Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Mommy


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku menghela nafas panjang ketika sudah sampai di kantor. Jujur saja mood ku seketika rusak ketika berdebat dengan Chelsea tadi.


"Pagi Ra," sapa Mira yang kebetulan baru datang.


"Pagi Mir," sapa ku.


"Besok biar aku jemput saja," tawar Mira.


"Tidak usah Mir, aku bisa naik taksi," tolak ku.


"Jangan menolak. Aku sahabatmu, Ra," ujar Mira sambil merangkul lengan ku.


"Iyalah," sahutku tersenyum.


"Sudah ayo," ajak Mira.


Kami berdua berjalan menuju lift, kebetulan ruangan ku dan Mira berada dilantai 7, jadi harus naik lift agar cepat sampai ke lantai tersebut. Kalau naik tangga seperti aku kemarin, itu karena sedang stress dan kurang pekerjaan.


"Tidak diantar sama duda ganteng?" bisik Mira sambil menggoda dan tertaww pelan.


Aku mendelik, pasti yang di maksud duda ganteng itu adalah Divta. Siapa lagi?


"Tidak," ketus ku memasang wajah cemberut dan pura-pura merajuk.


"Jangan dianggurin, Ra. Aku mau kok walau sudah duda," canda Mira sambil ngakak.


"Kam_"


"Mommy," panggil seorang anak kecil setengah berlari.


Aku dan Mira melihat gadis kecil yang berjalan kearah kami tersebut. Kening ku berkerut heran, siapa anak kecil itu dan siapa yang dia panggil mommy?


"Mommy."


Aku terkejut ketika gadis kecil itu malah memeluk kaki ku, usia nya sekitar 5 tahun. Dia sangat cantik dengan rambut panjang dan poni yang bertengger rapi di keningnya. Wajahnya imut dan juga menggemaskan apalagi pipi nya chubby dan mata sipit.


"Mommy, hiks hiks. Mommy jangan pelgi, jangan tinggalin Tata. Tata lindu sama Mommy," renggek nya sambil menangis memeluk kaki ku.


Semua mata menatap kearah aku dan Mira. Bahkan saat pintu lift terbuka, kami tidak menyadari nya.


"Hiks hiks hiks Mommy. Tata lindu Mommy," ucap nya lagi masih terisak.

__ADS_1


Aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal, siapa sebenarnya anak kecil ini? Kenapa memanggil ku mommy? Kemana orang tua nya? Kenapa membiarkan anak nya keluyuran di kantor sebesar ini? Bagaimana kalau tersesat atau jatuh dari tangga?


"Nona Kecil," panggil seorang wanita paruh baya mengejar gadis kecil tersebut.


"Maaf Bu," ucap nya padaku. "Nona, ayo ikut Mbok. Nanti Bapak bisa marah," ujarnya merayu gadis kecil yang memeluk kaki ku.


"Tidak mayu. Tata mayu sama Mommy," tolak nya malah memeluk kaki ku kian erat.


"Tapi Non_"


"Biar saya bujuk, Mbok," ujarku.


Aku berjongkok menyamakan tinggi badanku dengan gadis kecil ini. Wajahnya lembut dan ayu, pipi basah itu malah membuatnya terlihat lucu dan juga menggemaskan.


"Tata jangan menangis ya, Nak," bujuk ku.


"Hiks hiks, Mommy jangan tinggalin Tata lagi." Gadis kecil bernama Tata ini mengusap pipi basahnya.


"Iya Sayang. Sekarang Tata ikut Mbok ya," rayu ku.


"Tidak mayu. Tata mau sama Mommy," tegas nya menggeleng kepala dan memeluk ku kembali.


"Nona_"


"Tidak apa Mbok, biar saya yang antar dia," ucap ku menggendong tubuh kecilnya.


"Ayo Sayang, Tata mau Mommy antar di mana?" tanya ku lembut.


"Diluangan Daddy," sahut nya membenamkan wajahnya di cekuk leherku.


"Ra," bisik Mira.


"Kenapa Mir?" tanya ku sambil melirik Mira.


"Ini anak nya Pak Dante," sahut Mira setengah berbisik.


