
"Mas Angga."
Mulutku masih kaku dan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Rasanya tenggorokanku tercekat ketika mendengar penjelasan dari Auny. Apakah benar begitu?
"Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Kak Naro dan Arin. Selama ini Arin selalu mengatakan bahwa kalian baik-baik saja. Bahkan Arin tidak pernah cerita jika dia di usir dari rumah oleh keluarganya." Auny menatap kami sinis dengan tangan yang terlipat di dada.
"Kami mengetahui sendiri, jika selama ini Kak Naro memperlakukan istrinya dengan tak baik." Aku menunduk malu. Bukankan tersebut memang benar dan aku sama sekali tak menyangkal.
"Aku juga terkejut ketika Kak Galaksi mengatakan bahwa Arin menderita kanker rahim," lirih Auny. "Stadium lanjut," sambungnya lalu menatap Mas Angga yang masih terpejam.
"Dia menyembunyikan penyakitnya pada semua orang termasuk kami, Kak. Kami mengetahui semua itu karena tak sengaja menemukan hasil pemeriksaan dari rumah sakit," jelas Auny menyeka air matanya.
"Arin tidak mau semua orang kasihan padanya bukan karena peduli. Selama ini, dia berusaha kuat."
"Dan asal kalian tahu, Arin bisa saja sembuh jika dia membunuh bayi dalam kandungannya. Tetapi dia tidak mau, dia lebih memilih berkorban daripada kehilangan anaknya."
"Perjuangan Arin tidak mudah. Tetapi kalian manusia-manusia berdosa bersikap seolah kalian paling suci dari yang lain. Kalian menyakiti hati Arin. Kalian melukainya. Tetapi dia tidak pernah sama sekali membenci kalian."
Aku langsung tersungkur di lantai sambil menutup wajahku dan menangis dengan hebat. Air mata yang meleleh bukan kepalsuan tetapi sebuah penyesalan yang menghantam dadaku.
"Kak Naro." Auny menatapku. "Apa Kakak tahu, Arin sangat mencintai Kakak. Arin selalu berharap ada hari di mana Kakak menerima dia sebagai istri. Tetapi setelah dia tahu dirinya sakit, dia mengubur semua impiannya. Hanya satu yang dia minta, anaknya lahir dengan selamat. Walau mungkin harus mengorbankan nyawanya."
__ADS_1
Tidak. Aku menggeleng menolak hal tersebut. Tolong jangan ambil Ariana. Izinkan aku menebus semua kesalahanku padanya.
"Auny, tolong katakan di mana Arin. Tolong!" pinta Al berlutut di depan kaki Auny. Dia menurunkan gengsi dan egonya agar Ariana kembali lagi ke dalam pelukan kami.
"Abang Tampan, sudah aku bilang. Arin berada di tempat yang paling jauh dari jangkauan orang-orang. Kalian tidak akan bisa menemukannya. Ya aku berharap memang begitu, aku takut kalian semakin menyakiti Arin. Seharusnya kalian puas pencoreng nama baik dan wanita murahan itu sudah oeghi meninggalkan kalian."
Setelah berkata demikian, Auny melenggang meninggalkan kami bertiga di dalam ruangan rawat Mas Angga. Dia keukeh tidak mau mengatakan keberadaan istriku.
Jeritan dan raungan tangis menggema memenuhi ruangan Mas Angga. Kami bertiga seolah tak peduli lagi dengan suara dentingan pendetak jantung yang keluar dari layar monitor tersebut.
"Arin, maafkan aku. Maafkan aku, Arin. Aku mohon jangan pergi."
Aku memukul kepalaku berulang kali. Ini semua salahku. Jika saja aku berusaha mengambil hikmah dan sisi baik dari semua kejadian ini. Ariana tidak akan pergi meninggalkan aku.
Dulu, aku tahu jika istriku adalah emas permata di tengah keluarganya. Dia hidup dalam kemewahan dan kasih sayang orang tua yang penuh. Tak hanya itu, dia di jaga bak telur yang tidak boleh pecah walau pada akhirnya telur itu seketika di timpa oleh balok sehingga menjadikannya tak berbentuk. Saat itulah dia kehilangan hidupnya yang baik. Semua membencinya termasuk aku. Padahal harusnya sebagai seorang suami, aku menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi pada Mas Angga.
