Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Baru tahu


__ADS_3

Aku masih memikirkan kata-kata Bee. Apa benar jika selama ini Nara pemilik Caffeine Stories? Rasanya aku belum percaya.


"Apa aku lihat ke sana saja untuk memastikan ucapan Bee?" gumamku.


Ku sibukan diriku dengan tumpukan laporan pasien di atas mejaku. Pengkhianatan Mona masih terasa membekas. Namun, wajah dingin Nara jauh lebih menyakitkan dari hatiku yang tergores.


"Nara," lirihku.


Barangkali tidak ada cinta yang benar-benar baru di dunia ini selain cinta pertama. Setiap orang punya kisah tersendiri bagaimana menemukan bahagia dan luka dalam jatuh cinta. Semakin lama pernah menjalani hubungan dengan orang lain, semakin banyak juga kisah yang akan tersimpan dalam ingatan. Aku memahami hal ini dengan utuh. Itulah mengapa aku tak mudah melupakan masa lalu yang menyakitkan. Pengkhianatan Mona dan Ikmal telah meninggalkan kecewa dan kebencian di dalam dadaku.


Aku mencoba merelakan semua hati lain pergi demi hatiku pada Mona. Terutama mengabaikan cinta istriku dan berharap bahwa kekasihku adalah cinta yang akan memilikiku. Aku tahu, Nara bukan seseorang yang layak menerima hati terbagi. Namun, aku sama sekali tidak peduli dengan luka yang ada di hatinya kala itu. Sekarang, seperti sebuah hukum karma yang membalasku dengan kejam. Mona mengkhianati cinta yang telah kami sepakati. Di saat yang bersamaan, sifat Nara berubah seratus delapan puluh derajat.


Aku berkali-kali berada di titik terburuk untuk urusan perasaan. Namun, Mona melepaskan tanpa alasan, lalu memilih untuk melupakan adalah satu hal paling buruk yang tak pernah aku bayangkan. Bagaimana mungkin dia yang membiarkan diriku terayu lalu pergi? Sementara setengah mati aku memperjuangkan untuk mempertahankan janji. Mona datang dengan segala hal yang mengejutkan. Mengapa tiba-tiba memilih hilang dan menimbulkan ketakutan.


Ku tatap figura kami berdua yang berdiri rapi di atas meja kerjaku. Foto yang sengaja ku pajang sebagai penyemangat kerja. Melihat wajah polos kekasihku selalu mampu meredakan emosi dan rasa lelah yang menyerang. Namun, kenapa saat melihat foto ini bukan bahagia yang terasa tetapi rasa sakit yang menjelma menjadi luka?


"Mona, kamu cinta pertamaku. Wanita satu-satunya yang ingin ku nikahi. Tetapi kenapa kamu malah menurihkan luka di hati ini?" lirihku.


Ku kumpulkan semua barang-barang pemberian Mona. Mantan kekasihku itu sangat suka membelikan aku sesuatu entah itu berupa barang-barang berharga atau sekedar jam weker sebagai penghias meja. Namun, sekarang aku tak bisa menyimpan barang-barang ini karena itu sama saja dengan menguak luka paling dalam di dadaku.


Ku tutup kotak berukuran besar ini. Saat kotak ini tertutup semua kenangan tak lagi menyita untuk di jadikan alasan bersedih. Sudah cukup. Aku memilih melupakan segala rasa sakit yang melekat di dadaku. Ternyata berlama-lama merenungi kepergian seseorang tidak baik untuk pikiran yang sehat. Daripada pusing memikirkan hal yang tidak-tidak aku memilih menghapus semua kenangan dan jejak yang membekas.


"Selamat tinggal, Mona. Terima kasih untuk waktu lima tahunnya. Aku akan melepaskan semua tentangmu," ucapku.


Ku masukkan kotak tersebut ke dalam tong sampah berukuran besar. Kuharap setelah ini tak ada lagi air mata yang membasahi pipi karena perasaan yang kian menepi. Semoga aku bisa segera melupakan Mona dan menjalani hidupku bersama Nara.


