
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
"Kamu mau ikut?" tanya ku membuka pintu mobil.
"Iya," sahut Divta.
Kami keluar dari mobil. Sejenak aku terdiam, menatap bangunan kokoh yang sudah menemani ku selama kurang lebih sebelas tahun. Bangunan yang menjadi saksi bisu antara aku dan Mas Galvin.
"Semua akan baik-baik saja," ucap Divta menenangkan aku.
Aku mengangguk dan memaksa kan senyum. Lalu kami masuk kedalam pagar rumah sederhana dengan minimalis berwarna biru laut. Ya aku menyukai warna biru, apalagi di depannya terdapat beberapa pot bunga tanaman ku. Namun, sayang setelah aku tak tinggal disini, bunga-bunga ini pun melayu sama seperti hatiku saat ini.
Aku menatap sedih bunga-bunga yang ku rawat dengan susah payah. Kini layu dan berjatuhan ditanah. Aku ingin membawa nya kerumah baru, tetapi ini sangat banyak. Ku relakan bunga-bunga tersebut tinggal ditempat kenangan kami. Anggap saja dia yang ku titip menjaga Mas Galvin dalam mimpi. Walau perlahan dia akhirnya menyerah lalu layu dan mati bersamaan dengan kering nya daun tanpa air.
"Ara," panggil seseorang.
Hingga lamunan ku terbuyarkan saat ada yang memanggil namaku. Aku dan Divta sontak melihat kearah suara.
"Mas Galvin," gumam ku pelan.
Aku dan Divta masuk kedalam. Tatapan Mas Galvin begitu lekat padaku. Entah, apa yang dilihat oleh mantan suamiku itu? Aku sudah tak memiliki hubungan apapun dengan nya.
"Huh, ini siapa lagi Diandra? Kemarin beda kenapa hari ini beda lagi?" tanya mantan ibu mertua dengan wajah meledek kearah ku.
Aku tak menjawab hatiku mulai panas. Apalagi kemarin dia mengatakan aku perempuan murahan yang suka menjual diri pada lelaki hidung belang. Aku tidak terima, aku bukan wanita seperti itu. Jika, aku ini memang penggoda pasti Divta sudah masuk kedalam godaan ku.
"Aku kesini mau mengambil beberapa berkas di kamar kita, Mas," jelasku.
"Silahkan ambil!" suruh Mas Galvin dengan senyum manis nya.
"Ck, tidak boleh. Aku tidak akan membiarkan orang ketiga masuk kedalam kamar kita, Mas," tolak Lusia keras.
Aku tersenyum sinis. Apakah Lusia sadar bahwa dialah orang ketiga di hubungan kami? Dia yang sudah merebut Mas Galvin dan kamar itu dari tanganku. Harusnya aku yang mengatakan hal tersebut, bukan dia. Tetapi kenapa seperti aku yang pelakor?
__ADS_1
"Lusia_"
"Mas, kamu saja yang ambil. Lusia benar tidak baik orang lain masuk kedalam kamar kalian," sergah ku. "Ambil berkas-berkas sekolah Nara dan Naro, Mas," sambung ku.
"Seenaknya kamu menyuruh anak saya!" hardik mantan ibu mertua. "Dasar perempuan tidak tahu diri. Sudah bercerai masih saja genit sama suami orang," ucap mantan mertua dengan sinis menatapku.
Aku mengelus dadaku pelan, sabar. Jika tidak ada Divta mungkin aku akan baku hantam mempertahankan hak ku.
"Sudah. Sudah. Biar Mas ambil," ucap Mas Galvin menangahi.
Sosok Mas Galvin masih seperti dulu. Sifatnya yang lemah lembut dan selalu bisa meredakan emosi dan pertengkaran, membuat ku merindukan mantan suami ku ini. Seandainya Mas Galvin tak berkhianat pasti kami sudah hidup bahagia.
Mas Galvin bergegas masuk kedalam kamar dan mengambil berkas yang aku minta.
Sementara mantan mertua dan Lusia menatapku penuh kebencian. Benar, lama-lama sifat asli Lusia terlihat. Padahal dia adalah gadis baik yang rendah hati dan lemah lembut. Namun, setelah aku tahu siapa dia. Dia seolah menunjukkan sifat asli nya.
