Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Radar cinta.


__ADS_3

"Ra," panggil Kak Rimba.


"Ada apa, Kak?" tanyaku dingin. Entahlah, ketika mengetahui kedekatan Kak Rimba dan Putri, aku sedikit dingin pada lelaki ini. Sebab aku tak mau setelah hatiku di miliki lalu dia seenaknya pergi.


Kak Rimba memegang kedua tanganku lalu tersenyum hangat. Senyum lelaki ini seakan aku adalah pelabuhan cintanya.


"Kakak mau kamu menjadi orang yang paling spesial di dalam hidup Kakak," pintanya. Menjadi orang spesial tidak hanya melalui ucapan saja tetapi juga tindakan dan pembuktian.


Satu hal yang membuat aku tetap menanti seseorang adalah harapan. Perasaan yang tak pernah lelah meski seringkali dihajar kalah. Berkali-kali didera luka dan kecewa. Namun, memilih untuk tetap ada. Bahkan saat dibunuh dengan sangat kejam, perasaan itu masih saja bertahan. Sakit, bukanlah hal yang harus dijelaskan. Hanya saja, ada yang lebih kuat yang tak mampu dijabarkan. Sesuatu yang tak tampak, tetapi membuat bertahan meski terancam dicampakkan. Membuat tak ingin berhenti Meksi sesak memenuhi ruang hati. Orang-orang barangkali menyebutnya cinta buta. Namun, aku percaya itulah yang di sebut cinta.


"Apa yang membuat Kakak cinta sama aku?" tanyaku.


Kak Rimba tersenyum lalu mengusap wajah lembutku.


"Bukankah kamu tahu, sejak kecil Kakak sudah suka sama kamu," jelas Kak Rimba.


Bukan itu yang ku maksud, tetapi perempuan itu, Putri. Kata Kak Rimba, Putri adalah mantan kekasihnya yang di hamili oleh orang lain. Tetapi setelah melahirkan suami dari putri malah berkhianat dan selingkuh dengan atasannya. Kak Rimba menolong Putri karena bayinya sedang sakit.


Aku menghela nafas panjang. Entahlah, aku masih takut membuka hati untuk pria lain. Tetapi aku tak bisa terus hidup dalam meratap karena perpisahan dengan Kak Rimba.


"Ra, mungkin Kakak bukan pria yang romantis dan sempurna dalam hubungan percintaan. Tetapi Kakak sungguh mencintai kamu. Kakak berjanji akan menghapus luka di hati kamu," ucapnya berusaha meyakinkan aku bahwa yang dia ucapkan adalah kebenaran.


Apa ada yang percaya tak ada cinta yang buta. Yang ada hanyalah perasaan dengan kasar keyakinan. Dan, terlalu meyakini bahwa perasaan yang ada di dada tak bisa dibunuh mati. Berkali-kali aku mencoba berlari, lalu tersadar aku tak pernah benar-benar bisa pergi. Sebab yang aku bawa hanyalah tubuh dan pikiranku saja. Perasaan dan hatiku menetap pada seseorang yang selalu kurindu yaitu, Mas Bintang.


Aku pernah mencoba memaksakan untuk membunuh hati dengan membuka hati pada orang baru. Namun, hasipnya percuma saja. Aku lupa bahwa semakin aku melupakan seseorang dengan mulai mencintai orang baru, aku sedang memaksakan sesuatu yang lebih keras dari batu. Ingatan dan perasaan bukalah sesuatu yang bisa ku bunuh dengan cara dipaksakan.


"Kak, maukah kamu mengajari aku bagaimana mencintaimu? Karena jujur saja saat ini aku masih terjebak dengan perasaanku di masa lalu. Aku masih terlalu takut, Kak. Aku sakit untuk kedua kalinya."


Aku adalah wanita trauma karena perlakuan suamiku di masa lalu. Dia memang tidak menyakiti aku secara fisik tetapi dia menyiksaku dengan batin. Hal itu membuatku takut dan hati-hati dalam menerima ungkapan cinta dari orang-orang yang berusaha mendekati. Aku memasang tembok pemisah di antara kami, bukan apa? Rasa sakit itu kian menjelma menjadi sosok yang menyiksa dada.

