
Ada beberapa hal dari jatuh cinta yang akhirnya membuat seseorang kewalahan. Memperjuangkan segala harapan sendirian, misalnya. Sesuatu yang seharusnya dihidupkan berdua, malah dihadapi sendiri. Hal semacam itulah yang pelan-pelan akan membunuh cinta meski beberapa cinta terlalu kuat, tetap bertahan meski sekarat. Beberapa lagi memilih mati daripada merana sendiri. Ada orang yang tahan banting hingga tetap bertahan meski berkali-kali perasaannya sedih berkeping-keping. Ada orang yang cinta buta, tak peduli betapa kali di dusta tetapi tetap saja memilih percaya.
Namun, waktu tidak pernah bisa ditebak. Terkadang perasaan diuji oleh hal-hal yang tak pernah terbayangkan. Hal-hal yang membuat menjadi lemah seolah tidak kuat untuk saling mempertahankan. Padahal tidak selemah itu. Namun, hidup selalu punya hal-hal tak terduga. Kadang hati merasa di ragukan oleh kondisi dan keadaan. Aku mengerti, banyak hal yang tak pernah bisa kubuat pasti. Yang aku tahu, aku hanya berusaha sekuat-kuatnya aku.
"Terus kenapa sifat Mas Gevan berubah sama aku? Itu pasti gara-gara kamu godain dia, 'kan?" tuding Mbak Queen.
"Kalau suami situ yang berubah. Kenapa saya yang di salahkan, Mbak? Mbak introspeksi diri dong, mungkin saja Mas Gevan sudah bosan sama lobangnya, Mbak," jawabku ketus dan sengaja memanas-manasi ulat bulu ini agar dia sadar sedang berhadapan dengan gajah betina.
Aku sama sekali tak gentar dengan gertakannya. Aku malah ingin mentertawakan perempuan ini. Apalagi perutnya yang setengah membesar lalu seenaknya datang dan mengadu bahwa aku telah menggoda pria bekas itu. Huh, membuat emosiku naik ke ubun-ubun.
"Kamu...." geram Mbak Queen.
Aku malah mengibaskan rambutku ke belakang. Jika saja tidak ada Pak Rey di sini sudah pasti aku ingin mengubek-ubek wajah wanita tidak tahu diri ini agar dia sadar bahwa dialah yang pelakor.
"Kamu lihat saja pembalasan aku nanti! Aku tidak akan biarkan Gevan kembali sama kamu," tekan Mbak Queen.
"Yaellah, Mbak. Di kasih gratis juga saya tidak mau, Mbak. Maaf saya tidak suka barang bekas. Saya itu suka batang yang masih segar," celetukku seraya tertawa mengejek.
__ADS_1
Pak Rey menahan tawanya saat mendengar ucapanku. Huh, aku sama sekali tidak takut dengan wanita ini. Apalagi ketika dia mengatakan bahwa aku pelakor yang akan merebut Mas Gevan kembali. Sorry to say, sampai tugu khatulistiwa pindah ke Jakarta juga aku tidak akan pernah mau. Sampah yang sudah aku buang tidak akan aku ambil kembali.
"Mbak, sebaiknya Anda pergi saja dari sini," usir Pak Rey.
"Saya tidak ada urusan sama Anda, Pak. Anda juga tamu di sini!" gertak Mbak Queen menunjuk wajah Pak Rey.
"Justru saya tamu makanya saya bicara begitu. Tamu itu harus sopan sama yang punya rumah, Mbak," sahut Pak Rey tenang dan sama sekali tidak terganggu dengan teriakan mbak.
Mbak Queen berlalu dari ruanganku dengan wajah merah padam dan penuh amarah. Hoh, dia pikir bisa membully aku dengan ucapannya tersebut. Tidak akan pernah bisa, karena aku bukan wanita yang bisa di tindas begitu saja.
Setelah kepergian Mbak Queen aku terduduk lemas di sofa. Bagaimanapun Mas Gevan adalah pria yang masih aku cintai. Tetapi kenapa mereka masih saja menganggu kehidupan aku setelah kami berpisah dan terpisah.
