Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 30.


__ADS_3

Ariana dan hal-hal yang pernah kami lalui adalah alasan bagiku tak bisa melupakan tentangnya. Meski beberapa rencana seakan terancam sebagai kenangan belaka. Namun, hatiku tak pernah bisa kupungkiri. Aku tak pernah benar-benar bisa beranjak dari segala sesuatu hal perihal istriku. Segala hal yang pernah kuimpikan. Sesuatu yang sampai saat ini masih kupertahankan. Masih kuperjuangkan.


Lagi-lagi aku menangis di dalam keheningan malam. Ucapan Galaksi tadi siang seperti tamparan yang membuat hatiku seketika perih. Aku adalah suami kejam dan jahat yang tega menyiksa istri hanya karena dia menggandung anak dari pria lain. Seharusnya aku memang melepaskannya jika tidak mencintai dia sama sekali. Namun, karena marah dan kecewa setelah dia dijodohkan denganku seakan menutupi itu semua.


"Apakah benar kamu cinta sama aku Arin?"


Aku sedikit tak percaya saat Galaksi mengatakan jika Ariana mencintaiku. Aku tahu betapa dia mencintai Mas Angga, ayah dari anak dalam kandungannya. Namun, jika dia mencintaiku bukankah hal tersebut terdengar tidak mungkin? Apalagi aku adalah lelaki yang telah menyiksa istriku sendiri.


Aku menangis kian hebat sambil memeluk foto Ariana yang ada di atas nakas. Tuhan, tolong berikan satu kesempatan untukku membahagiakan Ariana. Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk dia dan anak-anak. Aku rela menjadi ayah sambung untuk bayi kembar itu. Aku benar-benar ingin menebus semua kesalahanku padanya.


"Arin bertahan, Sayang. Aku akan menemuimu sekarang."


Aku memasukan barang-barangku ke dalam koper. Setelah ini aku akan terbang ke Malaysia untuk menemui cintaku. Semoga masih ada waktu dan kesempatan kali ini.


"Kak." Tata masuk ke dalam kamar.


Aku hanya menoleh lalu kembali fokus pada barang-barang yang ada di tanganku. Aku akan lakukan apa saja agar Ariana bertahan hidup. Aku akan merayu Tuhan supaya kesempatan untuknya bersamaku lebih besar.


"Maafkan Tata, Kak." Tata menunduk dan merasa bersalah. "Tata yang sudah buat Kakak benci sama Arin."


Aku tak menyalahkan siapapun. Tetapi Tata memang salah satu orang yang membuat aku membenci Ariana.


"Tata berharap Arin mau memaafkan Tata," ucapnya lagi.

__ADS_1


"Lupakan, Ta. Semua bukan salah kamu tapi Kakak yang salah karena tidak melihat sisi baik Arin," sergahku.


"Iya, Kak. Semoga Kakak menemukan kebahagiaan bersama Arin." Memberikan pelukan hangat padaku.


Aku keluar dari kamar sambil menyeret koper. Di sana sudah ada anggota keluarga yang menunggu. Kami semua akan meluncur ke Malaysia kecuali Kak Nara dan Mas Bingag karena Angkasa kurang sehat. Kondisinya tidak memungkinkan untuk di ajak berangkat ke sana.


Daddy dan Mama juga tidak ikut lantaran mereka harus berangkat ke Singkawang karena nenek juga sedang sakit.


"Son." Mama tersenyum padaku.


"Doakan Naro semoga bisa bertemu Arin, Ma," ucapku memberikan pelukan hangat pada mama.


"Iya, Son. Semoga kamu bahagia. Mama berdoa yang terbaik buat kamu."


Aku masuk ke dalam mobil dan menuju bandara Supadio, Pontianak. Sepanjang perjalanan aku melamun dan kali ini akh di antar oleh adikku Shaka.


"Iya, Shaka?"


"Apapun yang terjadi pada Kak Arin. Kakak jangan menyalahkan diri. Semua ini memang sudah jalan takdir kehidupan kita sebagai manusia biasa," ucap Shaka.


Aku langsung terdiam mendengar ucapan adikku itu. Apakah kemungkinan aku dan Ariana tidak akan tertakdir bersama? Tidak, aku tidak mau. Ariana harus tetap bertahan dan hidup denganku serta merawat ketiga bayi kembar itu.


