Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Tega


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇.


Aku bingung ketika Pak Dante mencegah ku keluar dan malah meminta ku tetap berada diruangan. Lalu apa fungsi ku disini? Apa hanya untuk melihat wanita ini merayu Pak Dante.


"Sofia, keluar!" usir Pak Dante


"Sayang, tapi_"


"Apa perlu saya panggil satpam buat seret kamu dari sini?" ancam Pak Dante menatap wanita itu tajam.


Aku diam saja. Sebenarnya aku tidak betah berada disini dan lagi untuk apa Pak Dante menahan ku disini. Pekerjaan ku masih banyak bukan untuk menonton kedua orang ini.


"Ihhhhh," rutuk wanita itu.


Wanita bernama Sofia tersebut keluar dari ruangan Pak Dante. Sebelum nya dia melirik ku dan menatapku sinis. Tetapi aku tak peduli. Aku tidak mengenalnya, jadi aku tak memiliki urusan dengannya.


"Pak, saya sudah boleh keluar 'kan?" tanya ku melirik Pak Dante.


"Ra," panggil nya.


"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya ku.


"Terima kasih ya, kopi nya," ucap Pak Dante.


"Sama-sama Pak. Kalau begitu saya permisi," ucapku berpamitan.


Aku keluar dari ruangan Pak Dante seraya menghela nafas panjang. Pikiran ku tak karuan, masih memikirkan masalah anak-anak ku. Aku benar-benar tak habis pikir, kenapa ada ayah yang tega diam saja saat anaknya di celakai orang lain?


Air mata ku jatuh lagi. Sekuat apapun aku menahan sakit itu, tetap saja rasanya benar-benar menyiksa. Aku tak bisa menyembunyikan perih yang berada dihatiku. Rasanya sakit sekali. Aku bisa rasakan hatiku rontok dan hancur berkeping-keping.


Aku meletakkan nampan di pantry, sambil menghela nafas panjang. Ku seka air mataku dengan kasar sambil mencoba menguatkan diri dengan segala kenyataan.


"Oh ini Kasie Keuangan yang dekat dengan Pak Dante itu?" ucap seorang wanita mendekatiku. Dia melipat kedua tangannya didada dan menatapku dengan sinis.


"Heh, kamu dengar ya. Jangan pernah berharap kamu dekat sama Pak Dante karena dia hanya milik aku," ucapnya penuh percaya diri.

__ADS_1


Aku tak menanggapi orang stress ini, aku melenggang keluar dari pantry dan berjalan menuju ruanganku. Langkah ku terhenti menatap Mas Galvin yang baru saja keluar dari lift.


Tanganku mengepal kuat dan rahangku mengeras. Dia adalah mantan suami paling jahat yang pernah aku lihat di muka bumi ini. Aku berjalan menghampiri Mas Galvin.


"Ara," ucap nya heran melihat ku.


Plak


Satu tamparan aku daratkan dipipinya. Aku tak peduli jika banyak orang yang akan melihat kami bertengkar. Tidak ada yang tahu tentang hubungan ku Mas Galvin.


"Kamu keterlaluan, Mas. Kamu benar-benar jahat!" hardik ku memukul dada Mas Galvin.


"Ara apa maksud kamu?" Mas Galvin menahan tangan ku yang memukul dadanya.


"Jangan pura-pura tidak tahu, Mas. Bersiap-siap lah kamu menerima hukuman yang setimpal," ucap ku. Aku tak peduli pada siapapun lagi, aku takkan biarkan Mas Galvin, mantan ibu mertua dan Lusia hidup tenang.


"Apa maksud kamu?" tanya Mas Galvin masih berpura-pura tak mengerti.


"Mas, aku tidak menyangka kamu sejahat dan setega ini sama aku dan anak-anak. Kamu tahu kalau Ibu dan Lusia lah yang menyuruh orang menabrak Nara dan Naro, tapi kamu diam saja. Kamu tidak bertindak. Kamu Ayah yang jahat Mas," sentakku. Entah kebetulan atau bagaimana, tiba-tiba saja suasana kantor didekat ruangan direktur sepi.


"Ra."


"Ra, tunggu." Mas Galvin mencengkram lengan ku.