"Hati-hati kamu Kapten Divta, Diandra ini suka bergonta-ganti pasangan. Kemarin saja saya lihat dia bersama lelaki lain dan hari ini sama kamu. Awas nanti kamu jadi korban selanjutnya," ucap mantan mertua penuh penekanan.
Hatiku teriris sakit, apa aku seburuk itu di mata mantan mertua ku sehingga dia tega mengatakan hal yang sama sekali tak pernah aku lakukan. Apakah aku ini tampak pelacur di mata nya? Kenapa tak memiliki perasaan sebelum mengeluarkan kata-kata yang kira-kira menyakiti?
"Ara tidak menggoda saya," jawab Divta cepat.
"Kamu jangan termakan omongan manis dia Kapten Divta, nanti kamu malah di manfaatkan lagi. Maklum janda muda. Apalagi tak memiliki suami, pasti butuh duit bukan?" ucap mantan mertua lagi.
"Cukup, Bu!" hardik ku sambil berdiri.
"Diandra," teriak Mas Galvin dari arah kamarku.
Mas Galvin berjalan cepat menghampiri aku dan Divta.
Plak
Aku terkejut ketika satu tamparan mendarat di pipiku. Rasanya pedih dan mengeluarkan sedikit darah.
"Kamu jangan ngomong kasar sama Ibu aku," sentak Mas Galvin.
Aku menahan tangan Divta saat hendak menyerang Mas Galvin. Orang yang merasa dirinya benar, takkan merasa bersalah meski dia sudah melukai orang lain.
__ADS_1
"Pergi kamu dari ini," usir Mas Galvin sambil melempar berkas yang ku minta tadi ke wajah ku.
"Ehhh jangan kasar dong," sergah Divta yang terlihat emosi.
"Kamu jangan ikut campur ini bukan urusan kamu," balas Mas Galvin menatap Divta dengan penuh kebencian.
Sementara aku mengambil berkas-berkas yang berserakan d lantai. Air mata luruh di pipiku.
"Jelas aku ikut campur, apapun yang bersangkutan dengan Ara itu adalah urusan ku," tampik Divta dengan wajah menantang.
"Kamu bukan siapa-siapa, jadi tidak usah syok ikut campur,"
"Ka_"
"Stop!!" teriakku menangahi.
"Jangan pernah kamu datang kesini lagi Diandra, kamu sama saja seperti yang lain nya," ucap Mas Galvin penuh penekanan.
Aku menatap Mas Galvin, bisa kulihat jika tatapan matanya seperti menyimpan amarah dan kebencian. Pasti dia salah paham saat aku membentak ibu nya tadi. Mas Galvin sangat menyanyangi ibu nya.
"Aku juga tidak akan pernah datang ke sini lagi Mas. Semoga suatu saat kamu merasakan rasa sakit seperti yang aku rasakan," ucapku.
"Ayo Ta,"
Aku dan Divta keluar dari pagar rumah. Seketika lutut ku serasa melemah. Aku seperti tak memiliki tenaga. Ini kali keduanya Mas Galvin membentak ku. Kenapa rasanya sangat sakit sekali? Dadaku bagai dihimpit oleh balok-balok, lalu meremas nya hingga mengeluarkan banyak darah.
Aku masuk kedalam mobil diikuti oleh Divta.
"Ra, pipi kamu merah. Aku obati ya," ucap Divta lembut.
Aku mengarahkan pandangan kearah Divta. Ini lah titik kehancuran dalam hidupku. Penghinaan keluarga mantan suami benar-benar membuatku seperti wanita menyedihkan. Aku tak melakukan kesalahan apapun, tapi akh justru mengalami kekerasan seperti ini.
"Sudah jangan menangis lagi." Divta menyeka air mataku.
"Ta, boleh aku peluk kamu sebentar? Aku lelah, Ta," pinta ku.
Divta merentangkan tangan nya, agar aku masuk kedalam pelukan nya. Aku memeluk Divta dengan isakkan tangis yang menggema didalam mobil. Rasanya benar-benar sakit. Tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata.
__ADS_1
Bersambung....