
Mira keluar dari kamarnya dengan wajah kesalnya. Mulutnya komat-kamit seperti dukun baca mantra.
"Kenapa lagi Mir?" Yanti geleng-geleng kepala saja melihat anak perempuannya tersebut.
"Tidak apa-apa," cetusnya.
Tidak lama kemudian terdengar deru mobil berhenti tepat didepan rumah Mira. Wanita itu melirik kearah jendela tampak Rick keluar dari mobil dengan pakaian casualnya.
"Itu si Rick sudah datang, cepat keluar sana," suruh Yanti.
"Ck, aku bisa sendiri," protes Mira.
Marvel geleng-geleng kepala, melihat pertengkaran antara istri dan anaknya. Dia sudah tak heran, apalagi Mira yang cerewet dan suka membangkang ucapan sang ibu.
Setelah berpamitan, Mira berjalan keluar menemui Rick. Lelaki tampan dan muda itu tersenyum hangat menyambut Mira.
"Selamat malam Kak Mira," sapa Rick.
"Malam," sahut Mira ketus sambil mengibaskan rambutnya ke belakang.
Rick menyembunyikan senyumnya. Malam ini Mira sangat cantik dengan gaun berwarna hitam yang kontras dengan kulit putihnya dan senada dengan jas mahal yang dipakai oleh Rick.
"Silakan masuk, Kak," ucap Rick membuka pintu mobil dan mempersilahkan wanita cantik itu masuk.
"Terima kasih," ketus Mira lalu masuk ke dalam.
Rick masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Mira. Sepanjang jalan wajah Mira di tekuk kesal. Dia ingin menolak tetapi tidak enak.
Rick hanya tersenyum saja. Dia tidak akan menyerah mendapatkan cinta Mira. Dia yakin suatu saat nanti, wanita ini pasti akan jatuh cinta padanya. Semua hanya masalah waktu dan keadaan, mungkin karena baru dekat dan masa pendekatan keduanya canggung. Tetapi nanti saat sudah biasa maka keduanya takkan seperti ini lagi.
"Apakah ramai?" tanya Mira.
"Lumayan ramai, Kak," sahut Rick.
"Please jangan panggil aku Kakak, panggil Mira saja. Lagian aku tidak tua, hanya berusia," kilah Mira yang menolak tua.
Mira heran semua orang memaksanya menikah, padahal dia menikmati kesendiriannya sebagai wanita single tanpa terbebani harus mengurus semua dan anak. Dia bebas melakukan apa saja. Tidak ada yang melarang apalagi mengatur. Coba kalau dia menikah pasti akan ribet dan banyak aturannya.
"Apa tidak apa, kalau aku memanggil dengan panggilan nama, rasanya tidak sopan?" tanya Rick. Dia sudah terbiasa memanggil yang lebih tua dengan panggilan kakak atau ibu.
"Ck, anggap saja kita berteman dekat. Jangan dibuat ribet," sahut Mira memutar bola matanya malas.
Rick menahan senyumnya. Mendengar kata teman tersebut membuatnya salah tingkah. Memang benar kata ayahnya Mira ini hanya perlu didekati dengan pelan. Sebab kejadian di masa lalu telah membuatnya berhati-hati dalam memulai hubungan dengan orang baru.
__ADS_1
"Baiklah, Ra," sahut Rick.
Mira mengangguk saja. Bukan apa, sebenarnya Mira belum siapa menjalani hubungan dengan siapapun. Dia masih ingin menikah proses pendewasaan dalam hidupnya. Jujur saja dia belum lupa pada mantan tunangannya yang telah bahagia bersama wanita lain. Sementara dirinya masih merenung dalam kesendirian.
"Ehh Rick, disana banyak makanan tidak?" tanya Mira, kebetulan dia belum makan malam karena dalam edisi merajuk.
"Tentu, namanya juga pesta," jawab Rick geleng-geleng kepala salut.
"Yes, kebetulan aku belum makan," sahut Mira cenggesan.
.
.
Mobil Divta terparkir di depan sebuah hotel bintang lima. Letnan yang menikah adalah mantan adik dari mantan kapten senior Divta. Jadi tentu pernikahan mereka akan sangat mewah.
"Ayo turun," ajak Divta pada Mentari.
"Baik, Pak," sahut Mentari.
