Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Tega


__ADS_3

"Tadi Bunda bicara apa?" tanya Mas Bintang melirikku.


"Tentang aku dan Mas," jawabku.


"Lalu kamu bilang apa?" tanyanya was-was seolah takut jika aku mengadukan perbuatannya.


"Aku bilang kita baik-baik saja," jawabku.


Dia tampak menghela nafas lega. Aku tak setega dia yang mau menurihkan luka. Walau di sini tetap akulah yang terluka dan di lukai.


"Aku tidak memaksa kamu bertahan jika memang kamu ingin menyerah." Ucapannya seolah memberi kode agar aku tak mengharapkan lebih. Jika aku duluan yang meminta berpisah, bukankah aku yang terlihat bersalah?


"Mas, tenang saja. Aku akan menyerah jika sudah waktunya," sahutku tersenyum getir. Sungguh miris kehidupan ini. Derita Mama yang pernah dia alami kini beralih padaku.


Suasana di antara kami kembali hening hanya deru mobil yang terdengar menggema memenuhi ruangan kecil tersebut. Aku menatap kosong kearah jendela kaca mobil. Seandainya menyerah adalah jalan yang mudah mungkin aku sudah lama meninggalkan Mas Bintang. Namun, kenapa kakiku sulit sekali melangkah dan serasa ada sesuatu yang menahan.


Drt drt drt drt


Hingga bunyi ponsel Mas Bintang membuyarkan lamunan kami. Aku melirik dia sekilas ketika dia mengangkat benda pintar itu.


"Apa?"


Sontak saja mobil yang kami tumpangi berhenti mendadak dan aku terjungkal ke depan.


"Iya Sayang, aku ke sana sekarang."


Mas Bintang mematikan sambungan ponselnya.


"Ada apa, Mas?" tanyaku melihat wajahnya yang panik.


"Ra, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu karena Mona Sekarang butuh aku. Aku harus bertemu dia," ucap Mas Bintang. "Kamu tidak apa-apa turun di sini? Aku akan pesankan taksi," sambungnya lagi. Baru kali ini suamiku berbicara panjang lebar denganku.


Aku melihat kondisi jalanan yang sepi. Apa Mas Bintang tega meninggalkanku di sini?


"Tapi, Mas_"


"Ayo cepat turun, Ra. Aku buru," desaknya. Dia bahkan sampai turun dari mobil dan membukakan pintu agar aku turun.


"Mas, tapi ak_"


"Kamu pesan taksi sendiri. Aku buru-buru."


Setelah berkata demikian dia langsung masuk ke dalam mobil dan menancap gas tanpa peduli padaku.


Air mataku langsung luruh. Lelaki macam apa yang tega meninggalkan istrinya di jalan demi kekasihnya? Kenapa Mas Bintang tega sekali? Aku takut di sini. Bagaimana kalau ada orang jahat?

__ADS_1


"Mas, kamu benar-benar tega sama aku!" Aku menangis segugukan seraya memeluk lenganku.


Di jalan seperti ini tidak ada mobil yang lewat dan taksi juga belum tentu ada apalagi sudah menunjukkan tengah malam. Aku meronggoh tasku dan mencari benda pipih tersebut. Tunggu..


"Di mana ponselku?" Kenapa ponselku tidak ada? Apa ketinggalan di dalam mobil Mas Bintang?


Ponselku pasti tertinggal di mobil tadi. Apa yang harus aku lakukan jarak rumah dengan jalanan ini sangat jauh. Aku memegang ujung gaun pendek yang ku pakai. Lagi dan lagi dadaku serasa sesak dan sakit ketika mengingat suamiku yang sangat kejam.


Aku berjalan di keheningan malam. Sapuan angin kian kencang menyeruak masuk ke dalam pembuluh darahku, hingga membuat bulu-bulu tanganku serentak berdiri.


Tiba-tiba hujan turun deras membasahi kulit dinginku. Apakah hujan kali ini mengejekku? Apakah hujan sedang mentertawakan aku? Aku berjalan di dalam derasnya hujan. Ku biarkan air mata ini menetes dan mengalir bersama hujan, barang kali semua perasaan ini bisa terkikis dan hilang meninggalkan aku.


