Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Senyum mentari sore


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku tersenyum melihat Nara dan Naro yang tengah bermain air di bibir pantai saling sembur-semburan. Sesekali mereka berdua tertawa, lalu kembali saling mengejar. Suara deru ombak yang menggema seolah menandakan bunyian yang membuncah emosi.


Hampir satu bulan aku berada di negeri Jiran ini. Setelah melewati beberapa proses pemeriksaan dan pengobatan yang menyiksa tubuh Nara, akhirnya putriku tersebut di nyatakan sembuh secara total dari kelumpuhan di bagian kaki nya.


Nara kembali berjalan normal seperti biasa, walau cara dia berjalan sedikit berbeda. Tetapi setidaknya senyum telah terbit diwajah munggil tersebut.


"Mas terima kasih yaa," ucap ku bersandar dibahu lelaki ini.


Mas Dante baru datang dari Indonesia, beberapa Minggu yang lalu dia sempat pulang dan menyelesaikan beberapa pekerjaan nya. Padahal aku sudah melarang nya agar tak kembali ke Malaysia karena aku bisa mengurus diri dan anak-anak. Tetapi dia seperti ingin menunjukkan padaku bahwa cinta yang dia miliki tak lekang hanya oleh jarak dan waktu. Walau hingga kini aku belum menjawab ungkapan cintanya. Jujur saja patah hati membuat ku sedikit susah untuk kembali percaya pada kata cinta.


"Tidak perlu berterima kasih. Mas ikhlas melakukan semuanya untuk kamu dan anak-anak," jawab nya seraya mengelus kepalaku yang bersandar di bahu nya.


Aku tersenyum tipis, hatiku seketika menghangat. Ucapan sederhana tetapi bukan gombalan itu berhasil membuat wajahku bersemu merah, layaknya anak remaja yang ditembak oleh seorang pria. Jantung berdegup kencang setiap kali didekatnya. Apakah sesungguhnya aku sudah jatuh cinta pada pria ini? Entahlah, rasa takut dan trauma itu seperti menutupi semua perasaan yang seharusnya membuatku bahagia.


"Mas," panggilku sambil bangkit dari bahu nya.

__ADS_1


"Iya Sayang, kenapa?" tanya nya dengan senyuman menggoda.


Lagi-lagi jantungku berdebar ketika dia memanggilku dengan panggilan manis tersebut, walau panggilan ini yang sering di gunakan Mas Galvin dibalik namaku. Tetap saja hatiku meleleh.


"Mas serius sama aku?" Aku menatap bola matanya. "Aku wanita yang tidak punya apa-apa Mas. Mas juga tahu masa laluku, bulan? Jadi sebelum kita melangkah jauh dan sebelum aku benar-benar jatuh cinta sama Mas. Sebaiknya Mas pikirkan dulu agar tak salah pilih," ucap ku serius. Ya aku takut dia malah menyesal nantinya ketika aku tak seperti yang dia harapkan. Sebab rasa trauma yang dulu datang masih tinggal hingga sekarang.


Mas Dante tersenyum hangat, tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutup mataku akibat angin sepoi-sepoi yah melayangkannya.


"Mas sudah yakin memilih kamu dan Mas takkan salah pilih. Kamu wanita yang selama ini Mas cari untuk menyembuhkan luka yang tergores di hati Mas. Kamu wanita hebat, kamu ibu yang tangguh," sahutnya mengusap wajah mulusku.


Aku tidak tahu harus jawab apa, tetapi jawaban lelaki ini mampu menariku ke dalam dunia imajinasi. Pikiranku yang tadinya tak karuan, seolah memiliki tujuannya harapan.


"Mas tahu kamu masih belum percaya sama perasaan Mas ke kamu. Tetapi Mas tidak akan menyerah untuk membuktikan bahwa Mas tulus. Mas akan siap menunggu sampai kapan pun," sambungnya lagi.


"Jujur Mas, aku masih terlalu takut untuk membuka hati. Mas tahu 'kan setelah kepergian Mas Galvin, aku mengalami rasa trauma yang dalam. Aku bahkan hampir tak percaya lagi dengan kata cinta," jelas ku. Aku benar-benar ingin lelaki ini paham, sebelum perasaan nya kian dalam padaku.


"Mas tahu dan Mas paham. Oleh sebab itu Mas tidak memaksa kamu menerima cinta nya Mas. Tetapi Mas akan membuktikan dan mengobati semua luka yang ada di hati kamu. Mungkin perlu waktu dan proses, tetapi Mas yakin dan percaya bahwa kamu adalah takdir cinta terakhir Mas," ucap nya panjang lebar.


Tangan kekar itu melingkar di tubuhku, lalu menarik ku masuk kedalam pelukan nya.


"Mas akan menjadi obat untuk menyembuhkan luka dan rasa sakit di hati kamu," ucapnya. Aku bisa rasakan jika dia mengatakannya dengan tulus.

__ADS_1


"Terima kasih Mas," jawabku melingkarkan tangan ditubuhnya.


Ku hirup harum mewangi dari aura tubuh lelaki ini. Hingga kini aku merasa bermimpi bisa menjadi bagian dari lelaki yang selama ini sudah banyak membantu dan menolongku. Entahlah, bagaimana perasaan ku nanti. Aku hanya takut setelah ini akan banyak hal tak ku inginkan yang terjadi. Harum tubuh ini seolah menjadi canduku. Dada bidang ini, tempat ku bersandar paling nyaman. Telapak tangan kekarnya seolah menjadi atap saat hujan mendera.


Apa lagi, ibu tiriku masih belum menerima kehadiran ku. Dia masih menuduh jika aku anak pembawa sial yang membuat ibu ku meninggal saat melahirkan ku. Tidak ada anak yang mau di lahirkan jika, kehadiran nya malah membuat orang lain kehilangan nyawa.


"Mama. Daddy," panggil Nara dan Naro berlari kearah kami yang duduk dibangku beratapkan payung.


Aku tersenyum melihat Nara yang tampak bahagia saat dirinya sudah bisa berjalan kembali. Sebelumnya Mas Dante memang berjanji akan mengajak anak-anak liburan, jika Nara sembuh. Sekarang senyum terbit di wajah munggil nan imut tersebut.


"Nara pelan-pelan jalannya, Nak," tegur ku. Bukan apa Nara baru saja bisa berjalan, dokter mengatakan dia harus hati-hati karena takut saja jika kaki nya nanti sakit lagi.


"Iya Mama," jawab Nara.


Nara berhambur memelukku. Sementara Naro memeluk Mas Dante. Tidak lengkap rasanya karena tidak ada Tata. Harusnya Tata ikut bersama Mas Dante menyusul kami, namun Tata kurang sehat. Aku tak menatap berbeda antara Nara dan Naro serta Tata, bagiku mereka adalah anak-anak yang sama di mataku. Walau Tata tak lahir di rahim ku, tetapi dia sudah ku anggap anakku sendiri. Terlebih dia sudah kehilangan sosok seorang ibu sejak kecil.


"Mama lapar," renggek Nara.


"Ya sudah ayo kita makan. Daddy sudah pesan kan makan untuk kita," ajak Mas Dante sambil berdiri menggendong Naro.


"Yei, Daddy baik hati!" seru Nara tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Tentu. Selain baik hati Daddy juga tampan dan jangan lupakan itu, Girl," ujar Mas Dante mencolek dagu Nara dengan jahil.


Bersambung...


__ADS_2