Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Patah hati


__ADS_3

Mira masuk ke dalam rumah dengan air muka yang tampak sendu. Bagaimanapun tak ada orang yang siap saat dipertemukan dengan masa lalunya. Rasa sakit itu, kembali mengiris partikel-partikel yang sudah lama ingin dia sembuhkan.


"Kau sudah pulang, Nak?" tanya Marvel menyambut putrinya.


"Iya, Pa," jawab Mira malas.


"Bagaimana pesta-nya, ramai?" sambung Yanti dengan wajah sumringahnya. Dia senang karena akhirnya Mira mau membuka hati untuk orang lain.


"Biasa saja," jawab Mira malas. "Aku ke kamar dulu," pamitnya.


Marvel dan Yanti saling melihat, tak biasanya Mira galau dan cuek seperti itu. Wanita itu selalu mencari masalah dan ada-ada saja yang dia perdebatkan dengan sang ibu. Tetapi malam ini dia berubah seratus delapan puluh derajat.


"Pa, perawan tua itu baik-baik saja 'kan?" tanya Yanti heran dan juga bingung. Dia sudah terbiasa berdebat dengan Mira, saat melihat anak perempuannya itu diam saja seperti ada yang hilang.


"Dia baik-baik saja. Mungkin hanya sedang tidak ingin di ganggu," jawab Marvel asal dan menyibukkan diri dengan buku bacaan di tangannya.


Marvel adalah pria pensiunan, di mantan kepala sekolah pada masanya. Untuk menikmati masa pensiunnya, dia menghabiskan waktunya bersama sang istri.


"Apa mungkin dia sedang bermasalah dengan Rick?" tebak Yanti.


"Sudahlah, Ma. Biarkan Mira selesaikan masalahnya sendiri. Lebih baik Mama buatkan Papa kopi," sergah Marvel yang jenggah mendengar istrinya mengomel.


"Dih, Papa."


Yanti menghentakkan kakinya kesal. Dia berjalan menuju dapur sambil menggerutu dengan mulut komat-kamit seperti dukun baca mantra.


Marvel tersenyum sambil geleng-geleng kepala salut. Hampir 35 tahun menikah, tentunya dia sudah mengenal seperti apa sifat istrinya. Namun, Marvel tak pernah merasa bosan justru dia merasa baru menikah jika karena keberisik kan Yanti lah yang membuatnya semakin mencintai istrinya itu.

__ADS_1


.


.


Mira mengunci kamarnya. Wanita itu bersandar di balik pintu, lalu bersandar lemah. Air mata yang tadinya dia tahan dengan susah payah menetes membasahi pipinya.


Semua kenangan bersama lelaki tersebut seperti terekam kembali di dalam ingatan Mira. Bertahun-tahun dia berusaha lupa. Bertahun-tahun dia berusaha menghapus semua kenangan itu. Tetapi lelaki yang ingin dia lupakan justru kembali datang dan membasahi luka yang belum sembuh.


Lelaki itu adalah cinta pertamanya. Lelaki baik hati yang memperlakukannya bak ratu, menyayanginya dan memberikan semua yang dia butuhkan tanpa Mira minta. Namun, siapa sangka jika pria itulah yang menanamkan luka paling dalam dihatinya. Hingga membuat dia mati rasa dan sulit percaya pada kata cinta.


Mira berdiri seraya menyeka air matanya dengan kasar. Dia berjalan menuju ranjang lalu melirik figura yang masih tertata rapi diatas nakas. Foto kenangan bersama Lintang yang hingga kini tidak bisa Mira buang.


"Kenapa, Tang? Kenapa kau datang lagi? Apakah kau tahu kehadiranmu akan semakin membuatku terluka?" lirih Mira mengambil foto tersebut.


Mira menangis hebat sambil memeluk foto itu. Cintanya pada Lintang tak bisa dia jelaskan atau di ungkapkan lewat kata-kata. Dia bahkan tak bisa gambarkan sebesar apa cintanya pada Lintang. Hal itulah yang membuat Mira tak bisa menghapus pria berkacamata tebal itu dari ingatannya.


