Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Tak bisa bersama.


__ADS_3

Aku menatap istriku yang duduk di sofa dengan tenang. Wajah ceria yang selalu menyambut dengan senyuman hangat dan manis kini terlihat dingin tak tersentuh. Bahkan tidak ada senyum sama sekali yang tercetak di wajah istriku.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama kalian?" tanya Ayah menatap aku dan Nara secara bergantian. Aku tidak tahu sejak kapan Nara datang ke rumah dan menyusul, mungkin dia khawatir karena aku tidak kunjung pulang.


"Ayah." Nara tersenyum kearah Ayah dan Bunda. "Maksud kedatangan Nara ke sini, ingin memberitahukan pada Ayah dan Bunda. Kalau pernikahan Nara dan Mas Bintang tidak bisa lagi di lanjutkan karena kami sudah memilih jalan masing-masing," ucap Nara panjang lebar.


Deg


Tak hanya Ayah dan Bunda yang syok tetapi aku juga. Aku bahkan menatap Nara beberapa kali dan tak percaya dengan apa yang dia katakan.


"Maksud kamu, Nara?" tanya Ayah yang belum paham pada apa yang di katakan oleh istriku.


Nara orang yang berbeda dari banyak hati yang kutemui. Selain tatapan matanya, lengannya, senyum dan seutuh tubuhnya. Aku selalu jatuh cinta pada caranya memandang dunia. Tetapi sepertinya terlambat cinta yang kurasa menggebu dalam dada. Akan berakhir dengan kata kami tak bisa bersama.


Ruang yang dia simpan di kepalanya, yang dia tenangkan dalam dadanya. Dia merawatnya sepenuh jiwa. Katanya, semua itu dia lakukan karena dia mencintai dunianya. Bagiku, impian-impian besar selalu mengangumkan. Dia tak peduli dipandang gila dan terlalu banyak khayalan. Dia percaya, hidup tanpa impian adalah takdir yang malang karena Tuhan telah membiarkan dia dilahirkan. Itulah kenapa sebabnya Nara suka berpikir di luar batas manusia pada umumnya. Tetapi ternyata semua ruangan kosong yang terisi kini akan kembali tanpa penghuni. Semua terlambat, semua tak lagi sama. Aku dan Nara akan benar-benar menjadi orang asing di rumah tangga kami.


"Nara dan Mas Bintang akan bercerai, Yah," jawab Nara tegas dengan wajah serius.


Hal tersebut seperti tamparan bagi Ayah dan Bunda. Mereka seperti tak percaya ketika mendengar penuturan dan penjelasan Nara. Mereka mengira jika selama ini pernikahan kami baik-baik saja. Mereka mengira jika kami saling mencinta. Mereka pikir kami dua orang yang saling mempertahankan begitu dalam.


"Kenapa?" tanya Bunda dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Bunda begitu menyayangi Nara. Bahkan aku menikahi wanita ini karena permintaan Ayah dan Bunda. Bunda sudah menganggap Nara sebagai anak kandungnya sendiri. Ayah mengusap lengan Bunda seperti memberi kekuatan padanya. Bunda juga orang yang pernah gagal di masa lalu bersama Om Reza, aku masih ingat sekali bagaimana dulu Bunda di perlakukan secara tak adil.


Akan tetapi, sekarang akulah yang mengulang cerita yang sama. Aku yang menciptakan luka dan duka di hati wanita yang baru kucinta. Sekarang, apa yang harus aku lakukan agar Nara tetap berada di sisiku. Sepertinya dia memang tidak mau memberikan aku kesempatan lagi.


"Tidak ada apa-apa, Bunda. Hanya saja mungkin kami memang tak bisa bersama," jawab Nara tersenyum kecut. Kukira dia akan menceritakan tentang aku dan Mona pada Ayah dan Bunda. Tetapi jawaban Nara seperti membuat aku sadar bahwa aku akan kehilangan sosok wanita terbaik ini.


"Kalau tidak kenapa-kenapa, kenapa harus berpisah?" tanya Bunda. "Nara, Bunda tahu pasti ada alasan kenapa kalian mau berpisah. Ayo katakan pada Bunda, apa masalah kalian. Biar kita selesaikan bersama," ucap Bunda yang tak mampu menahan lelehan bening di pipinya.


