
"Son, rumah sakit kita yang di Pontianak Kota sedang bermasalah. Ada temuan obat-obatan terlarang yang terseludup di sana. Apa kamu bisa menyelesaikan masalah ini? Ayah tidak bisa ke sana karena Bee sebentar lagi melahirkan," ucap Ayah.
"Obat-obatan?" ulangku.
"Iya, Son. Entah siapa yang berani-berani bermain-main dengan kita," sahut Ayah dengan helaan nafas panjang.
"Baiklah, Yah. Bintang akan selesaikan masalah di sana," sahutku.
Tak pernah terbayangkan jika aku akan kembali lag ke kota yang benar-benar ingin aku hindari tersebut. Kota yang meninggalkan banyak kenangan pahit sehingga aku tak mampu menjabarkannya dengan kata-kata.
Demi hidupku. Demi banyak hal yang kuselesaikan. Demi orang-orang yang kucintai. Kupastikan semua hanya kenangan yang telah mati. Seseorang yang tak mempunyai tempat lagi di dalam diri kecuali sebatas kenangan saja. Sebab, aku tak kuasa menghapus kenangan yang datang tiba-tiba. Biarlah begitu adanya. Nanti semesta telah mengirim bayangnya, sebab aku tak lagi butuh semua itu.
"Iya sudah nanti kamu temui Galaksi. Dia sudah menunggu di sana," sambung Om Fajar.
"Iya, Om." Aku mengangguk.
Aku masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sebab besok pagi aku akan melakukan perjalanan panjang antara Singkawang ke Pontianak.
Aku duduk di bibir ranjang dan netraku menangkap figura yang terletak di atas nakas. Tidak, tidak benar. Bagaimana aku bisa lupa jika setiap saat melihat kenangan bersama Nara.
Kurengkuh foto tersebut lalu ku masukkan ke dalam laci. Mungkin inilah jalan terbaik karena aku tak bisa terus hidup dalam kenangan di masa lalu. Aku harus melupakan Nara tetapi bukan berarti aku berhenti mencintainya. Aku akan tetap mencintainya hingga hayat tak di kandung badan. Akan tetapi aku tak lagi meratap atau meremang dalam kesedihan.
"Nara, sekarang aku sudah ikhlas melepasmu. Selamat tinggal, Sayang. Ini jalan terbaik untuk kita. Bahagiamu sudah bukan tanggungjawabku lagi. Aku percaya kamu sudah bahagia di sana," ucapku tersenyum getir.
Lepas!! Ya dan aku memilih melepaskan semua kenangan yang tersisa dan menyiksa dada. Kubiarkan semua rasa sakit menjalar masuk dan menelusup di bagian rongga-rongga dadaku yang terasa menghimpit. Kubiarkan cinta yang memekar lalu melayu bersama waktu hingga mati dan menjadi debu.
Kadang aku setuju dengan kata-kata bijak bahwa cinta terbaik adalah ketika sanggup melepaskan seseorang yang di cintai dengan sungguh. Selama ini aku terlalu egois dan menahan diri karena berharap cinta yang selama ini aku inginkan kembali berpihak padaku. Bukankah level tertinggi mencintai adalah melepaskan otak yang di cintai sepenuh hati bersama kebahagiaan yang dia pilih segenap hati?
Aku berbaring di atas ranjang king size kamarku. Bayangan Nara masih melintas dengan jelas di bayang-bayangku. Entah kenapa begitu sulit melupakan wanita ini? Aku bahkan tak meratap sama sekali ketika Mona memilih berkhianat. Namun, saat Nara berhenti memperjuangkan cinta kami. Aku merasakan patah hati yang kian hebat.
__ADS_1
.
.
Ingatan menang suka mengadu langkah. Namun, semua yang pergi akhirnya berganti menjadi kenangan. Semua yang hilang biarlah hilang. Kini langkah baru telah tibam saatnya memulai dengan hati yang lebih setia. Biarlah berlalu semua yang menyebabkan luka. Hidup terlalu singkat dihabiskan dengan sesuatu yang melukai. Masih panjang jalan yang harus kutempuh. Nanti, dengan seseorang yang juga sepenuh hati. Kisah ini akan utuh kembali.
"Kakak Uny ikut," renggek Auny memeluk lenganku.
Aku mendengus kesal. Kalau Auny ikut sudah pasti banyak singgah karena dia yang gila makanan tersebut.