Aku tak peduli dengan butiran bening yang menjatuhi kulitku tersebut. Padahal aku bisa dingin karena memiliki riwayat penyakit tipes.


Aku berjalan dengan tatapan kosong dan hampa. Tidak tahu kemana aku akan melangkah dan pergi, rasanya aku tak ingin kembali ke rumah.


"Aku menyerah, Mas. Aku menyerah. Maaf, aku tidak lagi peduli dengan perasaan orang tua kita. Aku ingin hidup tenang tanpa adanya kamu."


Kulihat sebuah cahaya terang menyinari wajahku. Tanganku melindungi mata ketika tak mampu melihat cahaya tersebut. Aku sudah pasrah jika tubuhku akan di hantam oleh benda berjalan tersebut. Ya, jika aku mati, bukankah semua masalahku akan selesai.


"Nara."


Aku menjauhkan tanganku yang sedari tadi menutup wajah. Walau aku ingin mati tetapi jujur saja aku takut menghadapi kematian.


"Kak Rimba," lirihku.


"Kakak."


Dia bergeming dan malah memelukku kian erat. Aku melingkarkan tanganku di pinggang Kak Rimba. Nyaman sekali pelukan ini. Perlahan mataku mulai mengecil, tubuhku sangat sakit serta keinginan.


"NARA."


.


.


Pantulan cahaya matahari menyinari wajahku. Hingga mau tak mau aku harus membuka mata. Aku langsung terduduk ketika sadar berada di sebuah kamar asing.


"Astaga, aku di mana?" Tentu aku panik saat bangun berada di tempat yang lain.


"Kamu sudah bangun?"


Kak Rimba masuk ke dalam kamar sembari membawa nampan berisi sepiring nasi dan segelas air putih segar.


"Kak, aku di mana?" tanyaku.

__ADS_1


Dia meletakkan nampan itu keatas nakas. Lalu duduk di bibir ranjang.


"Ada di kamar, Kakak," jawabnya.


Aku langsung mendelik dan tunggu, kenapa pakaianku berbeda?


"Kak, bajuku?" Aku menutup mulut. Pikiranku sudah berkelana kemana-mana.


Tlak!


Kak Rimba mencentil keningku, dia seolah tahu bahwa pikiranku traveling.


"Aww," rintihku.


"Kamu itu, jangan berpikir aneh-aneh. Kakak ini laki-laki baik, walau tidak laku-laku," ketus Kak Rimba. "Baju kamu di ganti sama Mpok Atiek," sambungnya kemudian.


Aku tersenyum simpul. Aku tahu Kak Rimba orang baik karena aku mengenalnya sejak kecil. Dari dulu saja dia selalu menjagaku.


"Kak, bagaimana ceritanya aku bisa ada di sini?" tanyanya menelisik kamar mewah Kak Rimba. Aku baru sadar jika lelaki ini sangat kaya. Kata Kak Rimba dia tinggal sendirian bersama beberapa asisten rumah tangga. Sementara kedua orang tua nya masih menetap keluar negeri.


"Semalam kamu pingsan. Badan kamu juga panas," jelas Kak Rimba.


Aku terdiam sejenak, ingatan saat Mas Bintang menurunkan aku di jalanan sepi demi Mbak Mona yang katanya sedang ada masalah.


"Hei, kenapa diam?" Kak Rimba menjentikkan jarinya di depan mataku.


"Hem, tdiak, Kak" kilahku.


"Ya sudah, kamu cucu muka dulu. Setelah itu makan baru minum obat," ucap Kak Rimba mencubit hidungku dengan gemas.


"Kakak." Aku memukul tangannya pelan.


"Mampu jalan sendiri?"


"Bisalah. Memangnya aku sa_" aku terkejut ketika tubuhku terasa melayang di udara, ternyata Kak Rimba yang menggendongku.


"Kakak, turunkan aku." Aku menggoyangkan kakiku agar di turunkan oleh Kak Rimba.


"Ck, jangan protes. Kamu itu lelet," sanggah Kak Rimba yang tak mau mendengar penolakanku.


"Tapi, Kak_"


Kak Rimba menurunkan tubuhku saat tiba di kamar mandi.


"Kalau sudah selesai, panggil Kakak." Dia mengacak rambut berantakanku seraya terkekeh pelan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2