Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Saudara


__ADS_3

Dengan percaya paling dalam. Aku telah memilihnya. Dan ingin jatuh cinta padanya di setiap waktu yang kupunya. Ingin menjadikan dia seseorang yang menyatu denganku dengan segala doa dan rencana-rencana. Aku ingin menjadikan dia teman paling bahagia. Kekasih hidup yang berteguh pada setia. Ada janji-janji yang harus di tepati. Bolehkah aku berharap ada yang memelukku, menenangkanku dalam keheningan malam. Genggam tanganku dalam gelap gulita. Biarlah waktu mengabadikan dalam asin dan asingnya hidup. Dalam manis dan pahitnya segala jalan yang dihadapi. Dalam doa dan puja kepada yang mahakuasa, aku dan dia dia sebutlah kami sepenuh usia.


"Kak."


Aku baru sadar jika dari tadi hanya diam melamun menatap kekosongan yang ada di depanku. Padahal suasana di cafe ini cukup ramai apalagi jam makan siang seperti ini.


"Ehh iya, Kenapa? Ada apa?" tanyaku melihat ketiga adikku secara bergantian.


"Kakak kenapa melamun sih?" tanya Tata.


"Kak, kalau ada masalah cerita sama kami. Siapa tahu kami bertiga bisa bantu," ucap Naro menggenggam tanganku dengan lembut.


Mataku berkaca-kaca melihat betapa pedulinya ketiga adikku padaku. Harusnya aku sebagai kakak yang mengayomi mereka tetapi ini malah terbalik.


"Kakak tidak apa-apa," kilahku.


Adik-adikku tak perlu tahu bahwa saat ini aku memang sedang rapuh dan tak baik-baik saja. Sudah cukup aku membuat mereka terpukul karena perpisahanku dengan Mas Bintang dan sekarang aku tak malu lagi membuat mereka cemas hanya karena hubunganku dan Kak Rimba.


Aku mencoba berpikir positif bahwa Kak Rimba memang tulus menolong Putri tanpa niat apapun. Semoga saja dia benar-benar hanya kasihan. Tetapi jika memang dia memiliki perasaan khusus pada mantan kekasihnya itu, aku bisa apa? Ini memang salahku yang tidak menyelidiki seperti apa masa lalu Kak Rimba setelah sekian tahun berpisah.


"Kakak sama Kak Rimba baik-baik saja 'kan?" tanya Tata menatapku penuh selidik. "Perempuan yang kemarin itu benaran hanya teman Kak Rimba, Kak? Kok Tata lihat mereka akrab banget," ujar Tata.


Secepatnya Naro menyenggol lengan Tata ketika adikku tersebut bicara asal keluar. Tata memang seperti itu, dia selalu tak mampu menahan apa yang ingin dia katakan. Mungkin almarhum mama-nya dulu memiliki sifat yang sama seperti Tata.

__ADS_1


"Itu temannya. Namanya Putri, anaknya sedang sakit dan_"


"Suaminya kemana, Kak? Kok Kak Rimba yang repot? Kayak Kak Rimba suaminya saja," potong Shaka dengan cepat dan ketusnya.


Aku menghela nafas panjang. Di antara ketiga adikku ini, hanya Naro yang tenang dan dewasa. Sifatnya memang dingin tetapi sangat kalem. Dan dia yang paling peduli dan selalu peka jika aku mengalami berbagai perasaan yang berbeda. Bahkan Naro menjadi tempat ternyaman untuk aku pulang. Aku merasa memiliki seorang kakak padahal dia adikku.


"Kak, apa Kakak baik-baik saja sama Kak Rimba? Atau Kak Rimba itu selingku?" sambung Shaka kepo. Padahal Shaka ini masih muda dan remaja harusnya dia tidak perlu mengurus masalah orang dewasa sepertiku tetapi sepertinya dia memang ingin tahu masalahku.


Sementara Naro menatapku dengan diam. Adik-adikku pasti melihat gerak-gerikku yang tak biasa makanya mereka sangat panik dan ingin membantuku menyelesaikan masalahku. Beginilah kami jika salah satunya memiliki masalah maka kami akan berkumpul satu sama lain dan mendiskusikan permasalahan kami.


