawabku memaksakan senyum.


Aku deg-degan. Setelah ini, statusku akan benar-benar janda muda dengan seorang putri cantik berumur tujuh tahun. Kadang aku mentertawakan kebodohanku dulu, betapa dengan percaya dirinya aku menyerahkan perasaanku pada Mas Gevan dengan harapan dia akan mencoba membuka hati untuk. Ternyata aku keliru, aku tertipu dengan harapan semu. Hati yang ku tunggu akan terbuka itu ternyata sudah lebih dulu di huni oleh orang lain. Dan aku berakhir menyedihkan.


"Ayo."


Kami masuk ke dalam mobil. Aku, Lala, Kak Naro dan Shaka satu mobil. Sementara Daddy dan Mama menumpangi mobil lainnya.


"Kak." Shaka memeluk lenganku dan bersandar nyaman di sana. "Jangan sedih. Mati satu tumbuh seribu, tenang. Ada Kak Rey," goda Shaka mencolek daguku seraya mengedipkan matanya jahil.


Aku terkekeh pelan dan masih teringat dengan permintaan Kak Sherly agar menikah dengan lelaki tersebut. Tetapi aku sama sekali tak memiliki perasaan apapun, apalagi baru saling kenal satu sama lain dan satu hal bahwa dia adalah sepupu dari pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suamiku.


"Kakak tenang yaa. Semua akan baik-baik aja," ucap Shaka ikut menenangkannya.


"Iya, Shaka." Aku memaksa senyum


Mobil yang di kendarai Kak Naro berhenti di sebuah gedung yang di yakini adalah kantor pengadilan. Tak bisa di pungkiri jika aku gugup bukan main, seluruh badanku melemas dan pipi panas. Berakhir, kisah cintaku berakhir cukup sampai di sini.


Kami masuk ke dalam. Di sana para hakim sudah berkumpul. Ada Mas Gevan, Mama Meysa, Papa Rizel dan seluruh anggota lainnya.


Aku duduk di kursi pengadilan. Di sampingku Mas Gevan juga duduk tatapan yang terarah padaku.


Setelah segala urusan dan berbagai macam proses persidangan hari ini adalah hari yang akan menjadi hari terakhir kami sebagai pasangan suami istri.


"Ta," bisiknya menatap berkaca-kaca. "Maafkan Mas. Tolong berikan Mas satu kesempatan lagi, Ta. Mas sayang sama kamu."


Seandainya rasa sayang itu tulus karena ingin mempertahankan ku mungkin aku akan memberi dia kesempatan. Walau tulus tetapi sudah terlambat. Semua tak lagi sama. Kami bukan lagi dua orang harus saling memperhitungkan satu sama lain.

__ADS_1


Aku tak menjawab atau merespon bahkan meliriknya pun tidak. Hatiku sudah terlanjur mati. Hatiku sudah dilukai secara tak berarti. Lantas apa yang perlu aku pertahankan dengan hubungan ini?


Persidangan di mulai. Para hakim sudah duduk ditempatnya masing-masing. Ada kuasa hukum Mas Gevan. Ada kuasa hukum ku juga. Aku sudah memberikan semua bukti. Sebenarnya Kak Naro dan Daddy meminta agar video tersebut di tayangkan agar semua orang melihat kejahatan suamiku. Tetapi aku tidak mau, walau bagaimanapun dia orang yang pernah menemani hari-hariku hingga mati.


Tok tok tok


Aku memejamkan mataku saat palu itu diketuk tiga kali. Cintaku telah berakhir sampai disini. Tanpa permisi satu lelehan bening itu lolos begitu saja di pipiku.


"Pak Hakim, saya tidak mau pisah sama istri dan anak saya. Saya cinta sama istri saya, Pak. Saya mohon Pak." Mataku langsung terbuka saat mendengar ucapan Mas Gevan.


Dia menghampiri meja hakim dan memohon agar perpisahan tak diinginkan ini jangan sampai terjadi.


"Pak, saya mohon. Saya tidak mau pisah sama Tata. Saya tidak mau, Pak," ucapnya memohon.


Namun, para hakim hanya menggeleng. Ini sudah keputusan. Walau bagaimanapun Mas Gevan membujuk dan merayu hakim atau aku, sidang perceraian ini telah usai dan kami bukan lagi pasangan suami istri.


"Tata, Mas mohon jangan tinggalkan Mas. Maafkan Mas. Maafkan Mas, Tata." Dia berlutut di kakiku sambil memegang tanganku.


Aku melirik kearah Mbak Queen yang tersenyum penuh kemenangan. Huh, tidak apa. Kuberikan dengan ikhlas suamiku padanya. Biarkan saja dia yang memiliki Mas Gevan. Aku sama sekali tidak butuh lelaki seperti mantan suamiku itu. Aku harap hubungan keluarga mereka baik-baik saja hingga nanti.


"Maafkan Mas. Mas menyesal sudah mengkhianati pernikahan kita dan kamu. Mas pikir, bisa tanpa kamu tapi aku baru sadar kalau aku tidak bisa tanpa kamu," ucapnya berderai air mata.


