
Aku mengeliat di balik selimut tebal ku. Pantulan cahaya matahari masuk melalui gorden jendela kamar dan memancar ke arah wajahku. Aku duduk sambil menguap beberapa kali sambil mengumpulkan nyawaku.
Kuraih jam weker yang berada di atas nakas.
"Sudah jam 7," desahku.
Aku turun dari ranjang. Hati ini masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai masalah pembangunan cafe baru bersama Kak Rimba.
Aku berendam di dalam buth-ub. Mataku masih membengkak karena menangis semalaman. Bahkan dalam keadaan tidur saja air mataku masih sempat menetes.
"Ayolah, Ra. Kamu pasti bisa," ucapku menyemangati diri sendiri.
Cukup lama aku menguyur tubuhku di bawah shower. Kupikir melupakan Mas Bintang semudah yang aku katakan dan bayangkan. Ternyata aku keliru, melupakan suamiku tak segampang itu. Belum juga kami sah berpisah aku sudah merasakan rindu yang teramat menyengat dalam dada.
Berat memang melalui semua hal yang baru dengan mengesampingkan masa lalu. Namun, jika aku benar percaya pada apa yang aku cintai hari ini, tak akan ada masalah dengan semua itu. Karena memang, terkadang hal-hal yang mungkin mendatangkan ingatan harus dibuang dengan dihabiskan paksa. Untuk apa mempertahankan sesuatu yang bisa mendatangkan luka. Jika benar yakin yang di punya hati ini adalah cinta sebenarnya. Satu hal yang di pahami; bahwa aku mungkin tak bisa membawa kenangan kepada hal-hal yang pernah aku punya di masa lalu. Namun, aku pasti bisa membawa kisah yang belum pernah Mas Bintang punya sebelumnya.
Aku keluar dari kamar dengan pakaian lengkap. Aku tersenyum hangat ketika melihat anggota keluarga yang berkumpul dan sarapan di atas meja.
"Pagi, Kak," sapa Naro, Tata dan Shaka bersamaan.
"Pagi, Nak," sapa Daddy dan Mama secara bersamaan.
"Pagi juga," balasku duduk di samping Naro.
"Ayo, Sayang. Sarapan." Mama meletakan beberapa lembar roti di dalam piringku.
"Terima kasih, Ma," ucapku sambil tersenyum simpul.
Andai bisa, aku ingin lupa dan menganggap Mas Bintang tak pernah ada. Namun, hari-hari yang berlalu terlanjur kekal dnshan kenangan-kenangan tentangmu. Langkah-langkah yang pernah berjalan, membekaskannya di ingatan. Pulang-pulang yang pernah aku punya, kini membenamkannya di kepala. Lalu jalan mana yang akan ku tempuh? Pelukan mana yang bisa menenangkan. Jika semua pandangan masih saja menghadirkannya sebagai bayangan. Meski setiap kali mencoba memeluknya lagi, yang kudapatkan hanya kehilangan dan pedih di hati.
Dia tak pernah tahu bagaimana sesak yang ku tanggung karena ulahnya. Setiap malam dan pagi buta, aku harus menangkan segala resah jiwa.
"Kak, berangkat sama Naro ya. Kakak jangan bawa mobil dulu," ucap Naro.
"Kamu tidak buru-buru?"
Naro menggeleng, "Tidak, Kak. Naro meeting setelah jam makan siang sama Kak Rimba," jelas Naro.
"Lho, kenal Kak Rimba?" tanyaku heran.
"Kakak ini bagaimana sih? Kak Rimba kan tetangga kita, Kak!" sambung Tata ikut menimpali.
"Oh begitu."
__ADS_1
Beberapa hari ini aku memang tidak bertemu Kak Rimba. Selain dia yang sibuk mengurus pekerjaannya di luar kota, aku juga sibuk menyiapkan sidang perceraianku dengan Mas Bintang. Hari ini aku akan bertemu Kak Rimba karena pembahasan pembangunan hotel belum selesai.
Setelah sarapan aku dan Naro berangkat bersama. Aku memang belum bisa membawa mobil sendiri, sebab pikiranku yang belum bisa konsentrasi.
"Sudah. Jangan terlalu di pikirkan, Kak. Nanti Kakak bisa sakit," tegur Naro sembari menasehati ku.
