Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Curhat


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


"Mir, aku duluan ya," pamitku.


"Sama-sama saja Ra, biar aku antar kamu pulang," tawar Mira.


Aku mengangguk. Tidak salah nya aku menerima tawaran Mira untuk pulang bersama.


Dibalik wajah ceria Mira ternyata dia menyimpan kepedihan hatinya. Percaya lah tidak ada orang yang baik-baik saja ketika hati nya sedang terluka. Begitulah yang dirasakan oleh aku dan Mira. Kami dua wanita yang sama-sama ditinggalkan hanya karena orang ketiga. Bahkan rasa sakit itu kini masih membekas dihati. Sulit rasanya terobati. Meski mungkin akan ada orang baru nanti.


"Ra," panggil Mas Galvin.


Aku dan Mira menoleh. Tampak Mira terkejut ketika melihat Mas Galvin memanggil namaku. Memang tidak ada yang tahu jika Mas Galvin adalah mantan suamiku, selain Pak Dante. Itu pun karena dia melihat pertengkaran kami kemarin. Aku selalu tidak suka menceritakan masalah pribadi ku ada orang lain.


"Ada apa?" tanya ku dingin.


Tamparan tangan Mas Galvin masih membekas dihatiku, meski yang ditampar adalah wajah ku. Setiap kali mengingat perlakukan kasarnya tersebut, seperti menguak luka lama yang ingin segera kesembuhkan. Jika aku bisa bereinkarnasi seperti novel fantasi super system, aku ingin sekali membalaskan semua rasa sakit ku padanya.


"Mas ingin berbicara sesuatu sama kamu," ucap Mas Galvin, wajahnya biasa saja tanpa merasa bersalah.


"Maaf aku tidak ada waktu," jawabku dingin. Tak ada lagi panggilan Mas yang dulu aku sematkan di nama pertamanya, sebagai panggilan manis dan sayangku.


Sekarang semua rasa itu perlahan hilang. Kerinduan dan cinta yang dulu nya menggebu didalam dada. Kini tertinggal bersama segala rasa sakit yang Mas Galvin tanamkan padaku.


"Tapi_"

__ADS_1


"Ayo Mir," ajak ku menarik tangan Mira yang masih mematung karena penasaran melihat aku berbicara dengan Mas Galvin.


Mas Galvin seorang manager muda di perusahaan ini. Tentu dia menjadi salah satu orang yang perannya sangat penting dan di hormati oleh seluruh karyawan yang bekerja disini.


"Ra, kamu kenal Pak Galvin?" tanya Mira masih penasaran.


"Nanti aku ceritakan, Mir," jawabku.


Sebenarnya aku tak ingin membahas apapun tentang Mas Galvin. Tetapi Mira seperti nya benar-benar ingin tahu. Tidak ada salah nya aku bercerita pada Mira, meski hal tersebut tidak akan membuat semuanya berubah.


Aku dan Mira masuk kedalam mobil. Aku tidak tahu apakah Mira ini orang kaya atau orang biasa. Jika dilihat dari mobil nya tentu dia bukan orang sembarangan seperti ku.


"Kita singgah di kopi Aming ya," ajak Mira.


Aku hanya mengangguk. Lalu kembali melamun dan menatap kosong ke depan. Pipi ku mulai panas menahan lelehan bening yang seolah ingin lolos disana. Sidang masih satu Minggu lagi, tetapi kenapa rasanya seperti setahun saja. Terlalu lama menunggu hari tersebut. Aku ingin segera memberi pelajaran pada Mas Galvin, agar dia merasakan semua rasa sakit yang aku derita selama ini.


Sampai di Caffe Aming, aku dan Mira keluar dari mobil. Caffe Aming adalah cafe terbesar di Pontianak. Cafe ini memiliki beberapa cabang. Tempat ini juga ramai dan jarang sekali kosong malah hampir tidak pernah. Biasanya pagi-pagi saja sudah ada pengunjung nya.


"Ramai amat," protes Mira. "Tidak ada bangku kosong, Ra," sambungnya.


