Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Merindu


__ADS_3

Tubuh Mentari seketika membeku ketika melihat lelaki yang dia rindukan itu berdiri di depannya dengan tatapan kosong. Wajahnya tampak sendu dan penampilan lelaki itu tak seperti biasanya. Pria ini selalu rapi dan terlihat tampan tetapi kenapa hari ini hancur sekali. Bahan pria itu tak memakai pakaian dinas, apa dia tidak masuk bekerja?


"Mas Divta," panggil Mentari dengan mata berkaca-kaca.


Gevan menatap Divta dingin dan tajam. Dia mendengar percakapan kedua orang tua nya semalam yang membahas tentang Divta. Jujur dia tidak terima ketika tante-nya di hina seperti itu.


"Tari," lirih Divta dengan mata berkaca-kaca.


Dia menatap lama wanita yang berdiri sambil memapah seorang pria tersebut. Dia benar-benar rindu akan sosok gadis ini. Beberapa hari setelah berpisah dia seperti patung hidup yang terus meratapi kepergian Mentari. Baru kali ini dia merasakan patah hati hebat. Padahal bukan pertama kalinya dia merasakan sakitnya putus cinta, sudah sering dan harusnya sudah kebal. Namun, kenapa rasanya kali dia merasakan sakit yang tak bisa dia jelaskan dengan kata.


"Van, kamu duduk sebentar," suruh Mentari.


"Aku bisa jalan sendiri," jawab Gevan.


Mentari mengangguk dan melepaskan tangan Gevan di lehernya. Gadis itu melirik kearah Divta dan mendekati lelaki tersebut. Sejujurnya dia pun merindukan sosok ini, sangat rindu malah. Jika waktu bisa di ulang kembali. Ingin rasanya dia mengatakan bahwa selama mereka berpisah, dirinya juga hancur.


"Mas, apa yang terjadi? Kenapa Mas bisa seperti ini?" cecar Mentari.


Divta tak menjawab. Air mata yang luruh menandakan bahwa dirinya saat ini benar-benar patah hati.


Glep!


Lelaki itu langsung memeluk gadis di depannya seraya menangis dengan badan bergetar hebat. Tak hanya dirinya yang patah hati tetapi juga kedua anaknya yang terus mencari keberadaan Mentari. Bahkan Al dan El setiap malam menangis sambil memanggil nama wanita itu.


"Mas." Mentari mengusap punggung lelaki itu.


"Jangan pergi lagi, jangan tinggalkan, Mas. Mas tidak bisa tanpa kamu, Tari," ucap Divta tanpa peduli jika beberapa orang melihat kearah mereka.


Sementara Gevan diam saja dan menatap Divta tak suka.


"Mas." Mentari melepaskan pelukan Divta. "Mas harus bahagia. Jangan seperti ini terus, Mas." Tangannya terulur mengusap pipi basah Divta.


Divta mengenggam kedua tangan Mentari. Dia tidak akan bisa bahagia tanpa Mentari. Gadis ini adalah kebahagiaannya dan bahkan setelah Mentari pergi dia tidak tahu bagaimana caranya untuk bahagia.


"Tolong jangan pergi, Mas mohon," ucap Divta memohon dengan tatapan penuh harapan agar gadis ini tidak pergi meninggalkannya lagi. "Mas tidak bisa hidup tanpa kamu," ungkap Divta.


Beberapa hari ini dia terus memantau keberadaan Mentari dan bahkan pagi-pagi dia sudah menunggu gadis itu di dekat gerbang kampus tetapi selalu saja waktunya tidak tepat bertemu Mentari dan tadi dia tidak sengaja melihat gadis tersebut tanpa peduli dengan pria yang bersama Mentari.


"Mas pasti bisa. Aku minta maaf, Mas. Bukan aku tak bisa berjuang denganmu. Tetapi kita berbeda. Aku tidak mau, Mas kehilangan segalanya hanya karena aku. Mas pasti bisa bahagia bersama Al dan El, mereka butuh Mas. Jadi jangan seperti ini ya?" ucap Mentari.


Divta kembali memeluk gadis tersebut. Sampai kapanpun dia tidak akan bisa tanpa Mentari. Bolehkah Divta melawan takdir yang kini belum berpihak padanya? Dia benar-benar tidak sanggup berpisah dari gadis ini.

__ADS_1


.


.


"Masih memikirkan Kapten Divta?" tebak Gevan.