"Bunda." Mulut Nara seperti bungkam dan sulit mengeluarkan kata-kata.


"Ini semua salah Bintang, Bunda," sahutku cepat. Aku tidak mau Ayah dan Bunda beranggapan bahwa ini keinginan Nara. Walau bagaimanapun istriku sama sekali tidak bersalah dalam hubungan kami.


"Salahmu?" Alis Ayah saling bertautan. "Apa yang sudah kamu lakukan, Son?" tanya Ayah menatapku penuh selidik.


"Bintang memasukan Mona di rumahtangga kami," jawabku dengan suara terasa tercekat.


Tampak Ayah dan Bunda saling melihat satu sama lain. Mereka berdua pasti syok ketika mendengar semua penuturan dan pengakuan ini karena yang mereka tahu Mona berada di luar pulau Kalimantan dan berkuliah. Aku memang sengaja menyembunyikan keberadaan Mona karena aku takut jika Ayah berbuat nekad dan menyakiti wanita tersebut.


"Kenapa kamu melakukan ini, Son?" tanya Bunda.


Kulihat semburat kekecewaan di wajah ayu nan lembut itu. Baru kali ini aku melihat Bunda kecewa. Baru kali ini kulihat air mata menetes di pipinya setelah menikah dengan Ayah. Air mata itu di sebabkan oleh keegoisanku sendiri.

__ADS_1


"Maaf, Bunda." Aku menunduk.


Sementara Nara hanya diam saja. Sama halnya seperti Bunda dia juga kecewa. Walau aku jelaskan bagaimanapun mereka dia mereka takkan mau lagi mendengarkan apa yang aku dengarkan.


"Nara," panggil Ayah.


"Iya Ayah?" Nara menatap Ayah.


"Maafkan Ayah ya," ucap Ayah merasa bersalah. "Maafkan Ayah yang gagal menjadi orang tua dan membawa Bintang ke jalan yang benar. Ayah tidak melarang jika kamu ingin berpisah dengannya," jelas Ayah pada menantunya.


Air mata yang tadi kutahan seketika menetes membasahi pipi. Kugelengkan kepala berulang kali serta menolak perpisahan yang terjadi ini. Aku tidak mau Nara pergi, aku ingin Nara tetap di sini bersamaku dan menemani.


Kuarahkan pandangan pada Ayah dan Bunda yang sama-sama kecewa setelah mengetahui apa yang aku lakukan pada istriku. Biasanya Ayah akan membela atau memberikan aku sedikit kelonggaran dan wewenang jika sedang bermasalah. Tetapi kali ini dia benar-benar seperti tak mampu lagi menahan emosi dan amarahnya.


"Iya, Ayah. Nara minta maaf karena belum bisa menjadi menantu terbaik buat Ayah dan Bunda. Tapi walau Nara dan Mas Bintang sudah tidak bersama. Ayah dan Bunda tetap orang tua Nara," sahut istriku dengan senyuman manis.


Andai bisa, aku tidak ingin mengenal yang namanya cinta. Andai bisa aku ingin mengulang semua kisah di waktu yang lama. Sebab jatuh hati pada Nara membuatku tak bisa benar-benar berlari. Aku mengejarnya bersama desau angin, pada malam-malam dingin, pada ketidaksanggupanku menumpasnya, di kepalaku berharap dia mengepal rindu. Dia menenggelamkan diri di sudut dadaku berkali-kali. Merasuk menjelma bayang-bayang yang menyiksa diriku setiap kali ingin pulang. Aku tak pernah bisa berjalan lebih jauh, sebab sampai saat ini masih saja di kepalaku harap tentangmu yang utuh.


"Nara," panggilku.


Aku berlutut di depan Nara. Aku tak peduli dengan harga diri. Saat ini yang ku inginkan dia memberikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki segala sesuatu yang telah terjadi.

__ADS_1


"Aku mohon jangan tinggalkan aku. Berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku mencintaimu, Nara."


Bersambung...


__ADS_2