"Lepaskan," sentakku. "Jangan pernah sentuh aku. Jangan pernah memohon sama aku untuk tidak menindaklanjuti perbuatan kalian," ucap ku penuh kebencian.


"Ara, Mas mohon. Jangan Ara, Mas terpaksa. Mas tidak mau kehilangan Ibu dan Lusia," ucap Mas Galvin memohon.


"Maaf Mas, aku bukan malaikat. Sampai bertemu dipengadilan." Aku berbalik membelakangi Mas Galvin sambil menyeka air mataku kasar.


Aku terkejut ketika melihat Pak Dante berdiri didepan ruanga nya menyaksikan pertengkaran kami. Aku menyeka air mataku kasar, jangan sampai Pak Dante tahu jika Mas Galvin adalah mantan suamiku. Aku tidak sudi memiliki mantan suami yang tak memiliki perasaan apapun.


"Ara," panggil Pak Dante.


Sementara Mas Galvin secepatnya memperbaiki ekspresi wajahnya.


"Iya Pak?" sahutku. Jujur saja aku ingin menangis sehebat mungkin.


"Masuk ke ruangan saya. Ada penting sebentar!" titah Pak Dante masuk duluan.

__ADS_1


Aku menyusul masuk dengan wajah menunduk. Mas Galvin masih berada dibelakang ku sambil menatapku sendu. Aku tidak akan pernah memaafkan Mas Galvin sampai kapanpun. Luka yang Mas Galvin tanamkan dihatiku, tidak akan bisa sembuh hanya karena permintaan maaf. Aku akan pastikan bahwa Mas Galvin dan kedua wanita itu akan merasakan pembalasan yang setimpal dengan perbuatan mereka.


"Ada apa Bapak memangil saya?" tanya ku menuwnduk.


"Ini," ucap nya malah menyerahkan satu tangan padaku.


Aku mengambil nya tanpa bertanya apapun. Pak Dante pasti sudah melihat pertengkaran kami tadi. Aku malu sekali rasanya.


"Ada apa?" tanya nya.


"Tidak ada apa-apa Pak," sahutku.


"Saya melihat dan mendengar semuanya. Saya memang tidak berhak ikut campur, tapi kamu bertengkar dikantor disaat jam kerja masih berlangsung artinya itu menjadi urusan saya untuk memberikan kamu teguran," ucap Pak Dante.


Aku menahan lelehan bening di pelupuk mataku. Apakah Pak Dante paham bagaimana rasa sakit nya di poligami dan bahkan dibuang seperti tak berharga? Tak hanya itu, bahkan mantan suamiku juga tega menyakiti anak-anak nya hanya demi melindungi istri kedua nya.


"Apa kamu akan terus diam?" singgung Pak Dante.


"Mas Galvin mantan suami saya, Pak," jawabku menyeka air mataku. Semoga Pak Dante tidak bertanya hal yang lebih privasi lagi.


"Lalu?" tanya Pak Dante.


"Pak bisa kah untuk tidak membahas masalah pribadi disini? Saya sedang tidak ingin membicarakan apapun tentang mantan suami saya," pintaku. Wajahku terlihat memohon, aku benar-benar tak ingin membahas ini. Jika bisa aku ingin pulang saja dan memeluk kedua anak ku.


"Apakah pertanyaan saya salah?" tanya Pak Dante menatapku dingin.


"Jelas, salah Pak. Ini masalah pribadi saya. Bukan masalah pekerjaan," sahutku sambil berdiri. "Saya permisi Pak," pamitku.


Aku tak peduli jika dibilang tidak sopan pada boss sendiri. Aku benar-benar tak ingin membahas semua ini. Terlalu sakit jika aku katakan hal yang tak seharusnya.


Aku berjalan menuju ruanganku. Semoga mataku tak terlihat sembab, Mira pasti akan mencecarku nanti.


"Ra, kenapa kamu lama sekali?" gerutu Mira.


"Maaf Mir, tadi ada sedikit masalah," jawabku asal sambil duduk di kursi ku.


Aku masih teringat tadi ketika membentak Pak Dante, kenapa sekarang aku merasa bersalah? Aku hanya tidak suka ada orang yang ikut campur urusan pribadi ku.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2