Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Mantan (Menatap hati dan perasaan)


__ADS_3

"Bagaimana masalah rumah sakit? Kenapa bisa ada obat-obatan tersebut masuk?" cecarku.


Galaksi menghela nafas panjang sambil duduk di sofa. Sepupuku yang satu ini juga masih betah dalam kesendirian. Usia kami hanya beda 5 tahun saja. Jadi, Galaksi juga sudah cukup tua dan kami sama-sama dokter.


"Hem, entalah. Aku rasa ada orang yang sengaja ingin menjebak kita, Tang," jawab Galaksi.


"Ck, panggil Kakak atau mas. Aku lebih tua darimu," protesku.


"Dih, apa bedanya. Sama-sama tidak laku 'kan." Galaksi tergelak.


Kami memang seperti ini kalau sudah bertemu. Sifat Galaksi sangat jauh berbeda dari Om Fajar yang dingin dan irit bicara. Pria playboy yang hobby bergonta-ganti pacar ini belum laku walau memiliki pacar di mana-mana.


Sejenak kami berdua terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing adalah pilihan sendiri.


"Masih memikirkan Nara?" tebak Galaksi.


Kuhela nafas sepanjang mungkin. Di saat aku benar-benar ingin melupakan Nara kenapa malah ada lagi yang membahas tentang wanita tersebut? Apakah tidak bisa orang membiarkan aku hidup tenang tanpa perasaan bersalah seperti ini.


"Kak." Galaksi memegang pundakku. "Kalau masih cinta perjuangkan. Kalau sudah tak cinta lupakan. Jangan menyiksa diri sendiri dengan perasaan yang tak pasti," sambungnya.


Entalah, bagaimana bisa aku lupa jika semua orang seperti berusaha mengingatkan aku kembali pada kenangan menyakitkan di masa lalu?


Aku diam saja. Bingung mau jawab atau respon apa.


"Kakak, aku sudah siapkan makan siang. Makan dulu. Nanti agak sore kita ke rumah sakit. Aku mau tidur sebentar," pamit Galaksi sambil menguap beberapa kali.


"Dih, mau tidur." Kulempar bantal kearah Galaksi.


"Aku mengantuk, Kak. Semalam tidak tidur gara-gara Papa yang mengomel seperti rel kereta api," jelas Galaksi.


"Itu karena kamu suka gonta-ganti pacar. Awas terkena HIV," ucapku setengah menakut-nakuti.


"Cih, aku memang suka celap-celup semua lobang, Kak. Tapi aku tidak sembarangan," sahut Galaksi membela diri.


Jangan heran jika aku tahu kebiasaan adikku karena dulu beberapa wanita datang ke rumah hanya untuk meminta pertanggungjawaban dari Galaksi.

__ADS_1


"Iya sudah tidur sana. Kakak mau membersihkan diri dulu." Aku berdiri dari dudukku.


"Makan siang dulu, Kak. Kakak itu kurus gara-gara makan hati terus," ucap Galaksi berjalan masuk dengan cepat ke dalam kamarnya sebelum aku mengamuk.


Dasar adik lucnut! Bukannya menghibur, dia malah mengejek dan mengolok.


Aku berjalan masuk ke dalam kamarku dulu. Ya, kamar masa kecilku dan aku gunakan serta pakai hingga dewasa. Kamar ini sudah beberapa kali di renovasi, mulai dari cat yang di ulang-ulang beberapa kali serta interior yang lainnya.


.


.


"Kakak aku mau ini," pinta Auny.


"Ambil saja mana yang kamu mau," ucapku.


Aku, Auny dan Galaksi sedang belanja. Entah apa saja kerja Galaksi sehingga di rumah tidak ada bahan makanan sama sekali. Dia biasa makan dan pesona dari Go Food, sehingga tidak tahu jika tidak ada stok makanan di kulkas.


"Uny, jangan ambil banyak-banyak. Nanti tidak kamu makan, malah di buang lagi," tegur Galaksi.


Aku tak peduli dengan perdebatan Galaksi dan Auny, mereka memang begitu selalu saja rusuh. Sebenarnya tidak jauh beda dengan aku dan Bee yang juga kadang-kadang suka rusuh jika beda pendapat.


Aku memilih daging-daging segar yang sudah teruji higienis. Terbiasa belajar dari Bunda jadi aku juga mandiri dan sedikit bisa masak walau hanya untuk diriku sendiri.