Aku tahu bahagia adalah pilihan, meski sebenarnya tak ada yang benar-benar bisa dipilih oleh manusia. Tak ada satu pun yang mampu menjadi sebuah kepastian. Hidup sesungguhnya adalah kumpulan cemas, kumpulan ketakutan yang di samarkan. Kegamangan yang dikuat-kuatkan.
Dan akhirnya aku memilih menyerah memperjuangkan cinta yang selama ini ingin kudapatkan. Tak ada niat untuk pergi karena cinta tetapi beginilah caraku menghapus semua kenangan yang menyergap dada.
Aku akan mencoba melupakan Mas Gevan. Meski setiap kali kalimat itu kukatakan ada bahagia yang hilang dari dadaku. Dia benar-benar bisa membuat semua yang awalnya baik-baik saja remuk tak terkira. Dia berhasil membuat aku masuk ke dalam bagian hidupnya. Lalu aku merasa penting di sana. Tiba-tiba dia memilih menyingkirkan aku dengan teramat tega. Dia bermain terlalu manis. Aku tak pernah menduga bahwa segala hal yang disebut cinta. Tak lebih hanya bahan bakar untuk memanaskan kenangan berkala. Mas Gevan menghancurkan semua masa depan yang aku dan Lala ukir bersama. Semua impian yang tidak akan pernah terwujudkan.
__ADS_1
"Ibu baik-baik saja?" Pak Rey mengusap bajuku.
Segera aku menyeka air mata. Aku adalah perempuan biasa yang sering merasakan sakit. Aku benar-benar tak berdaya setelah tahu kebenarannya.
"Saya baik-baik saja, Pak," kilahku.
"Tidak usah Ibu pikirkan lagi. Mereka adalah masa lalu Ibu dan sekarang waktunya Ibu menata masa depan dengan Lala."
Apa yang di katakan Pak Rey memang benar. Aku harus fokus pada Mas depanku dan Lala. Sementara Mas Gevan adalah masa lalu yang harus aku lupakan.
"Saya cinta sama mantan suami saya, Pak," ucapku mengigit bibir bawah menahan air mata yang mulai membanjir di pipi.
"Saya tahu, Bu. Tapi hidup ini masih panjang. Ibu masih muda. Saya yakin suatu saat Ibu akan menemukan seseorang yang tepat."
Seseorang yang tepat? Bagiku tidak ada lagi pria yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku kelak. Aku lebih suka hidup begini, bukankah bahagia itu tidak harus menikah? Aku bahkan tak percaya lagi dengan kata cinta. Bagiku, tak ada cinta yang benar-benar tulus selain seseorang yang mau berkorban untuk orang yang dia cintai.
Sebab jatuh cinta adalah hal-hal yang tak selalu mampu disebut dengan kata; terkadang hanya menjelma tatap mata dan degup di dada. Maka, kuserahkan saja segala kebekuan bibir ini pada tatap matanya, pada rentang lenganmu, pada obrolan-obrolan ringan yang kutahan agar tak cepat berlalu. Aku, telah berusaha patah mengutuk waktu menahanmu dengan segala gemuruh di dadaku. Sesuatu yang akhirnya kusimpulkan sebagai rindu.
__ADS_1
Beberapa hal di dunia ini terkadang terlihat lucu dan terasa lucu. Bisa jadi hari ini seseorang jatuh cinta pada kekasihnya. Mulai merasakan nyaman dan membuat berbagai rencana. Semua berjalan dengan seharusnya. Bekerja lebih giat. Sebab kadang harus tahu ada tanggungjawab yang lebih berat. Namun, siapa menduga, hal yang dengan sungguh-sungguh di perjuangkan. Ternyata sama sekali tidak melakukan hal yang sama. Malah, dilepas, dikuras, dimanfaatkan begitu saja. Kemudian, seseorang yang di sebut cinta. Malah menunjukan sifat aslinya seakan meminta pergi perlahan
Bersambung...