Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Teka-teki kehidupan


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku terdiam ketika mendengar ucapan Mira. Sama sekali tidak pernah terpikirkan jika Pak Dante bisa menyukaiku, itu terdengar mustahil sekali.


"Mir, kamu di mana mertua Pak Dante?" tanya ku. Aku benar-benar harus korek tentang orang tua kandung ku.


Mira menggeleng, "Tidak tahu," jawab Mira cepat. "Tapi menurut isu sih mereka tinggal di Jakarta sejak Bu Killa meninggal," jelas Mira.


Jika tidak informasi yang bisa ku cari. Berarti aku harus bertanya pada Ayah dan Ibu, entah kenapa aku curiga jika mereka menutupi sesuatu yang tidak boleh aku. Entah rahasia apa?


"Naro mau makan di mana?" tanya ku melirik Naro yang duduk dibangku belakang dengan tenang.


"Di mana saja, Naro mau Ma," sahutnya.


"Ra," panggil Mira lagi.


"Iya." Aku melirik Mira.


"Kamu sama Kapten Divta, bagaimana?" tanya Mira penasaran. Sebenarnya dari awal aku curiga kalau Mira ini memiliki rasa pada Divta. Tetapi tidak ada yang salah jika dia benar-benar menyukai Divta. Hanya saja Chelsea yang menyebalkan itu pasti berulah lagi.


"Bagaimana apa?" tanya ku dengan kening mengerut.


"Aku lihat kalian mulai renggang, ada masalah?" Aku tak menyangka jika selama ini Mira mengamati hubungan ku dan Divta.


Seperti nya setelah ini aku tidak percaya lagi pada teman sejati atau orang yang menolong sepenuh hati. Apa Mira mau berteman dengan ku hanya karena ingin mendekati Divta atau maksud lain? Apakah ini hanya perasaan ku saja? Ku pikir Divta dan Pak Dante ikhlas menolong ku ternyata mereka hanya menginginkan sesuatu dari aku. Ternyata benar apa yang di katakan Ibu, bahwa tidak ada orang yang menolong dengan iklas tanpa maksud dan tujuan.


"Kami memang tidak memiliki hubungan, kami hanya berteman itu saja," jawab ku.


Aku memang tidak menceritakan tentang masalahku dan Divta pada Mira. Sebab ini masalah pribadi yang menurut ku tak perlu di umbar pada orang lain.

__ADS_1


Mobil Mira terparkir di restourant, kami bertiga turun dari mobil. Dari tadi Naro tampak terdiam tak seperti biasanya.


"Naro kenapa, Sayang?" tanya ku menggandeng tangan Naro.


"Tidak apa-apa, Ma," jawab Naro memaksa kan senyum.


Kami masuk kedalam. Setelah kecelakaan kemarin, aku sedikit trauma meninggalkan Nara dan Naro di jam makan siang. Sebisa mungkin ku bagi waktu dengan mereka. Walau sekarang Nara berada di rumah tetapi dia akan aman bersama Ayah dan Ibu.


"Ma, itu Om Divta," tunjuk Naro pada meja yahg tidak jauh dari kami.


Aku dan Mira menoleh kearah jari telunjuk Naro. Tampak Divta bersama teman-teman nya yang sedang makan siang.


"Sudah biarkan saja," sahutku. "Kita cari tempat duduk paling pojok," sambung ku memilih meja yang berada di bagian pojokkan.


.


.


"Kamu kenapa Ra, tumben datang kesini?" tanya Kak Dea. Setelah mengantar Naro pulang. Aku izin dari kantor untuk bertemu Kak Dea.


Kening Kak Dea tampak berkerut, "Minum dulu," ucap nya meletakkan secangkir teh hangat dengan sedikit gula.


"Terima kasih, Kak," sahutku.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Kak Dea.


Kak Dea memang cerewet tetapi dia adalah saudara perempuan ku yang paling peduli. Bahkan saat dulu ketika Ayah dan Ibu menatap ku sebelah mata karena hamil diluar nikah. Kak Dea menerima aku apa adanya.


