Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 22.


__ADS_3

"Sherly!" teriak Kak Naro.


Aku dan Mas Rey yang tengah berbincang-bincang di luar sontak terkejut.


"Mas, ada apa?"


"Ayo, kita masuk."


Aku dan Mas Rey serta bersama dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruang rawat inap Kak Sherly.


"Sherly!"


Aku terdiam mematung ketika melihat layar monitor yang menunjukkan kinerja jantung Kak Sherly. Di sana tampak garis lurus memanjang di sertai dengan bunyi yang terdengar menggema di dalam ruangan.


"Kak." Aku memeluk Kak Naro dan berusaha menenangkan kakakku yang sedang menangis tersebut.


Mas Rey juga tampak hanya diam saja. Dia seperti kehilangan akal pikirannya. Tatapan sendu dengan air mata mengalir.


Para dokter masih berusaha mengembalikan detak jantung Kak Sherly. Aku berharap dia bertahan, walau dia sudah jahat dan mengkhianati Kak Naro. Tetapi sesungguhnya dia baik. Aku yakin dia memiliki alasan kenapa melakukan hal tersebut.


Dokter menggeleng dan melihat ke arah kami bertiga.


"Bagaimana, Dok?" tanya Mas Rey.


"Maaf, Pak. Kami tidak bisa menyelamatkan Bu Sherly."


Deg


Kau tahu? Bagian mana yang paling menyakitkan dari perpisahan?


Berpisah karena KEMATIAN.


Tak peduli sebesar apa kau merindukannya. Dia tidak akan kembali ke dunia yang fana ini.


"Dok, ini tidak benar 'kan? Sherly masih hidup?" tolak Mas Rey tampak menggeleng.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Kami hanya manusia biasa dan Bu Sherly sudah menyelesaikan semua tugas-tugasnya di dunia. Saya harap Bapak sabar dan ikhlas," ucap dokter.


*


*


Rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada, meremukkan seluruh raga karena takkan menemukan titik temu meskipun dunia terbalik lima ratus juta kali dan takkan bertemu sekalipun menunggu beratus-ratus tahun lamanya.


Aku menatap nanar wajah itu, wajah tertidur dengan mata terpejam erat. Wajah pucat nan cantik.


"Sherly," ucap Kak Naro terduduk lemah di depan peti mati Kak Sherly sebelum di masukan ke dalam tanah.


"Maafkan aku," ucap Kak Naro lagi. Entah apa yang mereka bicarakan sebelum Kak Sherly pergi untuk selama-lamanya. Terlihat wajah Kak Naro penuh penyesalan.


Aku tahu tidak ada yang abadi di dunia ini termasuk kebersamaan. Pada dasarnya berbentuk apapun perpisahan itu akan tetap meninggalkan luka yang mendalam. Melihat kepergian Kak Sherly, aku jadi teringat pada Ariana. Ini kedua kalinya Kak Naro merasakan kehilangan. Tetapi kali ini dia tampak biasa saja. Berbeda ketika dia kehilangan istrinya, dia tampak hancur dan runtuh.


"Kak, sudah ya?" Aku mengusap bahu Kak Naro. "Biarkan Kak Sherly tenang."


Jujur aku juga takut pada kematian. Takut kehilangan orang-orang yang aku cintai. Kematian itu terasa begitu dekat ketika memandang sisi negatif kehidupan.


"Kita pulang ya, Kak."


Aku mengajak Kak Naro dan Mas Rey pulang. Tidak baik berlama-lama di sini. Aku tak mau kedua orang ini berlarut-larut dalam kesendirian. Sebab hidup akan selalu berlangsung seperti biasa. Aku tahu tak ada yang baik-baik saja jika berhubungan dengan kematian. Sekuat apapun manusia ketika sosok yang dia cintai pergi untuk selamanya pasti akan sangat hancur.


Kak Naro terlihat melamun dengan tatapan kosongnya. Aku tak bisa bayangkan berada di posisinya. Berpisah hidup dengan mantan suamiku saja aku hancur bukan main. Apalagi berpisah karena kematian karena takkan pernah menemukan titik temu sampai dunia terbalik ribuan kali.


"Kakak." Aku bersandar di bahunya. "Kakak pasti bisa lewati ini."


