Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Cemburu


__ADS_3

Mira turun dari ranjang dengan wajah kusut dan mata bengkaknya. Dia masih menangisi lelaki yang menjadi mantan kekasihnya tersebut. Kadang dia berpikir, kenapa sulit sekali melupakan lelaki tersebut?


"Hayolah, Mira. Ini sudah lebih dari 10 tahun harusnya kau sudah melupakan laki-laki sialan itu," geram Mira pada dirinya sendiri.


Wanita itu menuju kamar mandi. Setelah ini sarapan dan berangkat kerja, seperti biasa. Setiap pagi dia akan mendapatkan ceramah baru dari sang ibu yang selalu sama mendesaknya menikah.


"Apa aku coba saja membuka hati untuk, Rick?" gumamnya. "Lagian harapan untuk meluluhkan hati Kapten Divta sepertinya mustahil," keluh Mira.


Dia berjalan keluar dari kamarnya. Mira selalu bangun kesiangan karena malamnya dia nonton drakor sampai pagi.


"Pagi Pa. Pagi Ma," sapa Mira.


"Pagi juga, Nak," balas Marvel.


"Mira, coba kau itu sesekali bangun pagi bantu Mama siapkan sarapan," omel Yanti, belum juga anak perempuannya itu duduk sudah di omeli.


"Kan ada Bibi yang bantu," sahut Mira.

__ADS_1


"Iya, kau harus belajar. Supaya nanti setelah menikah kau terbiasa," jelas Yanti memberikan pengertian.


Mendengar kata menikah membuat nasi yang di telan Mira serasa ingin keluar kembali. Dia paling benci kata tersebut, yang menikah saja banyak bercerai. Kenapa yang belum menikah malah di tanya dengan pertanyaan tak bermutu tersebut?


"Pa, Ma. Aku berangkat dulu," pamit Mira.


"Lho, sarapan mu belum habis Mira," sergah Yanti.


"Buat princess saja, aku sudah kenyang," cetus Mira.


Bagaimana dia mau makan kenyang, nasi belum masuk saja sang ibu sudah mengomel panjang lebar seperti rel kereta api. Wanita itu masuk ke dalam mobil, lalu menghela nafas panjang.


Mira menyalakan mobilnya lalu meninggalkan rumah mewah tersebut. Sejak Ara menikah dengan Dante, dia merasa kesepian walau sesekali berkunjung ke rumah sahabatnya itu untuk melihat bayi munggil Ara.


"Andai aku menemukan pria seperti Pak Dante yang sempurna seperti rokok," gumam nya berceloteh sendiri. "Sudah sekian lama aku menjomblo tetapi kenapa nama lelaki itu masih saja ada?" gerutunya.


Mobil Mira berhenti tepat ketika lampu mereka, jalanan sepagi ini saja sudah macet. Apalagi kalau siang menjelang sore ke malam, bisa berjam-jam dia menunggu di dalam mobil.

__ADS_1


Tak sengaja wanita itu melirik kearah kanan, dia terkejut ketika melihat Rick bersama seorang wanita di dalam mobil dan tampak mengobrol hangat sambil tertawa lebar tanpa beban.


"Bukannya itu si brondong?" gumam Mira. "Cih, katanya mau memperjuangkan, tapi malah menempel pada betina yang lain," cibirnya.


Mira tampak kesal, apakah dia cemburu? Wajahnya terlihat tak suka ketika melihat Rick yang tertawa lebar seperti itu. Padahal pria tersebut yang meminta dia membuka hati untuknya, tetapi kenapa Rick yang malah berpaling.


"Semua laki-laki sama saja," ucapnya kesal.


"Mira," panggil Rick dari dalam mobil sambil melambaikan tangannya.


Wanita itu tak menjawab, dia melajukan mobilnya tepat setelah lampu merah berganti hijau.


"Dasar brondong gatal. Kata Papa itu calon suami terbaik, dih malah kencan dengan perempuan lain," omel Mira.


Mira sangat kesal, apalagi melihat Rick yang begitu bahagia. Mira tak pernah melihat lelaki tersebut sebahagia itu saat bersamanya, apalagi menghadapi sifat Mira yang suka marah-marah.


"Huh, aku tidak akan mau bertemu pria itu lagi," ucap Mira.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2