Wajah ceria dan senyuman manis yang selalu dia tampilkan adalah cara menutupi semua kesedihan yang membelut luka di dalam dadanya. Tak ada yang benar-benar tahu sehancur apa wanita tersebut. Dia tak hanya hancur tetapi juga runtuh tak bersisa. Kepingan-kepingan hati yang terpisah-pisah tersebut, hingga kini belum bisa disatukan.


Dan kini sudah saatnya Mira menyadari satu hal. Bahwa dia benar-benar telah kehilangan cinta pertamanya. Lintang memang bukan lagi bagian terpenting dalam hidupnya. Semua yang pernah ia jaga, sudah menjadi sia-sia. Lelaki itu menjelma pergi dan tak kembali. Pria tersebut menjadi lain dan asing untuk hal-hal yang selalu Mira impikan. Lintang menjadi tertinggal dan tertanggal untuk sesuatu yang dengan susah payah dia tunggalkan. Hal-hal yang sungguh-sungguh dia perjuangkan.


"Kau benar-benar jahat, Tang. Kau jahat," teriak Mira.


Prang


Dia lempar foto tersebut hingga kaca yang melindungi figura itu pecah dan berserakan di lantai. Banyak kenangan yang tak bisa Mira buang dan barang-barang pemberian Lintang kini masih dia simpan dengan utuh. Dia selalu melihatnya ketika merindukan lelaki tersebut selama bertahun-tahun. Namun, sejak beberapa waktu terakhir dia tak pernah lagi melihat benda-benda tersebut. Tetapi dia masih enggan untuk membuang barang berharga yang masih dia jaga dengan baik itu.


"Hiks hiks hiks hiks."

__ADS_1


Wanita itu meringguk di atas ranjang sambil memeluk tubuhnya sendiri. Dia tak mengerti mengapa semua orang menyebutnya hanya sebagai patah hati, tetapi Mira ketika dia bangun dia merasakan bahwa tubuhnya rusak terpatah-patah.


.


.


Rick memarkirkan mobilnya. Pria bergelar komandan tersebut menghela nafas panjang. Ingin sekali dia bertanya, ada hubungan apa antara Mira dan Lintang di masa lalu? Kenapa kedua orang itu terlihat memiliki tatapan yang berbeda saat bertemu di pesta tadi.


"Ra, aku berjanji akan menghapus luka di hatimu. Tolong berikan aku satu kesempatan untuk menjadi pengganti orang di masa lalumu," gumam Rick.


Rick jatuh cinta pada Mira bahkan sebelum bertemu wanita itu. Ketika Marvel menceritakan Mira saja dia sudah tertarik dengan kepribadian Mira yang menurutnya sangat cocok dengan dirinya yang tak banyak bicara ini.


Lelaki tampan dan muda itu berjalan masuk ke dalam sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.


"Baru pulang Rick?" tanya sang ayah yang masih menonton bola di depan televisi.


"Iya, Ayah," jawab Rick duduk disamping ayahnya. "Tayangan ulang?" ujarnya.


"Sebagai hiburan," jawab pria paruh baya itu.


"Mana Bunda?" tanyanya lagi.


"Biasalah Bunda-mu. Habis mengoceh tidak jelas ya langsung tidur," sahut sang ayah terkekeh. "Kelihatan lelah sekali? Apa ada masalah? Bagaimana pendekatannya sama Mira?" cecar sang ayah.


Rick menghela nafas panjang. Seumur hidupnya, Mira termasuk wanita yang tak mudah di luluhkan. Biasanya sekali kedipan mata dirinya sudah di kejar seperti anjing mengejar tulang, apalagi saat memakai baju dinas. Tetapi, kali ini dia sudah mengeluarkan segala jurus untuk mendekati Mira. Tetap saja wanita itu hingga kini belum jatuh ke dalam pelukannya. Apalagi Mira yang lebih dewasa untuknya, jadi Rick harus menyesuaikan diri dengan wanita tersebut.


"Dia memiliki masa lalu, Yah," jawab Rick. Dia memang tidak tahu seburuk apa masa lalu Mira, tetapi dia bisa melihat dari tatapan wanita tersebut yang terkadang berbeda di saat bersamaan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2