Aku mendelik dan terkejut. Benarkah ini anak Pak Dante? Kata Mira istrinya meninggal karena melahirkan, berarti anak ini sudah tidak memiliki ibu. Pantas saja dia memanggilku,Mommy. Sama seperti anak kembar Divta.


"Kamu serius?" tanya ku setengah tak percaya.


"Ya seriuslah," jawab Mira.


"Bu, maafkan merepotkan," ucap Mbok yang menjadi pengasuh Tata tak enak hati.


"Tidak apa-apa, Mbok," jawabku.


"Cie, dapat kesempatan ini jadi ibu sambung nya Tata," goda Mira tersenyum tanpa dosa.

__ADS_1


Aku melihat sahabatku itu jenggah. Mira ini ada-ada saja, semua pria single di jodohkan padaku. Sedangkan dia masih juga jomblo hingga kini.


"Ya sudah, ayo masuk ke dalam lift," ajak Mira masuk duluan dan tak lupa senyum jahilnya padaku.


Aku membawa Tata masuk dan di ikuti oleh Bibi yang mengasuh Tata.


"Mommy, nanyi yemanin Tata makan. Tata lapal, Tata yidak mayu makan kalau bukan Mommy yang suapi," pinta nya dengan wajah sendu.


Aku menghela nafas panjang. Aku ini bekerja sebagai Kasie Keuangan bukan pengasuh anaknya Pak Dante. Tetapi untuk menolak permintaan Tata, aku sama sekali tidak tega. Aku membayangkan jika Nara dan Naro yang kehilangan ku, entah bagaimana hidup mereka tanpa seorang mama. Jadi, aku tak mau egois.


"Iya Sayang, tapi Tata harus makan ya banyak," ujar ku mencolek dagu nya dengan gemes.


"Iya Mommy," sahut Tata memeluk leher ku kian erat.


"Pindah profesi saja, Ra. Jadi pengasuh Tata sekaligus pengasuh Bapak nya," bisik Mira sambil tertawa pelan.


"Mira." Aku mendesah pelan.


Ini lagi kenapa aku salah tingkah dengan godaan perawan tua ini.


"Ciee yang pipi nya merah, deg-degan ya Bu," ledek Mira.


"Mira kamu, yaa..." Andai tak ada Tata dan Bibi pengasuh sudah ku pastikan Mira ini aku jodohkan dengan satpam yang masih jomblo didepan.


"Bu, maaf sekali lagi merepotkan. Tadi Nona Kecil memaksa pergi ke kantor Pak Dante, katanya mau bertemu Daddy. Dia juga bolos sekolah, Bu," jelas Mbok pengasuh.


Aku terkejut mendengar penjelasan wanita paruh baya itu, lalu menatap Tata yang memainkan rambutku. Tata memang masih memakai seragam sekolah taman kanak-kanak, dia pasti masih duduk dikelas kecil.


"Tata, kenapa tidak sekolah, Nak?" tanya ku lembut. Untung nya Nara dan Naro tidak seperti ini, dalam keadaan apapun mereka masih tetap mengutamakan sekolah.


Tata menggeleng, "Kaya yeman-yeman Tata, Tata yidak punya Mommy. Jadi yidak boleh sekolah," jelas nya dengan sendu matanya kembali berkaca-kaca.


Kenapa penjelasan nya sedikit membuat hatiku terganggu, kasihan sekali anak ini? Masih kecil tetapi sudah harus menghadapi kenyataan hidup yang lebih besar.


"Tata tenang ya, Sayang. 'Kan sekarang sudah ada Mommy-nya," sahut Mira ikut menimpali.


"Mira," tegur ku.


"Hari ini saja jadi penghibur anak kecil," ucap Mira tersenyum sambil menampilkan rentetan gigi putih nya.


"Iya sekalarang Tata sudah punya Mommy. Jadi yidak ada lagi yang bisa bully Tata," ujar Tata dengan senyuman menggembang. Wajahnya yahh tadi muram seketika cerah kembali saat Mira mengatakan cinta aku adalah mommy nya.


"Mira kamu sih," protes ku menyenggol lengan Mira dengan gemes. Mulut Mira ini benar-benar harus di lakban biar tidak asal bicara.


"Apa sih, Ra?" Mira pura-pura tidak tahu tetapi menutup mulutnya menahan tawa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2