Aku mengangguk dan hanya tersenyum saja. Mustahil jika ku tak memikirkan sidang perceraianku dan bahkan sejak semalam aku tak bisa tidur nyenyak karena terus terngiang pada sidangku nanti.
Sampai di depan cafeku mobil Naro berhenti.
"Langsung mau ketemu Kak Rimba di sini?"
"Tidak, Kak. Siang saja. Sekalian Naro makan siang di sini," sahut Naro.
"Ya sudah, Kakak masuk dulu. Terima kasih."
Aku turun dari mobil. Kuhela nafas sepanjang mungkin sembari menatap cafe yang sudah ramai di pagi hari. Aku masih tak menyangka jika perkembangan cafe ini cukup pesat. Dalam waktu beberapa tahun saja sudah memiliki banyak pengunjung.
Aku berjalan masuk ke dalam. Tiga hari aku tidak mengunjungi cafe karena fokus pada masalahku.
"Selamat pagi, Bu," sapa Lidya dan Dika.
"Pagi juga," balasku.
"Baik, terima kasih," jawabku.
Aku berjalan masuk ke dalam ruangan. Beberapa hari tak bertemu dengan Kak Rimba membuat rindu seolah menumpuk. Walau aku sudah menolak perasaan Kak Rimba secara terang-terangan tetapi dia masih memperjuangkan aku dan meyakinkan aku bahwa dia adalah cinta terbaik dalam cerita dan versinya.
"Kakak."
"Nara."
Kak Rimba berdiri menyambutku dengan senyuman manisnya.
"Kakak kapan datang?" tanyaku.
"Kemarin," jawabnya tersenyum.
Aku duduk di sampingnya. Lelaki ini yang selalu menemani aku dalam suka dan duka.
"Kakak punya sesuatu buat kamu," ucapnya.
"Wah apa, Kak?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Ini."
Dia memberikan paper bag padaku.
"Apa ini, Kak?"
"Buka saja!" suruh Kak Rimba.
Aku membuka paper bag tersebut. Lalu aku tersenyum melihat beberapa bingkai foto yang di dalamnya terdapat foto kecil kami berdua.
"Kakak dapat ini dari mana?" tanyaku dengan mata berkaca-kaca. Masa kecilku, masa-masa di mana aku belum mengenal yang namanya masalah. Walau kala itu kehilangan Papa dan Mama menikah lagi tetapi tak membuat aku meratap dalam kesedihan.
"Heh, kenapa menangis?" Kak Rimba menyeka air mataku.
"Aku terharu, Kak," jawabku.
"Iya, sudah. Fotonya kamu simpan ya," ucap Kak Rimba.
Aku kembali menatap figura tersebut. Ada Naro, Tata dan Shaka juga di sana. Sejak kecil kami memang sudah dekat dengan Kak Rimba. Bahkan sangat dekat dari orang lain tahu.
"Bagaimana hubungan kamu dan Bintang?" tanya Kak Rimba.
Aku menghela nafas panjang lalu kembali memasukan foto tersebut ke dalam paper bag.
"Aku dan Mas Bintang akan bercerai, Kak," jawabku tersenyum kecut.
Kak Rimba mengusap bahuku seolah menyalurkan kekuatan lewat usapan tangannya.
"Kamu pasti bisa melewati ini."
Satu hal yang aku salut kan dari lelaki ini. Dia sudah tahu jika aku belum bisa mencintainya tetapi dia tidak pernah meninggalkan aku atau memaksaku mencintainya.
"Sakit banget, Kak," adu ku.
"Kakak paham."
Dia menarik aku ke dalam pelukannya dan membenamkan wajahku di dadanya. Melupakan bukan perkara yang mudah apalagi orang yang ingin di lepaskan berada di depan mata.
"Kenapa sulit sekali melepaskan Mas Bintang, Kak? Kenapa sulit sekali?" renggekku seraya mengeluh, memang sangat sulit melupakan cinta yang pernah ada.
"Semua hanya masalah waktu, Nara. Kamu pasti bisa. Nikmati semua proses itu dan Kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu. Kakak akan menemani kamu melewati semua ini. Kamu tidak pernah sendirian karena Kakak mencintai kamu."
Bersambung...
__ADS_1