Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 09.


__ADS_3

Apa kabar cinta yang dulu ku perjuangkan dengan susah payah? Apa semua bisa berjalan dengan semestinya? Aku tahu membiasakan diri tanpa Mas Gevan bukan sesuatu yang mudah. Aku sedang belajar menikmati hidupku yang baru dan berlagak seolah tak terjadi apapun di antara kami.


"Sudah pulang, Ta?" sambut Mbak Queen yang berdiri di depan pintu.


"Iya, Mbak. Mbak sudah lama datang? Mas Gevan sudah datang belum?" cecarku.


"Hem, belum." Dia tampak gugup.


Bagaimana Mas Gevan gak tergiur pakaian Mbak Queen benar-benar seksi dan belahan dadanya terekspos jelas apalagi body yang masih seksi begitu. Tetapi aku tak peduli, mau Mas Gevan tergoda kek atau bahkan bercinta di depanku. Aku sudah tak peduli lagi, aku akan berlagak seperti tak terjadi apa-apa. Anggap saja aku sedang main film dan berakting tidak tahu apa-apa masalah perselingkuhan suamiku.


"Aku masuk dulu ya, Mbak. Mau masak buat suamiku, dia pasti lapar," ucapku.


Raut wajah Mbak Queen seketika berubah. Dia terlihat marah dan cemburu? Dih, siapa istri tua dan istri muda? Enak saja aku yang mengalah.


Aku membawa Lala masuk. Andai ada yang tahu, aku tak sekuat yang terlihat. Aku adalah perempuan rapuhbyajg yang sebenarnya membutuhkan pelukan hangat dan nyaman dari seseorang. Tetapi apa daya, aku tak punya tempat untuk bersandar. Menceritakan masalahku pada saudara dan kedua orang tuaku rasanya tidak mungkin kecuali di luar batas.


"Bik," panggilku pada Bik Arum.


"Iya, Bu?"


"Tolong mandiin Lala ya, saya mau masak dulu!" perintahku.


"Baik, Bu," sahut Bik Arum. "Ayo, Non!" ajak Bik Arum pada anakku.


Aku meletakan tas kerjaku dan berjalan menuju dapur. Mas Gevan pasti lapar apalagi seharian dia sedang bahagia bersama selingkuhannya dan berbohong padaku. Bukankan berbohong menguras energi? Daripada energinya terkuras lebih baik aku isi saja, agar dia semakin ahli berakting di depanku.


"Ta." Aku menoleh.


"Iya, Mbak?" Aku tersenyum lembut. Lebih tepatnya senyuman palsu, pelakor tidak boleh di kasari. Biarkan saja dia berkarya sampai di mana kemampuannya.


"Boleh Mbak bantu?" tawarnya.


"Oh boleh banget, Mbak. Kebetulan hari ini aku rencananya mau masak banyak buat Mas Gevan," sahutku.

__ADS_1


"Lho, dalam rangka apa?" Keningnya mengerut heran.


"Bulan ini keuntungan butikku lebih dari target, Mbak. Jadi, lumayanlah buat acara makan-makan," jelasku.


Dia membantu aku masak dan memotong sayuran. Aku tahu dia tak pandai masak. Tetapi demi cari muka di depanku makanya dia bertingkat seolah bisa menyaingi aku.


"Ta," panggilnya.


"Kenapa, Mbak?"


"Kamu tidak takut ada yang coba menggoda suami kamu? Apalagi Gevan itu masih tampan dan muda!" ujarnya. Sebenarnya dia ini ingin mengatakan bahwa dirinya adalah perempuan yang menggoda suamiku.


Aku menggeleng. Buat apa aku takut. Toh, percuma karena suamiku memang sudah tergoda oleh janda kembang yang ada di depanku ini.


"Aku sama sekali tidak takut, Mbak. Kalau ada perempuan yang menyukai suamiku itu bukan karena kelebihan tapi kegatelan. Aku biarkan saja mereka 'kan sama-sama gatal," ucapku dengan menggebu-gebu.


Mbak Queen tampak menelan saliva ketika mendengar ucapanku. Sekalian saja aku luruskan. Hoh, dia pikir aku sama seperti perempuan di luar sana yang mudah di tindas dan langsung melabrak orang selingkuh. Tidak, aku berbeda. Akan kulihat sampai di mana kemampuan dua manusia tak tahu diri ini bermain api.