"Mas Bintang."


Aku terkejut ketika ada yang memanggil namaku. Aku menoleh.


"Shaka," balasku.


Shaka berjalan kearahku. Dia masih memakai seragam sekolah. Sepertinya dia baru pulang sekolah.


"Mas, kapan datang?" tanya Shaka.


Jika adik Nara yang lain menatapku benci dan dingin, maka berbeda dengan Shaka yang selalu hangat padaku.

__ADS_1


"Kemarin," jawabku. "Kamu apa kabar? Bagaimana kabar Daddy dan Mama?"


Setelah bercerai dengan Nara kami benar-benar lost kontak. Aku bahkan tak pernah bertanya kabar melalui media sosial. Apalagi kalau sudah sibuk bekerja jadi tidak sempat walau hanya untuk bertukar kabar. Lebih tepatnya aku memang mengurangi diri terhadap media sosial dan fokus pada pekerjaan serta apa yang ingin aku dapatkan di depan.


"Baik, Mas," jawab Shaka. "Mas ada waktu tidak? Shaka ingin bicara penting sama Mas," sambung Shaka.


Aku keningku mengerut, apa yang ingin Shaka bicarakan denganku.


"Ada."


Aku dan Shaka menuju cafe yang tidak jauh dari tempat kami berbelanja. Entah apa yang akan Shaka bicarakan denganku. Jujur saja hal tersebut membuatku sedikit penasaran. Apa ini masalah Nara? Apa Nara baik-baik saja? Apakah aku masih pantas memikirkan mantan istriku sendiri?


"Kamu mau bicara apa Shaka?" tanyaku.


Shaka tampak menghela nafas panjang. Lalu menatapku. Semburat kekhawatiran dan kecemasan terlihat jelas dari tatapan mata sendunya. Ada apa sebenarnya? Kenapa aku sangat penasaran dengan semua ini?


"Kak Nara, Mas," jawab Shaka.


"Ada apa dengan Nara? Apa Kakak baik-baik saja?" cecarku. Aku tak peduli jika di katakan tak pantas peduli atau bertanya tentang mantan istriku. Aku tak bisa menyembunyikan rasa khawatir dan panik.


"Entahlah, Mas. Shaka tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya sama Mas. Sebenarnya Kak Nara tidak mau orang lain tahu masalahnya. Tetapi Shaka masih berharap Mas sama Kak Nara kembali bersama karena Kak Rimba bukan laki-laki yang baik buat Kak Nara," jelas Shaka yang jelas membuatku tak mengerti. Bagaimana bisa kami kembali bersama jika Nara saja enggan menatapku dan baginya aku hanyalah sosok yang ingin dia lupakan dan terlupakan dalam bayang-bayang.


"Maksud kamu apa Shaka? Ayo jelaskan sama Mas, apa sebenarnya yang terjadi?" desakku.


"Mas, Kak Nara tidak bahagia bersama Kak Rimba. Kak Nara itu tersiksa. Kak Rimba terus menekan dan mengekangnya sementara Kak Rimba dekat dengan Putri seperti suami istri. Kak Nara ingin melepaskan Kak Rimba tetapi Kak Rimba tidak mau dan mengatakan mencintai Kak Nara. Kakak tersiksa, Mas," adu Shaka.


Aku tahu harusnya tak perlu ikut campur masalah mantan istriku. Kami sudah tak memiliki hubungan apapun. Bahkan sekarang kami tak lebih dari orang asing yang tak saling kenal jauh. Tetapi kenapa saat mendengar dia di perlakukan seperti itu rasanya aku tidak terima?


"Kak Rimba sering main tangan dan menampar memukul tubuh Kak Nara, Mas. Bahkan Daddy sudah pernah lapor polisi tapi sampai sekarang Kak Rimba masih saja meneror Kak Nara dan tidak mau melepaskan Kak Nara. Semua itu karena Kak Rimba salah paham ketika Kakak ketemu sama teman lamanya."


Deg


Apa Rimba menyiksa Nara? Apa Rimba sejahat itu? Katanya dia cinta kenapa malah menyakiti? Bukankah jika cinta harusnya membahagiakan.


"Tolong Kak Nara, Mas. Kakak masih mencintai, Mas. Dia tidak pernah mencintai Kak Rimba."

__ADS_1


Bersambung. ..


__ADS_2