
Aku menghela nafas panjang. Hari ini adalah hari persidangan perceraianku dan Mas Bintang. Takdir cintaku benar-benar akan berakhir di meja hijau. Pernikahan singkat yang berjalan hanya enam bulan.
Namun, tak ada manusia yang bisa menolak takdir dan kehendak Tuhan. Aku mencoba berlapang dada menerima setiap takdir yang tercipta untuk menjadi bagian dari proses hidupku.
Mas Bintang adalah seseorang yang membawa diriku pergi, mengarungi debaran-debaran asmara. Semoga dia bahagia dengan segala hal yang sudah di buat luka. Semoga langkah baik selalu menyertainya. Maaf, untuk beberapa hal yang dia rusak dari hidupku tak pernah ku relakan untuknya. Aku tidak bisa melupakan begitu saja. Jika nanti, semesta bercanda dan mempertemukan kami lagi. Aku akan segera menghindar, sebab bagiku dia tidak lagi sesuatu yang menarik meski rindu tak sepenuhnya memudar.
Sejenak aku mengenang kembali kehidupan rumahtangga kami. Sejak awal pernikahan ini memang tak di inginkan. Tetapi aku memaksa untuk membahagiakan diri di tengah luka yang menyayat hati.
Aku mengangguk dengan memaksakan senyum. Kuhela nafas lalu ku hembuskan sepanjang mungkin berusaha menetralisir emosi yang terasa menyeruak dan menyerang masuk ke dalam dada.
"Sudah siap, Nak?" tanya Daddy.
Semua anggota keluarga sejak tadi menungguku. Mereka semua akan menemaniku hari ini ke pengadilan agama.
"Iya, Dad," jawabku memaksakan senyum.
Aku deg-degan. Setelah ini, statusku akan benar-benar janda muda tanpa anak dan masih perawan. Kadang aku mentertawakan kebodohanku dulu, betapa dengan percaya dirinya aku mengakui perasaanku pada Mas Bintang dengan harapan dia akan mencoba membuka hati untuk. Ternyata aku keliru, aku tertipu dengan harapan semu. Hati yang ku tunggu akan terbuka itu ternyata sudah lebih dulu di huni oleh orang lain. Dan aku berakhir menyedihkan.
"Ayo."
Kami masuk ke dalam mobil. Aku, Naro, Tata dan Shaka satu mobil. Sementara Daddy dan Mama menumpangi mobil lainnya.
"Kak." Tata memeluk lenganku dan bersandar nyaman di sana. "Jangan sedih. Mati satu tumbuh seribu, tenang. Ada Kak Rimba," goda Tata mencolek daguku seraya mengedipkan matanya jahil.
Aku terkekeh pelan. Sebenarnya Kak Rimba ingin ikut ke persidangan ku tetapi aku menolak karena tidak mau nanti salah paham lagi. Mas Bintang masih mengira jika aku juga mendua. Padahal aku dan Kak Rimba tidak memiliki hubungan apa-apa.
"Kakak tenang yaa. Semua akan baik-baik aja," ucap Shaka ikut menenangkannya.
"Iya, Shaka." Aku memaksa senyum
Mobil yang di kendarai Naro berhenti di sebuah gedung yang di yakini adalah kantor pengadilan. Tak bisa di pungkiri jika aku gugup bukan main, seluruh badanku melemas dan pipi panas. Berakhir, kisah cintaku berakhir cukup sampai di sini.
Kami masuk ke dalam. Di sana para hakim sudah berkumpul. Ada Mas Bintang, Ayah Langit, Bunda Senja dan juga Bee.
Aku duduk di kursi pengadilan. Di sampingku Mas Bintang juga duduk tatapan yang terarah padaku.
Setelah segala urusan dan berbagai macam proses persidangan hari ini adalah hari yang akan menjadi hari terakhir kami sebagai pasangan suami istri.
"Ra," bisiknya menatap berkaca-kaca. "Maafkan aku. Tolong berikan aku satu kesempatan lagi, Ra. Aku sayang sama kamu."
__ADS_1
Seandainya rasa sayang itu tulus karena ingin mempertahankan ku mungkin aku akan memberi dia kesempatan. Walau tulus tetapi sudah terlambat. Semua tak lagi sama. Kami bukan lagi dua orang harus saling memperhitungkan satu sama lain.
Aku tak menjawab atau merespon bahkan meliriknya pun tidak. Hatiku sudah terlanjur mati. Hatiku sudah dilukai secara tak berarti. Lantas apa yang perlu aku pertahankan dengan hubungan ini?
Persidangan di mulai. Para hakim sudah duduk ditempatnya masing-masing. Ada kuasa hukum Mas Bintang. Ada kuasa hukum ku juga. Sebenarnya aku tak ingin memakai kuasa hukum. Tetapi Daddy dan Kak Rimba keukeh meminta agar aku memiliki kuasa hukum karena takut jika Mas Bintang memutar balikkan fakta lainnya.
Tok tok tok
Aku memejamkan mataku saat palu itu diketuk tiga kali. Cintaku telah berakhir sampai disini. Tanpa permisi satu lelehan bening itu lolos begitu saja di pipiku.
"Pak Hakim, saya tidak mau pisah sama istri saya. Saya cinta sama istri saya, Pak. Saya mohon Pak." Mataku langsung terbuka saat mendengar ucapan Mas Bintang.
Dia menghampiri meja hakim dan memohon agar perpisahan tak diinginkan ini jangan sampai terjadi.