Mas Angga juga sangat mencintai Ariana. Dia memperlakukan wanita itu dengan baik dan mengabulkan semua perlindungan istriku. Namun, aku tidak pernah tahu jika menjelang hari pernikahan dia mengalami kecelakaan. Pantas saja waktu itu, Daddy dan Mama keukeh meminta aku menikahi wanita tersebut.
"Mas Angga." Aku menatap wajah Mas Angga. "Kenapa kamu tidak bilang dari awal, Mas? Maafkan aku yang tidak bisa menjaga calon istri dan calon bayimu. Bangun, Mas. Kita cari Arin sama-sama. Ayo bangun," desakku menguncang lengan Mas Angga dan berharap dia bangun lalu mendengarkan semua keluh kesah dan perasaanku.
"Ke mana kita harus cari Arin, Kak? Aku takut terjadi sesuatu padanya," ucap El yang masih menangis segugukan.
__ADS_1
"Tidak ada cara lain, kita harus desak Auny agar mengatakan keberadaan Arin," saran Al.
Aku tahu Auny orang yang keras kepala. Sekali saja dia mengatakan tidak, maka tidak akan mudah untuk bisa merayunya kembali. Dia sulit sekali di taklukan.
Maaf, aku sudah melukai istriku. Namun, sungguh aku tidak ingin kehilangannya. Aku ingin bersabar untuk menemukannya. Beri aku kesempatan sekali lagi untuk membuktikan bahwa aku menyesal karena telah menyakiti hati dan perasaannya. Dia memang bukan orang yang teramat aku cintai. Dia bukan seseorang yang kuinginkan ada menemani. Tetapi kenapa? Saat dia tidak ada separuh jiwa seolah pergi meninggalkan raga yang rapuh. Sepanjang hidup, sebanyak hari-hari yang ingin di lalui. Aku ingin Arin tetap berada di sampingku untuk menikmati setiap hembusan napas yang keluar membelakangi tangis.
"Kita harus secepatnya menemukan Arin, Kak," ucap El lagi.
Jika bisa aku bahkan ingin menemukan dia sekarang. Tetapi ke mana? Aku tidak tahu keberadaannya? Aku tidak tahu kondisinya saat ini? Aku tidak tahu bagaimana raut wajahnya. Dia pasti menderita karena semua yang terjadi menyumbat indera perasanya.
"Semoga Arin baik-baik saja. Aku akan menyesal selama hidup jika tak menemukan dia. Aku menyayanginya. Aku hanya kecewa. Tetapi aku tak pernah membenci adikku."
Kami bertiga masih saja bergumam di dalam ruangan rawat inap Mas Angga. Seolah sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Berharap keajaiban terjadi dan membawa kami menemukan Ariana kembali walau akan sulit mendapatkan maaf dari istriku tersebut.
Aku ingin menjalani kisah yang seimbang. Perasaan yang terbalas. Bukan rindu yang terhempas kandas. Bukan juga dusta-dusta yang disamarkab melalui rayuan-rayuan culas. Aku kepala dia, adalah pulangnya perasaan kepada rindu. Aku kepada dia, adalah jalan menuju rumah sebab paham apa yang dituju. Kami adalah langkah-langkah yang terencana atau yang mencoba berjalan bersama meski belum tahu akan ke mana. Tidak ada yang menjadi ketakutan dia selalu bisa menenangkan. Tak perlu lagi dia cemaskan, sebab hatiku sudah dia menangkan.
Tetapi semua sudah terlambat bukan. Apalah lagi arti dari sebuah penyesalan jika seseorang yang di cintai malah pergi meninggalkan? Bukankah semua percuma dan anak menjadi sebuah kesia-siaan nanti? Aku ingin mengulang semua kasih yang sama bersama dia. Kisah yang masih berpihak pada kami. Walau kala itu aku adalah seseorang yang tak memiliki harga dan rupa.
"A-ar-in!"
Kami semua menoleh kearah brangkar.
__ADS_1
"Mas Angga."
Bersambung...