"Ck, tidak mau," tolakku.
"Son, bawalah adikmu. Biar dia menemani kamu di jalan," sambung Bunda.
Perjalanan antara Singkawang ke Pontianak cukup memakan waktu. Kalau sendiri memang bosan karena tidak ada yang di ajak mengobrol atau sekedar berbincang-bincang.
Aku masuk ke dalam mobil dan di ikuti oleh Auny. Beberapa kali aku mengomel karena Auny yang lamban dan banyak sekali barang yang dia bawa. Padahal di Pontianak banyak barang-barangnya. Inilah wanita, sangat ribet, ruweh dan banyak tetebengkek-nya. Untung saja aku tidak terlahir sebagai wanita.
"Kak, bantuin!" pinta Auny manja.
Tak mau berdebat aku memasukan koper Auny ke dalam bagasi. Bisa-bisa aku stres berat kalau meladeni adik sepupuku itu bicara.
Di perjalanan, Auny terus mengoceh tidak jelas seraya mengunyah cemilan yang ada di tangannya. Aku menggeleng salut entah berapa kosa kata yang ada di kepalanya tersebut.
"Kak, kok Uny tidak pernah lihat pacar Kak Bintang?" ucap Auny.
"Kakak tidak punya pacar," sahutku cepat.
"Oh." Gadis ini hanya beroh-ria saja.
__ADS_1
Tidak lama kemudian suasana jadi senyap, suara Auny yang tadinya berisik tiba-tiba hilang. Ku lirik adik sepupuku tersebut. Ternyata dia sudah tertidur dengan bungkus snack yang masih di tangannya dan mulut terbuka lebar. Kugelengkan kepala salut, benar-benar luar biasa sekali adik sepupuku ini.
Tidak terasa perjalanan hampir empat jam tersebut telah membawa ke kota Khatulistiwa tersebut. Aku melirik sekilas taman dekat bambu runcing yang pernah menjadi kenangan di mana aku meninggalkan Nara hanya karena panggilan telepon dari Mona. Jujur saja kenangan itu kembali menguak rasa sakit yang menyayat di dalam dadaku.
Kupikir setelah kembali ke sini semua akan terlupakan lagi. Namun, aku keliru. Aku tak bisa benar-benar lupa seperti yang aku katakan. Melihat kemacetan kota Pontianak seperti mengingatkan aku pada masa-masa di mana aku belum mengenal itu cinta. Inilah kenapa ada beberapa orang yang memilih ingin menjadi anak kecil saja daripada orang dewasa. Karena menjadi anak kecil itu tidak perlu ribet.
"Tidak, Bintang. Kamu tidak boleh ingat masa lalu. Ingat, tujuan kamu datang ke sini adalah menyelesaikan masalah rumah sakit bukan untuk mengingat kenangan pahit." Ku enyahkan semua perasaan tersebut.
Untuk segala ketidaksempurnaan ini, maka dengan berat hati akhirnya kubiarkan semua rasa sakit pergi. Cinta, barangkali memang ditakdirkan bukan untuk sepanjang usia. Nyatanya, dia dikirim untuk mengenalkan cinta yang dangkal, lalu menyisakan perih yang tertinggal. Sudah cukup segala hal yang tergores perih, kusudahi segala perasaan sedih. Kini, berjalanlah memunggung menjauh. Aku akan kembali memberi waktu untuk diriku sendiri agar semuanya kembali utuh.
Galaksi menyambut kedatanganku dan Auny.
"Itu ada adikmu di mobil. Dia tertidur," ucapku turun.
"Ada Uny?" ulang Galaksi memastikan.
"Iya," jawabku. Perjalanan yang jauh ini membuat beberapa tulangku seperti patah-patah.
"Untuk apa dia ikut?" Kening Galaksi mengerut.
"Katanya mau memindahkan tugu khatulistiwa itu ke Singkawang," jawabku asal.
"Dih, di tanya serius malah jawab ngawur," protes Galaksi.
"Lagian kamu malah bertanya segala. Sudah tahu adikmu itu seperti apa," ketusku.
Galaksi mengangkat tubuh Auny keluar dari mobil. Aku salut melihat gadis itu yang tidur seperti kerbau. Mungkin di lempar ke laut saja dia tak ingat.
Bersambung...
__ADS_1