Aku turun dari mobil. Di sana sudah ada keluarga besar dari istriku yang menunggu. Om Divta, Mama Tari, Al dan El, Mas Angga, Auny dan Galaksi. Aku berjalan sambil menyeret koperku. Jantungku berdebar dan tak sabar bertemu dengan wanita yang begitu aku cintai dan rindukan selama ini. Aku baru sadar jika aku mencintai istriku Ariana. Selama ini aku terlalu mengabaikan perasaannya dan mementingkan Sherly yang notabene orang lain dan tidak akan mungkin bisa membuat aku bahagia nantinya.

__ADS_1


Setelah check-in dan mengurus semua keberangkatan. Kami semua masuk ke dalam pesawat kelas bisnis. Aku duduk di dekat jendela kaca pesawat menikmati perjalanan singkat tersebut. Tuhan rasanya jantungku lagi-lagi berdebar kencang. Aku benar-benar tak sabar bertemu istriku. Aku ingin memeluk dan menciumnya. Aku ingin meminta maaf dan aku berjanji akan menjaga dia sepenuh raga jiwa dan perasaanku.


Aku terkejut saat Mas Angga duduk di sampingku dengan wajah datar tanpa ekspresi. Setelah menjalani beberapa perawatan akhirnya dia kembali pulih setelah kecelakaan tersebut.


"Mas kecewa sama kamu," ucap Mas Angga tanpa melihatku.


"Maaf, Mas." Aku menunduk malu. Wajar jika semua orang kecewa dan menyalahkan aku, bukankah memang aku yang salah karena sudah menciptakan penderitaan bagi istriku.


"Kamu tahu? Kenapa Mas pilih kamu yang menikahi Arin? Karena Mas ingin kamu menjaga dia. Mas ingin kamu menjadi sayap pelindung buat Arin tetapi kenapa kamu justru membuat Mas kecewa seperti ini?"


Dan kini sudah saatnya aku menyadari satu hal. Aku ternyata benar-benar telah kehilangan Ariana. Dia seolah tak ingin menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Semua yang ingin aku jaga, sudah menjadi hal yang sia-sia setelah aku menanamkan luka di hatinya. Kini dia menjelang pergi dan seolah tak ingin kembali. Dia menjadi orang lain dan asing untuk hal-hal yang kuimpikan. Dia menjadi tertinggal dan tertanggal untuk sesuatu yang dengan susah payah aku tunggalkan.


"Padahal Arin mencintai kamu. Mas tidak menyangka jika dia bisa jatuh cinta pada orang lain. Mungkin Arin berpikir Mas benar-benar berkhianat."


Aku tak dapat berkata apa-apa atau sekedar membela diri. Aku memang bersalah dan itulah kenyataannya kenapa aku bisa merasakan semua ini? Harusnya aku sebagai laki-laki bisa bijak dan memahami semua hal yang dia ebaut sebagai rencana dalam hidup.


"Tapi menyalahkan kamu tidak ada gunanya, 'kan? Kondisi Arin tidak akan mungkin kembali seperti sediakala."


Aku tahu ucapan Mas Angga seperti menginterogasiku. Dia sangat mencintai Ariana walau mereka pernah jatuh dalam hubungan yang salah. Dia juga terlihat patah hati ketika tahu bahwa Ariana mencintai aku dan tidak mencintai dia lagi.


"Aku berjanji akan memperbaiki semuanya, Mas," ucapku.


"Memperbaiki apa?" tanya Mas Angga menatapku dengan dalam. "Kamu pikir sesuatu yang sudah rusak bisa kamu kembalikan seperti semula? Tidak, Naro. Arin tidak akan bisa utuh setelah kamu bunuh," ucap Mas Angga penuh penekanan.

__ADS_1


"Kamu sudah menciptakan luka di hatinya. Maka untuk memperbaiki semuanya tidak semudah dan segampang itu. Kita tidak tahu, apakah masih ada waktu untuk melihat Arin," ucap Mas Angga lirih. Setelah bangun dari koma, dia histeris mencari keberadaan istriku dan Mas Angga sangat syok ketika mendengar kabar menyakitkan tersebut.


Bersambung....


__ADS_2