Mentari tak menjawab gadis itu menyeka air matanya dengan kasar. Memang kalau yang namanya berbicara dengan hati tidak ada yang sepele selalu saja meninggalkan luka paling dalam dan mengakibatkan rasa sakit yang mendalam.


"Dia cinta pertama, Tante," jawab Mentari memecahkan keheningan.


Kini Gevan yang terdiam hingga mobil itu memasuki pekarangan rumahnya. Mentari turun duluan dan membantu keponakannya keluar dari mobil. Untung Gevan masih mampu menyetir.


"Pelan-pelan," ucap Mentari.


"Astaga, Gevan," sambut Susanti saat melihat anak dan cucunya berjalan masuk dengan Gevan yang di papah oleh Mentari.


"Bu." Mentari tersenyum. "Kakak sudah pulang?" tanyanya.


"Belum tapi sepertinya sebentar lagi, sama-sama dengan kedua Mas-mu," jawab Susanti.


"Langsung ke kamar saja," pinta Gevan, dia ingin istirahat memulihkan tubuh dan hatinya.


"Iya, Nak," sahut Susanti.


Mentari membawa Gevan masuk ke dalam kamarnya. Keponakan nya itu sangat berat karena tubuhnya besar dan juga kekar.


"Sakit?" Mentari meringgis melihat wajah keponakannya yang masih babak belur padahal sudah di obati.


"Ada yang lebih sakit," sahut Gevan.


"Bagian mana, Van? Biar Tante yang obati," ucap Mentari panik.


"Tante bukan dokter," cetus Gevan setengah bergeser.


"Ck, jangan remehkan kemampuan Tante. Walau bukan dokter tapi Tante bisa mengobati orang sakit!" seru Mentari.


"Belajar dari mana? Dari Rein?" sindir Gevan tampak tak suka.


Mentari terkekeh pelan. Entah kenapa keponakannya itu tidak menyukai Rein?


Susanti masuk ke dalam kamar cucu-nya tersebut. Dia panik melihat wajah Gevan yang babak belur.

__ADS_1


"Ini, Nak." Susanti menyerahkan segelas teh hangat pada Mentari.


"Terima kasih, Bu," sambut Mentari dengan senyuman. "Ibu tidak boleh lelah, sebaiknya Ibu istirahat saja," ucap Mentari. Gevan tersimpul mendengar ucapan tante-nya itu.


"Ibu tidak apa-apa, Nak," jawab Susanti.


"Van, ayo minum dulu." Mentari membantu lelaki itu duduk. "Masih mampu duduk 'kan?" goda Mentari.


"Ck, memangnya Tante pikir aku selemah itu?" Gevan memincingkan matanya kesal.


Mentari tergelak menutupi luka yang tergores di dadanya. Mencoba melupakan pertemuannya dengan Divta tadi. Dia harus belajar ikhlas menjalani hidup yang sebenarnya tak dia inginkan sama sekali.


"Kamu lapar tidak, biar Tante ambilkan makan?" tawar Mentari.


"Tidak. Aku masih kenyang," tolak Gevan.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Nak? Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Susanti mengelus lengan Gevan.


"Biasalah, Nek. Namanya juga anak laki-laki," sahut Gevan terkekeh pelan. Tak mungkin dia menjelaskan bahwa dirinya berkelahi karena tante-nya tersebut.


"Namanya juga jagoan, Bu. Memang hobby-nya berkelahi. Dia mau mengalahkan Chris Jhon," sindir Mentari.


"Dih, ini juga karena Tante," sanggah Gevan memutar bola matanya malas.


"Lagian siapa suruh kamu suka sama Tante_"


"Apa?" pekik Susanti. Dia menatap kedua orang yang seusia tersebut.


Mentari tertawa pelan melihat wajah terkejut ibu-nya.


"Dia hanya bercanda, Bu. Supaya lepas dari hukuman dekan," jelas Mentari yang takut ibu-nya salah paham.


Susanti mengangguk dan beroh-ria. Tetapi rasanya agak janggal melihat kedua orang ini dekat. Apalagi mereka sudah sama-sama dewasa.


"Iya sudah, kalau begitu biarkan saja Gevan istirahat. Tari ayo, Nak. Ibu ingin bicara sesuatu sama kamu," ajak Susanti.


"Iya, Bu." Mentari berdiri dari duduknya.


"Kamu istirahat, nanti biar Mama yang obati luka kamu," ucap Mentari.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2