Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Kita yang Berbeda.


__ADS_3

"Tari," panggil Rein.


Langkah kaki Mentari dan Shierra terhenti ketika mendengar lelaki itu memanggil namanya. Mentari menoleh kearah Rein seraya menghela nafas panjang.


"Tari, kamu....." Rein menormalkan detak jantung dengan nafas yang tersengal-sengal karena dia setengah berlari mengejar Mentari.


"Kenapa, Kak?" tanya Mentari menatap lelaki itu.


"Kamu sudah li_"


"Sudah, Kak. Tadi di kasih tahu sama Shierra," potong Mentari cepat. Shierra menyenggol lengan temannya itu.


"Jangan salah paham," ucap Rein menatap gadis itu supaya tak salah paham. Dia belum siap jika Mentari menjauh darinya. "Anggap saja omongan mereka angin lalu," sambungnya.


Mentari mengangguk paham karena dia tak mau memperpanjang masalah. Hidupnya sudah banyak masalah, belum lagi menghadapi orang tua Divta yang selalu memojokkan dirinya karena miskin.


"Iya sudah Kak, kalau begitu aku masuk kelas dulaun," pamit Mentari.


"Tari, tunggu." Rein mencengkram tangan gadis itu.


"Kenapa lagi, Kak?" tanya Mentari yang mulai jenggah. Dia benar-benar tak nyaman ketika namanya viral di kampus hanya karena foto tersebut. Entah siapa yang menyebarkan foto dirinya berada di rumah Rein? Perasaan Mentari sama sekali tidak mengambil satu foto pun di sana.


"Mama mau mengundang kamu ke acara ulang tahunnya Minggu depan," ucap Rein. Dona memang menyukai sosok Mentari yang apa adanya dan berharap gadis itu benar-benar menjadi pendamping hidup Rein.


Mentari tampak berpikir, dia merasa tidak sederajat dengan keluarga Rein yang sempurna dan kaya raya itu. Sedangkan dirinya hanya gadis kampung yang menemukan peruntungan dan bisa kuliah di kota.


"Sudah, Tari. Terima saja," bisik Shierra di telinga sahabatnya itu.


Mentari menarik nafasnya dalam sebelum menjawab.


"Nanti aku pikirkan, Kak," jawab Mentari. "Ya sudah, Kak. Aku masuk kelas. Ayo, Ra." Dia menarik tangan Shierra yang masih menganggumi ketampanan Rein.


Rein menatap punggung Mentari. Lelaki berjas putih tersebut tersenyum simpul. Dia tidak akan menyerah memperjuangkan cintanya pada Mentari. Menurutnya gadis itu adalah makhluk langka yang harus di lestarikan.

__ADS_1


"Kamu akan jadi milikku, Tari," gumamnya dengan percaya diri.


.


.


Divta dari tadi menunggu di depan kampus Mentari. Lelaki itu takut jika Rein memiliki kesempatan untuk mendekati kekasih kecilnya. Sampai kapanpun dia tidak akan memberikan Rein celah untuk menyusup masuk ke dalam kehidupan Mentari.


"Bagaimana lagi cara aku meyakinkan Mama tentang Tari," desah Divta.


Lelaki itu memijit-memijit pelipisnya yang berdenyut. Mentari adalah gadis pilihan terakhir dalam hidupnya dan dia akan perjuangkan sampai titik darah penghabisan. Tak peduli siapa yang akan kalah di pertandingan ini nantinya.


"Hah, Tari." Dia masih mendesah. "Kenapa aku tak bisa sama sekali menghilangkan bayanganmu dari kepalaku," keluhnya.


Divta turun dari mobil, seperti biasa dia masih memakai seragam lengkap dengan atribut-atribut yang menempel di beberapa bagian bajunya entah itu tanda jabatan atau ada fungsi lain. Kecuali topi yang sengaja dia lepaskan.


"Tari," panggilnya berjalan kearah Mentari sebelum gadis itu naik ke atas motornya.


Mentari terkejut melihat kedatangan Divta. Gadis itu melirik sekitarnya takut ada yang salah paham saat melihat Divta. Untung saja suasana kampus sudah sepi dan beberapa mahasiswa memang sudah pulang.