Sore menjelang malam begini memang banyak sekali para pengunjung yang berdatangan. Apalagi malam Minggu seperti ini. Kata anak muda malam paling cocok untuk menghabiskan waktu dengan pasangan.


"Mari Mbak, disana masih kosong," ucap salah satu barista pada kami berdua.


"Terima kasih Mas," ucap Mira.


Lalu kami duduk dibangku paling pojok yang kosong.


Mira memesan minuman dan cemilan untuk kami berdua. Seperti nya Mira ini memang orang yang menyenangkan.

__ADS_1


"Ra, kamu belum jawab pertanyaan ku," ucap Mira. "Kamu kenal Pak Galvin dari mana? Kenapa kalian terlihat akrab?" cecar Mira. Mira ini sama seperti Henny yang kalau bertanya tidak cukup dengan satu pertanyaan. Tetapi orang-orang seperti mereka memang selalu blak-blakan.


"Dia mantan suamiku Mir," jawabku jujur.


"What's?" pekik Mira terkejut sehingga air liur nya muncrat ke wajah ku.


"Astaga, Mira," gerutu ku mengambil tissue diatas meja meja dan menyeka air liur yang menempel diwajah ku.


"Hehe, sorry. Sorry, Ra," ucap Mira cenggesan. "Kamu serius kalau Pak Galvin itu mantan suami kamu?" tanya Mira sekali lagi, wajahnya setengah tak percaya.


"Iya," jawab ku.


Pesanan kami datang. Para pengunjung cafe semakin ramai memenuhi tempat-tempat kosong. Kebanyakan anak-anak muda yang beralasan mengerjakan tugas kuliah padahal main game atau sekedar mengobrol bersama teman-teman nya.


"Ra, sumpah aku tidak tahu kalau Pak Galvin itu mantan suami kamu. Berarti Pak Galvin sekarang sudah menikah lagi, seperti yang kamu katakan tadi?" celoteh Mira. Aku sampai menggeleng salut mendengar ucapan Mira yang tidak ada titik dan koma nya. Entah berapa kosa kata yang ada di kepala Mira, sehingga dia tidak berhenti berceloteh dari tadi.


"Iya seperti yang aku ceritakan tadi, Mir," jawabku tersenyum kecut. Betapa sakit nya hati ini saat mengingat perbuatan Mas Galvin yang telah membuatku seperti kehilangan arah dan tujuan hidup.


"Bahkan Mas Galvin melupakan anak-anak nya, Mir," ucapku lirih. Sial, kenapa pipi ku panas lagi?


"Berceritalah, Ra. Mungkin dengan mengatakannya padaku, semua sakit dalam dada kamu bisa seisi rumah lega," ucap Mira mengelus lengan ku yang terletak diatas meja.


Setidaknya setelah tak ada Henny, ada Mira yang menjadi teman curhatku. Apalagi Mira juga pernah merasakan hal seperti yang aku rasakan saat ini.


"Kedua anak ku mengalami kecelakaan. Dan yang menabrak mereka adalah ibu dan istrinya Mas Galvin. Mas Galvin tahu, Mir. Tetap dia membiarkan saja ibu dan istrinya berbuat demikian. Aku tidak tahu apa salah ku pada mereka, kenapa mereka jahat? Kedua anak ku masih kecil, mereka bahkan tidak tahu apa-apa. Tetapi kenapa harus mereka yang disakiti, kenapa tidak aku saja?" ucapku sambil menangis segugukan.


Kali ini aku tak mau lagi menahan segala sakit didalam dadaku. Tak peduli jika ada orang yang melihatku menangis karena hal ini. Semua orang takkan paham sebelum merasakan hal yang aku rasakan.


Mira tampak terkejut mendengar cerita ku dan mungkin saja tidak percaya. Siapa yang akan percaya? Bahkan aku sendiri saja tidak percaya, bahwa ada seorang suami dan ayah yang tega diam saja setelah tahu istri dan anaknya di sakiti.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2