Aku tertawa lebar ketika mendengar ucapannya. Sungguh lucu sekali wanita ini. Dia tidak bisa menyembunyikan wajah gugupnya di depanku.


"Aku tuh lebih berpikir realistis sih, Mbak. Perempuan yang mau jadi selingkuhan suami orang itu menurut aku murahan banget. Apalagi, kalau sampai hamil. Kasihan anaknya nanti. Kata orang pintar, laki-laki yang mau selingkuh itu bukan karena dia mencintai kamu tetapi menjadikan kamu pelampiasannya. Nanti juga dia akan kembali pada istri dan anaknya," jelasku sambil memotong sayuran. "Hukum karma itu pasti berlaku sih, Mbak. Makanya aku kalau lihat pelakor yang suka godain suami orang sampai hamil, suka berdoa jujur pengen dia mati pas melahirkan."


Wajah Mbak Queen langsung merah antara marah dan takut mendengar ucapanku. Ah, biarlah aku berdosa karena menyumpahinya. Salah dia sendiri yang suka menggoda suami orang. Eh tetapi salah suamiku juga yang mau tergoda jadi aku tidak bisa menyalahkan Mbak Queen.


"Ta, Mbak masuk ke kamar sebentar ya?" pamitnya.


"Lho, kenapa Mbak?" tanyaku tersenyum tanpa dosa.


"Ada barang ketinggalan di dalam kamar."


Barang apa? Dih memangnya dia mau ke mana pakai acara barang tertinggal saja.


Aku tersenyum penuh kemenangan saat melihat punggung Mbak Queen. Aku yakin dia pasti mau menghubungi Mas Gevan dan mengadu. Nanti, Mas Gevan pasti menegurku seperti yang sudah-sudah terjadi sebelumnya.

__ADS_1


"Bu," bisik Bik Arum yang entah kapan datang.


"Astaga, Bik!" Aku mengusap dadaku karena terkejut.


"Hehehe, maaf, Bu." Bik Arum cenggesan.


"Kenapa, Bik?" Aku kembali melanjutkan memotong sayuran.


"Itu, si pelakor kenapa?" tanya Bik Arum yang seolah tahu saja masalahku.


Aku terkekeh pelan merasa lucu dengan ucapan asisten rumah tanggaku ini. Sepertinya Bik Arum bisa aku jadikan partner in crime untuk membalaskan dendamku pada Mas Gevan dan Mbak Queen.


"Tidak boleh bicara begitu, Bik. Nanti dia dengar lagi," tegurku tertawa pelan.


"Hehe maaf, Bu. Saya keceplosan," ujar Bik Arum.


"Tidak apa-apa, mending Bibi bantu saya saja!" ujarku.


"Siap, Bu."


Tahukah? Hal-hal kecil seringkali membunuh dengan cara yang lebih besar. Pelan-pelan, dalam jangka waktu yang panjang. Semua kebiasaan itu membuatku dihantam kehilangan. Tak usah Mas Gevan tanya bagaimana sesaknya. Dia tahu bagaimana rasanya menjabarkan sedih, tidak akan cukup jika hanya dengan sekedar kata pedih. Kehilangan membuatku tak ingin mengenali diriku sendiri. Aku berusaha untuk menjadi orang lain. Aku mencoba menikmati hari-hari yang bukan diriku lagi. Sebab, menjadi diriku artinya aku sama sekali tidak bisa melepaskannya.


Namun, aku tak mau bodoh yang berdiam diri saja ketika di sakiti. Aku akan membalas. Aku akan buat dia merasakan perih yang menghantam dada. Apakah aku membalas dengan perselingkuhan juga? Oh sama sekali tidak, aku tidak akan memakai cara murahan tersebut untuk membuat dia merasakan sakit di dadaku. Tetapi aku akan membuat dia menyesal selama hidup karena sudah bermain dengan perempuan psikopat seperti aku.


"Kok lama, Mbak?" tanyaku ketika Mbak Queen datang dan dia sudah berganti pakaian. Pasti karena mau menyambut kedatangan suamiku karena 30 menit lagi Mas Gevan datang.


"Tadi lagi hubungi teman, Ta. Besok rencana Mbak sudah masuk kerja," jelasnya.


"Kerja apa, Mbak?"


Kerja jadi pelakor dan merusak rumah tangga orang lain. Sayangnya kata-kata itu hanya mampu di pendam dalam dada.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2