"Kakak baik-baik saja kok. Kalian tenang saja. Kakak memang sedikit ada masalah dengan Kak Rimba. Tetapi dalam hubungan bukankah itu sudah biasa? Jadi kalian tidak perlu panik atau khawatir," jelasku berusaha menyakinkan bahwa aku tak apa-apa.


"Kak," renggek Tata manja sambil bersandar di lenganku.


Aku terdiam. Sekuat tenaga ku tahan air mata yang mulai menganak di pelupuk mataku dan ku tatap dengan sendu ketiga adikku secara bergantian. Hatiku benar-benar perih mengingat semua hal yang terjadi padaku.


Akhirnya aku kalah dan tangis ini pecah seketika. Aku tak kuat, aku tak mampu. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus pergi dan menyerah menghadapi perjalanan hidupku yang benar-benar tak kuinginkan ini.


"Kakak."


Mereka bertiga berhambur memelukku dan kami berempat saling bertangisan. Aku tahu jika ketiga adikku juga merasakan rasa sakit yang menikam dadaku dengan hebat.


Saat begini, aku kadang merasa takut menjalani semua ini dengannya. Saat kami menyibukkan dengan dunia sendiri. Aku sibuk dengan targetku, Kak Rimba sibuk dengan kepeduliannya pada Putri. Lalu, pelan-pelan kami menjadi longgar. Aku takut kalau ternyata kesibukan bisa melemahkan kami. Aku juga takut kalau ternyata waktu tidak selalu bersepakat dengan kami. Aku yang menjalani hari-hariku yang tidak selalu bertemu dia, lantaran dia yang menyibukkan diri dengan menjaga anak orang lain. Akankah kami sampai ke segala hal yang telah kami rencanakan. Apakah impian kami akan tetap sama selamanya.

__ADS_1


"Kakak jangan menangis," ucap Tata yang juga terisak.


Naro dan Shaka juga ikut menangis. Kami berempat saling bertangisan satu sama lain. Padahal ketiga adikku ini tidak tahu apa yang membuatku menangis.


Kurasakan usapan hangat di punggungku dari tangan Naro. Sementara Tata melingkarkan tangannya di pinggangku dan Shaka memelukku dari belakang. Kami tak sekandung tetapi kami saling mengasihi satu sama lain tanpa membedakan siapa kandung dan siapa yang bukan kandung.


"Kak."


Naro melepaskan pelukannya. Lalu dia seka air mataku dengan pelan. Begitu juga dengan Tata dan Shaka yang mengusap pipi basah mereka.


"Kakak, jika hubungan ini terlalu berat. Ayo lepaskan, Kak. Jangan paksa diri Kakak untuk mencintai lelaki yang tidak menghargai Kakak. Naro yakin suatu saat nanti Kakak akan menemukan lelaki yang tepat dan baik. Laki-laki yang bisa menghargai Kakak." Naro menangkup wajahku.


Apakah kali ini aku akan gagal kedua kalinya dalam hubungan? Apakah kali ini keberuntungan tidak berpihak lagi padaku?


"Kak Rimba bukan orang yang baik buat Kakak," sambung Naro. "Kalau dia baik, dia tidak akan meninggalkan Kakak demi wanita lain. Apalagi wanita itu pernah ada di masa lalunya."


Melepaskan Kak Rimba? Apakah aku bisa? Aku tidak tahu bagaimana perasaanku padanya. Tetapi melihat sikapnya yang seperti ini aku tidak yakin bisa mencintainya seperti aku mencintai Mas Bintang dulu.


"Iya, Kak. Kak Naro benar, jangan paksakan hati Kakak untuk seseorang yang tidak menghargai Kakak. Kakak akan tersiksa jika terus bertahan sama orang yang salah," sambung Tata.


Selama ini batinku memang sudah di siksa oleh dua lelaki yang berbeda. Mereka menurihkan luka di waktu yang beriringan. Setelah patah hati karena perpisahan dengan Mas Bintang, sekarang aku juga di patahkan dengan sikapnya Kak Rimba.


"Tinggalkan Kak Rimba, Kak!"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2