__ADS_1


"Kakak berjanji, Ra. Kakak akan memperjuangkan kamu. Kakak buat kamu jatuh cinta sama Kakak," sahut Kak Rimba berusaha meyakinkan aku pada ungkapan cintanya.


Aku berharap apa yang Kak Rimba katakan ini bukan hanya janji tetapi berusaha meyakinkanku dan memberikan sebuah pembuktian bahwa apa yang dia katakan akan dia tepati nantinya.


"Apa Kakak berjanji untuk tidak melukaiku?" Aku menatap netra mata teduhnya. Kuakui jika Kak Rimba memang tampan dan tak jauh beda dengan mantan suamiku.


"Kakak berjanji, Ra."


Dia menarik aku ke dalam pelukannya dan membenamkan wajahku di dada bidangnya. Semoga ini adalah jalan aku menuju kebahagiaan. Semoga tak ada lagi drama rumah tangga yang mencoba membunuhku perlahan. Walau saat ini aku belum mencintai lelaki yang memelukku ini tetapi aku akan berusaha membuka hati untuknya.


"Kamu adalah perempuan yang paling Kakak cintai setelah Mommy," ucapnya terdengar tulus. Semoga benar-benar tulus.


Percayalah wanita yang pernah mengalami luka dan trauma di masa lalu, akan sulit percaya dan membuka hati untuk orang baru, seperti aku.


Harusnya aku mencoba paham satu hal; rindu bisa membunuhku hanya dengan ingatan. Anehnya kenapa saat memeluk Kak Rimba aku malah membayangkan wajah suamiku, aku rindu mantan suamiku, yaitu Mas Bintang. Tetapi aku tak bisa terus terjebak dalam masa lalu.


"Kakak akan menjadi teman ternyaman untuk kamu pulang," ungkapnya.


Kak Rimba melepaskan pelukanku. Lalu lelaki itu tersenyum hangat dengan rona wajah bahagianya.


"Kakak baru sadar kalau kamu ini pendek," ledeknya mengacak rambutku dengan gemas.


"Kakak." Aku merenggut kesal. Rambut yang kurapikan dengan susah payah malah di rusak oleh lelaki ini.


"Hehehe, habisnya kamu ini menggemaskan sekali." Kak Rimba menarik pipiku lagi.


"Kakak."


"Ay_"

__ADS_1


Drt drt drt


Ucapannya terputus saat mendengar dering telepon yang berbunyi.


"Sebentar Kakak angkat telepon dulu," ucapnya meminta izin.


Aku mengangguk dan mengarahkan pandanganku pada bunga-bunga di taman kota ini. Tak ku sangka ternyata Kak Rimba romantis juga.


"Ra." Dia menyimpan teleponnya.


"Iya, Kak. Kenapa?"


"Maaf, sepertinya kita tidak bisa lama di sini. Soalnya Shena sedang sakit." Shena adalah bayi Putri yang baru berusia enam bulan.


"Oh, jadi Kakak mau ke rumah sakit?"


"Iya, Kakak. Mau ke sana. Kamu mau pulang atau ikut ke rumah sakit?"


"Aku mau ke cafe saja, Kak. Masih banyak pekerjaan," sahutku.


"Tapi sepertinya Kakak tidak bisa antar kamu pulang karena buru-buru." Dia melirik arloji di tangannya.


"Oh tidak apa-apa, Kak. Nanti aku minta Shaka jemput," sahutku tersenyum kecut.


"Iya sudah, kalau begitu Kakak duluan ya. Nanti Kakak hubungi lagi." Dia mengecup keningku sekilas lalu berlari kearah mobilnya dengan cepat, terlihat sekali jika Kak Rimba panik.


"Hati-hati, Kak." Aku melambaikan tanganku.


Sekarang, coba bertanya ada diriku sendiri. Apakah bagiku aku dan Mas Bintang adalah sesuatu yang harus dibunuh? Baru saja aku mencoba membuka hati dan menerima orang lain dengan utuh. Tetapi dia sudah meninggalkanku di sini dan mementingkan perasaan orang lain.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2