"Pak, saya mohon. Saya tidak mau pisah sama Nara. Saya tidak mau, Pak," ucapnya memohon.
Namun, para hakim hanya menggeleng. Ini sudah keputusan. Walau bagaimanapun Mas Bintang membujuk dan merayu hakim atau aku, sidang perceraian ini telah usai dan kami bukan lagi pasangan suami istri.
"Nara, aku mohon jangan tinggalkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku, Nara." Dia berlutut di kakiku sambil memegang tanganku.
"Maafkan aku. Aku menyesal sudah mengkhianati pernikahan kita dan kamu kamu. Aku pikir, bisa tanpa kamu tapi aku baru sadar kalau aku tidak bisa tanpa kamu," ucapnya berderai air mata.
"Nara, tolong kasih aku kesempatan sekali lagi. Tolong, Nara." Dia menatapku dengan tatapan permohonan.
"Nara."
Aku menarik tangan Mas Bintang agar berdiri. Bukan hanya dia yang tak ingin berpisah. Tetapi aku juga. Hanya saja, inilah akhir dari semua cerita yang tak mungkin bisa dilanjutkan kembali.
"Mas."
Aku memperbaiki bajunya yang sedikit berantakan. Dia memakai kemeja putih dan celana hitam. Tubuhnya tampak kurus. Padahal dokter ini orang yang menjaga kesehatan dan penampilan.
Aku merapikan kerah bajunya yang bergeser serta rambutnya yang tampak berantakan.
"Mas." Aku menggenggam tangannya. "Aku memang mencintaimu tapi maaf Mas aku lebih memilih membunuh cinta ini dari pada bertahan sama kamu. Luka yang kamu turihkan di hati aku terlalu dalam, Mas. Sekalipun kita kembali seperti dulu itu tidak akan mungkin mengobati luka yang udah kamu tancapkan di sini." Aku meletakkan tangannya di dadaku.
"Aku memang bukan wanita sempurna,Mas. Tapi, aku sangat mencintai kamu dan kamu satu-satunya laki-laki yang aku cintai di dunia ini, tapi lihatlah apa yang udah kamu lakukan sama aku, Mas. Kamu tidak hanya membawa orang ketiga dan berpoligami tapi kamu juga memasukkan benih-benih kebencian yang menyebar hingga menyerang bagian-bagian syaraf kita, Mas." Dia terdiam air matanya berderai
"Aku pikir hubungan kita bisa diperbaiki. Kita bisa saling mengoreksi. Namun, kenyataannya perpisahan adalah jawaban dari masalah yang kita hadapi saat ini."
__ADS_1
"Mas, kamu itu cinta pertama ku. Laki-laki yang membuat aku merasa begitu disayangi. Tapi kamu juga lelaki pertama yang membuat aku terluka, Mas. Membuatku kecewa. Membuatku tidak percaya sama kata cinta."
"Nara."
"Selamat berpisah, Mas. Terima kasih untuk enam bulannya. Terima kasih sudah menjadi sandaran ternyaman saat aku lelah. Saat aku tidak tahu jalan. Maaf jika selama enam bulan ini, aku belum bisa menjadi istri terbaik untuk, Mas. Aku melepaskan Mas bersama dia yang bisa buat Mas bahagia, bukan karena aku tidak cinta, Mas. Hanya aku sadar cinta yang tak seharusnya ini memang tidak boleh dipertahankan. Semoga kamu kamu menemukan wanita yang tepat nantinya. Cukup sampai di sini kisah kita, Mas. Aku juga perlahan akan menghapus semua perasaan ini untukmu. Semoga kelak, aku menemukan kebahagiaan lain, Mas. Sampai bertemu dititik terbaik menurut takdir kamu akan tetap menjadi pria yang aku cintai."
Aku memeluknya untuk terakhir kali. Pelukan yang dulu ku rindukan untuk menghangatkan malamku. Tetapi kini pelukan ini seperti surga yang tak ku inginkan.
"Nara." Dia membalas pelukan ku dan memeluk ku dengan menangis. "Maafkan, Mas."
Lama kami berdua saling berpelukan. Melepaskan cinta yang pernah singgah ini.
"Maafkan, aku." Sudah ribuan kali dia meminta maaf. Aku sudah memaafkan semua kesalahannya dan memulai langkah serta hidup yang baru.
Aku melepaskan pelukan Mas Bintang. Lalu, menyeka air matanya. Aku tak bisa membiarkan hatiku membencinya, bagaimana pun dia adalah lelaki yang pernah ada di hidupku.
"Selamat tinggal, Mas." Aku menjauh darinya.
"Nara." Dia tersungkur di lantai.
"Nara," panggilnya.
Aku melangkah keluar sambil menyeka air mataku tanpa peduli dengan teriakkan Mas Bintang.
Aku harus bisa melepaskan cinta dan perasaan yang tak di takdirkan untukku. Aku akan pergi, pergi sejauh mungkin dari cinta yang menyiksaku ini.
"Nara."
"Kak Rimba."
Entah kapan Kak Rimba datang ke sini.
Kak Rimba memelukku erat. Dan aku tak peduli menangis di dalam pelukkan lelaki ini. Aku hanya ingin menangis, itu saja.
"Kakak."
"Kamu menangis saja, tidak apa-apa. Kakak siap memeluk kamu kapan saja," ucapnya.
Aku memang menangis. Menangis bukan karena aku lemah. Tapi karena aku manusia biasa. Bagaimana pun takkan ada orang yang baik-baik saja ketika harus berpisah dengan cintanya.
__ADS_1
Bersambung...