"Apa Kakak tahu kalau sebenarnya aku bukan anak Ayah dan Ibu?" tanya ku.


Kak Dea tampak terkejut mendengar pertanyaan ku. Usia kami beda 10 tahun. Jadi aku yakin sebelum aku lahir dan ada Kak Dea mengetahui masa kecil ku.


"Kakak tidak paham apa yang kamu maksud," kilah Kak Dea seraya terkekeh pelan.

__ADS_1


Kak Dea bukan tidak paham tetapi dia hanya bingung mau jawab apa, aku bisa lihat dari tatapan matanya yang gelisah.


"Aku tahu Kakak mengerti maksud ku. Ibu yang mengatakan jika aku bukan anak kandung nya," jelas ku lagi. Aku berharap Kak Dea menjadi jawaban dari semua pertanyaan ku selama ini.


Kak Dea menghela nafas panjang. Aku yakin jika kecurigaan ku benar.


"Semua benar Ara," jawab Kak Dea dengan nada beratnya. Dia seperti takut menyakiti perasaan ku dengan kenyataan yang tak perlu disembunyikan.


"Apa Kakak tahu dimana orang tua kandung mu?" tanya ku dengan mata berkaca-kaca.


Aku mencari tahu keberadaan orang tua ku bukan karena aku ingin dianggap oleh mereka. Aku hanya ingin tahu kenapa mereka membuangku? Apakah aku benar-benar tak diinginkan. Kenapa rasanya sakit sekali mengetahui hal ini?


"Soal itu Kakak tidak tahu, Ra. Tapi Kakak masih ingat ketika mereka membawa kamu kerumah. Kalau tidak salah saat itu ada dua bayi dan kamu yang diberikan sama Ayah dan Ibu," jelas Kak Dea.


"Tapi kata Ibu aku di temukan didepan rumah," ucap ku. Apa Ibu membohongi ku?


"Kakak tidak tahu maksud Ibu apa. Tetapi Kakak rasa ada hal yang tidak boleh kamu tahu. Soalnya selama ini Ibu sama Ayah tidak pernah bahas tentang siapa orang tua kamu," ujar Kak Dea.


"Apa Kakak tahu alasannya apa?" tanya ku.


"Kakak tidak tahu, Ra. Mereka tidak pernah mengatakannya pada Kakak. Kakak juga bingung kenapa Ibu bisa mengatakan hal itu sama kamu? Padahal dia sama Ayah sudah berjanji untuk tidak mengatakan masa lalu kamu," ucap Kak Dea menghela nafas panjang. Entahlah, aku juga tidak tahu.


"Aku tidak tahu, Kak. Apa Ayah dan Ibu sebenarnya tidak mau menerimaku sebagai anak mereka?" ucap ku mulai berpikiran tak masuk akal.


"Heh, jangan berpikir seperti itu. Ayah dan Ibu sayang sama kamu Ra. Nanti kamu bicarakan sama Ayah dan Ibu tentang orang tua kandung kamu," ucap Kak Dea menenangkan ku.


"Ya sudah, Kak. Kalau begitu aku pulang dulu ya," pamit ku.


Aku berjalan keluar dari rumah Kak Dea seraya meneteng tas ku. Berjalan kosong dengan tatapan hampa. Kenapa dunia begitu jahat padaku? Apa salahku? Apa aku bisa aku tidak dilahirkan saja?


Hari ini, dibawah langit yang berawan, meski belum terlalu mendung, tetapi biru langit sudah ditutupi awan-awan putih susu yang indah. Aku berjalan menelusuri rintikan-rintikan kecil air hujan yang jatuh ke bumi. Seketika awan mendung dan hitam pekat. Petir kian menyambar dan hujan membasahi seluruh tubuh ku.


Aku tak peduli dengan baju ku yang basah karena tetesan air hujan yang semakin deras. Dengan hujan ini, aku berharap segala teka-teki ini terjawab segera. Meski aku tak tahu harus mencari jawaban kemana lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2