"Kakak belum pulih kehilangan Arin. Sekarang Sherly yang harus pergi meninggalkan Kakak," ucap Kak Naro tampak frustasi.


Aku memejamkan mataku seraya melingkarkan tangan di lengan kekar kakakku. Inilah alasan kenapa aku memilih tinggal bersama Kak Naro karena aku paham bagaimana kesepian.


"Suatu saat Kakak akan bahagia," ucapku menyakinkan Kak Naro.


Aku juga tak tahu arti bahagia. Entah apa itu bahagia? Setelah apa yang kupercayai di rusak oleh orang tak bertanggungjawab.

__ADS_1


Aku turun dari mobil seraya memapah Kak Naro. Sementara Mas Rey langsung pulang ke rumahnya. Aku tahu jika dia juga hancur walau dia mengatakan tidak mencintai Kak Sherly tetapi dia menyayangi mantan kekasih Kak Naro seperti adiknya sendiri.


Kami masuk ke dalam kamar Kak Naro, "Kakak langsung istirahat ya," ucapku.


"Ta," panggil Kak Naro.


"Iya, Kak?" Aku duduk di bibir ranjang. "Kenapa, Kak?" tanyaku.


"Menikahlah dengan Rey." Aku terkejut ketika mendengar ucapan Kak Naro.


"Maksud Kakak?" tanyaku tak mengerti.


"Ta, kamu masih muda. Jangan terjebak dalam masa lalu. Kamu harus bahagia." Kak Naro menyatukan tangan kami berdua. "Jangan seperti Kakak. Kakak tidak menemukan cahaya di balik gelapnya hidup ini. Kakak sudah berjanji pada Arin akan mencintainya sampai akhir. Kakak tidak bisa jatuh cinta lagi. Sementara kamu, kamu masih bisa." Kak Naro mengusap pipiku dan berusaha menyakinkan aku.


"Tapi Tata tidak mencintai Mas Rey, Kak. Begitu juga sebaliknya. Kami bahkan baru kenal," ucapku tak habis pikir. Tidak, setelah perceraian yang aku alami. Aku benar trauma dengan yang namanya pernikahan.


"Dulu Kakak tidak mencintai Arin dan bahkan membenci dia. Tetapi Arin berhasil menyakinkan Kakak. Hingga akhirnya cinta itu tumbuh dalam keterlambatan. Terlambat, Ta. Kakak terlambat," racun Kak Naro.


Aku juga menangkup wajah Kak Naro. Dia sangat rapuh dan patah hati. Selama sepuluh tahun dia hidup dalam penyesalannya setelah Ariana pergi dari dunia ini. Aku paham pada perasaannya tetapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa.


"Kak, Arin pasti sudah melihat Kakak yang seperti ini. Ayo, Kak. Tata mohon bangkit. Kakak harus memulai hidup yang baru."


Kak Naro membalas dengan gelengan kepala. Kami sekeluarga sudah menyerah dengan kondisi Kak Naro sekarang. Bahkan Kak Nara sendiri tak bisa berbuat apa-apa.


Ku rengkuh tubuh rapuh Kak Naro ke dalam pelukanku. Kami kakak beradik yang sama-sama terluka dan jatuh dalam patah hati yang dalam. Kami sama-sama kehilangan orang yang kami cintai. Walau dalam bentuk berbeda tetapi rasanya benar-benar menyayat hati. Semua perasaan yang tak bisa di jelaskan tersebut rasanya menghancurkan sukma.


"Kakak tidak bisa melupakan Arin, Ta. Kakak menyesal sudah jahat padanya."


Aku termasuk orang yang jahat pada Ariana. Aku juga menyesal karena sudah bersikap kasar pada almarhum kakak iparku itu. Sekarang rasa sakit kehilangan dan penyesalan benar-benar membuat tak berdaya.


"Ikhlaskan Arin, Kak. Kakak harus tetap demi si kembar."


Si kembar tumbuh menjadi anak-anak yang pintar. Wajah mereka tak mirip sama sekali dengan Mas Angga. Malah cenderung mirip Kak Naro, apa karena kakakku yang merawat mereka sejak kecil?


"Di mana letak surga itu, Ta? Biar kakak temukan untuk bersama Ariana!"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2