Gadis itu kembali mengingat ucapan Melly semalam. Hatinya lagi berdenyut sakit, betapa terhinanya dia di mata majikannya tersebut. Memang dia yang salah karena jatuh cinta pada orang yang sudah pasti tidak akan pernah menjadi miliknya.


"Pulang sama saya," ajak Divta.


"Saya bawa motor, Pak," tolak Mentari yang enggan melihat wajah Divta. Dia tidak mau perasaannya semakin dalam nantinya.


"Tinggalkan saja besok baru ambil. Saya mau bicara sama kamu." Lelaki itu menarik tangan Mentari.


"Ehh Pak_"


Mentari tak bisa protes ketika Divta menarik tangannya serta membuka pintu mobil agar gadis kecil itu masuk ke dalam sana.


Mentari duduk di samping kemudi seraya menghela nafas panjangnya. Apa lagi yang Divta inginkan padanya? Lelaki ini memang sudah menganggap dia sebagai seorang kekasih. Tetapi Mentari belum memberikan jawaban masalah perasaannya.

__ADS_1


Divta masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya. Sedangkan Mentari diam saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hari ini cukup menguras emosi apalagi dirinya di interogasi oleh semua mahasiswi di kampus karena kedatangannya di rumah Rein.


"Kenapa diam saja? Apa hari ini bertemu Rein?" Divta memincingkan matanya curiga pada gadis tersebut.


Mentari mendelik lalu melirik kearah Divta. Dia lelah ingin menjelaskan betapa lelahnya dia saat ini.


"Pak, sebaiknya Bapak jauhi saya. Hubungan kita tidak mungkin bisa berlanjut," jelas Mentari.


Sontak saja Divta menginjak rem secara mendadak. Dia menatap Mentari yang juga melihat kearahnya dengan mata berkaca-kaca. Apa maksud gadis ini yang meminta dirinya menjauhi Divta? Bagaimana bisa gadis ini memintanya pergi menjauh?


"Apa maksud kamu?" tanya Divta yang masih tak mengerti, dia menatap Mentari sambil menggelengkan kepalanya.


"Pak, kita ini berbeda. Apa Bapak sadar? Kita tidak mungkin bersama," jelas Rhaina dengan mata berkaca-kaca. Harusnya dia sadar diri sejak dulu sebelum perasaannya benar-benar menggebu.


"Saya tidak peduli kita berbeda, Tari. Saya mencintai kamu. Sangat mencintai kamu. Saya tidak mau menjauh," jelas Divta tegas. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah mau berpisah dari Mentari. Baginya Mentari adalah sosok yang begitu dia rindukan selama ini.


"Tapi saya peduli Pak, saya tidak mau Bapak bersanding dengan gadis miskin sepertinya saya," jelas Mentari lagi seraya menyeka air matanya dengan kasar.


Divta menangkup wajah Mentari dia menatap dimana bola mata indah yang mampu menariknya masuk ke dalam imajinasi.


"Mentari, jangan katakan apapun. Saya tidak mempermasalahkan kamu siapa. Mau kampung gadis kampung atau gasis kita, saya mencintai kamu tulus apa adanya. Saya mohon jangan pernah pergi dari hidup saya," mohon Divta yang tanpa sadar juga mengeluarkan air matanya. Dia merasa sudah menemukan wanita yang tepat maka dari itu dia tidak akan membiarkan perasaan yang ada ini hilang dalam kesunyian.


"Pak_" Air mata Mentari menetes dengan deras.


Divta merengkuh tubuh kecil kekasih itu. Perasaannya sekarang tak main-main. Jadi, untuk kali ini Divta akan berjuang keras untuk cinta yang akan memilikinya.


"Hiks hiks hiks hiks."


"Kita berbeda, kita tidak mungkin bersama. Tolong lepaskan saya, Pak. Saya tidak mau Bapak mau punya kekasih seperti saya," mohon Mentari sambil memukul-mukul dada Divta berulang kali.


Namun, Divta malah memeluk wanita itu dengan erat tanpa peduli dengan Mentari yang memberontak. Perasaan Divta pada gadis yang ada di pelukannya ini menggebu-gebu. Bahkan perasaan ingin memiliki yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Tidak. Saya tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun, kamu adalah milik saya," tegas Divta semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2