"Tata, tolong kasih Mas kesempatan sekali lagi. Tolong, Tata." Dia menatapku dengan tatapan permohonan.


"Nara."


Aku menarik tangan Mas Bintang agar berdiri. Bukan hanya dia yang tak ingin berpisah. Tetapi aku juga. Hanya saja, inilah akhir dari semua cerita yang tak mungkin bisa dilanjutkan kembali.


"Tata."


Aku memperbaiki bajunya yang sedikit berantakan. Dia memakai kemeja putih dan celana hitam. Tubuhnya tampak kurus. Padahal dokter ini orang yang menjaga kesehatan dan penampilan.


Aku merapikan kerah bajunya yang bergeser serta rambutnya yang tampak berantakan.


"Mas." Aku menggenggam tangannya. "Aku memang mencintaimu tapi maaf Mas aku lebih memilih membunuh cinta ini dari pada bertahan sama kamu. Luka yang kamu turihkan di hati aku terlalu dalam, Mas. Sekalipun kita kembali seperti dulu itu tidak akan mungkin mengobati luka yang udah kamu tancapkan di sini." Aku meletakkan tangannya di dadaku.


"Aku memang bukan wanita sempurna, Mas. Tapi, aku sangat mencintai kamu dan kamu satu-satunya laki-laki yang aku cintai di dunia ini, tapi lihatlah apa yang udah kamu lakukan sama aku, Mas. Kamu tidak hanya membawa orang ketiga dan berpoligami tapi kamu juga memasukkan benih-benih kebencian yang menyebar hingga menyerang bagian-bagian syaraf kita, Mas." Dia terdiam air matanya berderai


"Aku pikir hubungan kita bisa diperbaiki. Kita bisa saling mengoreksi. Namun, kenyataannya perpisahan adalah jawaban dari masalah yang kita hadapi saat ini."


"Mas, kamu itu cinta pertama ku. Laki-laki yang membuat aku merasa begitu disayangi. Tapi kamu juga lelaki pertama yang membuat aku terluka, Mas. Membuatku kecewa. Membuatku tidak percaya sama kata cinta."

__ADS_1


"Tata."


"Selamat berpisah, Mas. Terima kasih untuk sepuluh tahunnya. Terima kasih sudah menjadi sandaran ternyaman saat aku lelah. Saat aku tidak tahu jalan. Maaf jika selama enam bulan ini, aku belum bisa menjadi istri terbaik untuk, Mas. Aku melepaskan Mas bersama dia yang bisa buat Mas bahagia, bukan karena aku tidak cinta, Mas. Hanya aku sadar cinta yang tak seharusnya ini memang tidak boleh dipertahankan. Semoga kamu kamu menemukan wanita yang tepat nantinya. Cukup sampai di sini kisah kita, Mas. Aku juga perlahan akan menghapus semua perasaan ini untukmu. Semoga kelak, aku menemukan kebahagiaan lain, Mas. Sampai bertemu dititik terbaik menurut takdir kamu akan tetap menjadi pria yang aku cintai."


Aku memeluknya untuk terakhir kali. Pelukan yang dulu ku rindukan untuk menghangatkan malamku. Tetapi kini pelukan ini seperti surga yang tak ku inginkan.


"Tata." Dia membalas pelukan ku dan memeluk ku dengan menangis. "Maafkan, Mas."


Lama kami berdua saling berpelukan. Melepaskan cinta yang pernah singgah ini.


"Maafkan, Mas." Sudah ribuan kali dia meminta maaf. Aku sudah memaafkan semua kesalahannya dan memulai langkah serta hidup yang baru.


Aku melepaskan pelukan Mas Gevan. Lalu, menyeka air matanya. Aku tak bisa membiarkan hatiku membencinya, bagaimana pun dia adalah lelaki yang pernah ada di hidupku.


"Selamat tinggal, Mas." Aku menjauh darinya.


"Papa," panggil Lala.


"Lala." Kedua orang itu saling berpelukan.


Andai waktu bisa di ulang kembali. Aku ingin menjadi wanita seutuhnya yang hanya sibuk mengurus anak dan suami. Yang hanya sibuk mencintai suamiku setiap waktu. Namun, sepertinya kami memang tak bisa bersama selamanya.


"Papa, mau ke mana?"


"Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa." Mas Gevan menangis hebat sambil memeluk anaknya. Aku bisa lihat penyesalan di matanya. Inilah balas dendam yang aku maksud.


"Lala sayang sama Papa."


"Papa juga sayang sama Lala."


Lama kedua orang itu saling berpelukan satu sama lain. Sebelum akhirnya aku dan Lala pergi dari kehidupan Mas Gevan.


"Nara." Dia tersungkur di lantai.


"Lala," panggilnya.


Aku melangkah keluar sambil menyeka air mataku tanpa peduli dengan teriakkan Mas Gevan. Tanganku menggandeng tangan putri kecilku.


Aku harus bisa melepaskan cinta dan perasaan yang tak di takdirkan untukku. Aku akan pergi, pergi sejauh mungkin dari cinta yang menyiksaku ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2