Nara? Istriku, wanita yang ku nikahi kurang lebih enam bulan. Pernikahan kami terjadi karena kesepakatan kedua belah pihak lebih tepatnya pihak orang tua. Tetapi di pihak aku dan Nara, kami sama-sama tak menginginkan pernikahan ini, maksudku Nara bukan aku. Istriku pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku. Lalu apakah sekarang perasaan Nara masih sama? Kalau Nara memang masih mencintaiku, aku akan berusaha membuka hati untuknya.

__ADS_1


"Bintang."


Kulihat Betrand masuk ke dalam ruanganku.


"Dih, ada apa kamu ke sini?" tanyaku ketus.


"Yaellah, Pak Dokter sombong amat," singgung Betrand sambil duduk di sofa ruanganku tanpa di suruh.


"Belum di suruh duduk sudah duduk duluan," sindirku juga sambil duduk di samping Betrand.


"Hem, kalau mau menunggu kamu yang suruh aku duduk. Kelamaan Bintang, kakiku bisa keram kalau terlalu lama berdiri," sahut Betrand membela diri.


"Ada apa kamu ke sini?" Aku menatap Betrand curiga. Sahabatku yang satu ini kalau tidak ada yang dia inginkan jarang sekali berkunjung, jika dia sudah datang pasti ada mau nya.


"Dih, berhenti menatap aku seperti itu." Betrand bergidik ngeri ketika melihat tatapanku yang curiga.


Aku tak menanggapi ucapan Betrand. Sekarang yang ada di kepalaku adalah Nara dan Rimba. Kata Bee kedua orang ini dekat, lalu ada hubungan apa mereka? Aku memang mengenal Rimba sejak dulu. Kami adalah rival yang saling bersaing satu sama lain.


"Hem."


Aku hanya berdehem seolah membenarkan ucapan Betrand. Bagaimanapun aku tak bisa sambunyikan bahwa aku terluka dan patah hati saat ini.


"Masalah Mona?" tebak Betrand menatapku serius. Kapten TNI AL ini lumayan menyebalkan kalau ingin tahu apa yang dia dengar.


Aku mendesah pelan lalu mengangguk dengan wajah lemas.


"Serius? Memangnya Mona kenapa?" tanya Betrand kepo.

__ADS_1


"Dia hamil, anak_"


"Busyet, serius Mona hamil anak kamu? Tidak menyangka kamu jago juga kalau masalah ranjang." Bertrand ngakak.


Aku mendengus kesal. Betrand pikir aku sama seperti dia? Aku bukan penjahat kelamin yang suka merusak wanita. Bahkan selama menjalin hubungan dengan Mona aku tak pernah menyentuhnya lebih selain bagian bibir dan pipi.


"Bukan anakku."


Mata Betrand kembali membulat sempurna lalu dia menatapku serius.


"Bukan anakmu? Lalu anak siapa?" tanya Betrand benar-benar penasaran. Dia seperti perempuan yang suka bergosip.


"Anak Ikmal," jawabku cepat.


"What's?" pekik Betrand.


Aku mengangguk dan membenarkan hal tersebut. Pasti Betrand juga tak menyangka bahwa Ikmal berani berkhianat di belakangku.


Betrand menggeleng tak percaya mendengar penjelasanku. Beberapa kali sahabatku ini menarik nafasnya dalam mencoba tenang. Aku, Ikmal dan Betrand cukup dekat. Kami adalah segerombolan pria dewasa yang menyukai dunia musik. Tatkala kami menghabiskan waktu bersama di akhir pekan. Tetapi siapa sangka jika Ikmal tega mengambil kekasihku dan menghamili Mona.


"Ikmal menyukai Mona sejak kami kuliah," jelasku. "Aku tidak tahu jika selama ini mereka menjalin hubungan diam-diam di belakangku," sambungku lagi.


Lagi-lagi Betrand tampak terkejut ketika mendengar penuturan dan penjelasanku. Dia tampak syok dan tak percaya.


"Aku tidak menyangka jika Ikmal sejahat itu," ucapnya menggeleng.


"Sama. Aku juga."

__ADS_1


Kami berdua sama-sama diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing adalah pilihan yang tepat saat hati terasa gundah gulana.


Bersambung........


__ADS_2