Kedua orang itu turun dari mobil. Mentari sangat canggung, apalagi terlihat banyak tamu undangan yang berdatangan dengan pasangan mereka. Sementara dirinya orang asing yang belum tahu apa-apa.
"Selamat malam Kapten Divta," sapa beberapa pria yang diyakini sebagai bawahan Divta.
"Ayo, Kapten silahkan masuk," ajak salah satunya.
"Baik," sahut Divta.
Divta melirik Mentari yang tampak celingak-celinguk dengan jemari yang saling meremas satu sama lain.
"Kau baik-baik saja, Tari?" tanya Divta pada pengasuh anaknya itu. Dia akui Mentari adalah gadis muda yang masih polos dan cantik, apalagi gadis tersebut berasal dari kampung.
"Pak, apa tidak malu?" tanya Mentari.
Mentari memiliki sifat pemalu, dia memang jarang bergaul dengan dunia luar. Bahkan selama tinggal dirumah Divta dia hampir tak pernah keluar rumah kecuali kuliah dan menemani Ibunya belanja.
Divta terkekeh pelan, "Kenapa harus malu? Mereka juga tidak mengenalmu!" sahut Divta.
Bersamaan dengan itu, sebuah mobil terparkir di samping mobil Divta. Lalu keluarlah seorang laki-laki dan seorang perempuan.
"Kapten Divta," sapa Rick.
"Komandan Rick," balas Divta.
__ADS_1
Mira langsung terdiam ketika melihat Divta. Jujur saja dia pernah menyukai lelaki itu malah sekarang perasaan kagumnya pada Divta masih ada. Apalagi malam ini lelaki itu terlihat sangat berbeda, memakai baju casual yang pas ditubuh kekar dan tinggi.
"Apakah sudah lama datang?" tanya Rick bersalaman dengan Divta.
"Baru saja sampai, Komandan," sahut Divta. Lelaki itu melirik kearah Mira, tentu dia kenal siapa Mira sering berteman dengan Ara. "Selamat malam Bu Mira," sapa Divta juga.
"Malam Pak Divta," balas Mira tersenyum malu-malu seperti anak perawan yang mau di lamar.
"Lho, Kapten kenal Mira?" tanya Rick melihat kedua orang itu secara bergantian.
"Oh iya, tentu. Dia teman Ara. Pernah bertemu beberapa kali," jelas Divta. "Apa dia kekasihmu?" tanya Divta.
Rick mengangguk dan Mira menggeleng. Membuat Divta dan Mentari bingung jawaban siapa yang benar.
"Doakan saja yang terbaik," sahut Rick.
Mira memutar bola matanya malas mendengar ucapan lelaki itu yang terlalu percaya diri. Padahal mereka hanya berkenalan dan tak memiliki hubungan apa-apa.
"Ya sudah ayo masuk," ajak Divta. "Tari ayo peluk lengan saya," pinta Divta.
"Tapi Pak_"
"Sudah jangan malu, kalau kau berjalan sendirian bisa-bisa tidak sampai," ucap Divta dengan cepat melingkarkan tangan mentari dilengan kekarnya.
"Pak_"
"Sudah ayo," potong Divta.
Bukan apa Divta memaksa Mentari berpegangan padanya. Gadis itu berjalan dengan terseok-seok, sepertinya dia tidak biasa memakai sepatu tinggi.
Mira menatap perlakuan Divta pada Mentari. Dia tidak tahu apakah cemburu? Tetapi ada sesuatu yang terasa menjanggal didalam hatinya. Bagaimanapun dia pernah terobsesi pada lelaki itu dan berharap Divta meliriknya. Namun, Divta melewatkan dirinya begitu saja. Mira langsung sadar diri, bawa dia bukan tipe Divta.
"Ra, kenapa?" tanya Rick melambaikan tangannya didepan wajah Mira.
"Tidak apa-apa," kilah Mira menarik nafas dalam.
"Ayo masuk," ajak Rick. "Mau peluk tanganku juga," tawar Rick menyedorkan lengannya.
"Dih, ogah," ketus wanita itu berjalan duluan.
Rick terkekeh pelan, lalu menyusul Mira. Wanita ini tipe orang yang suka blak-blakan dalam hal bicara. Kalau tidak suka dia akan bicara langsung begitu juga sebaliknya. Jujur semakin hari Rick semakin tertarik pada sifat Mira.
Bersambung......
__ADS_1